Prabu Susuk Tunggal
( Sang Haliwungan )
Lahir : ?
Gelar : Sang Haliwungan Inya Sang Susuktunggal Nu Munar Na Pakwan.
Raja Kerajaan Sunda ke - 33 : 1382 - 1482 M.
Orang Tua : ♂ Prabu Anggalarang (Prabu Niskala Wastu Kancana / Prabu Wangisutah / Prabu Linggawastu / Raja Sunda), ♀ Lara Sarkati (Nay Ratna Sarkati).
Saudara : ♂Rakryan Ningratkancana / Prabu Dewa Niskala / Raja Sunda, ♂Ki Gedeng Singapura, ♂ Ki Gendeng Sindang Kasih, ♂Haliwungan.
Istri : ♀️Baramuci Larang, ♀️1 Orang Istri.
Anak : ♂ Raden Amuk Murugul, ♀ Kentring Manik Mayang Sunda / Kantri Manik Mayang Sunda (Nyimas Padmawati), ♂️Dipati Kranda, ♂️Wudubasu, ♂️Pulunggana.
Wafat : ?
Makam : ?
Keterangan :
Sang Haliwungan Prabu Susuk Tunggal adalah Raja Kerajaan Sunda yang memerintah di Kerajaan Sunda dengan gelar Prabu Susuk Tunggal dari tahun 1382 Masehi sampai 1482 Masehi menjadi raja daerah di Pakuan (Bogor), di bawah pemerintahan ayahnya Mahaprabu Resiguru Niskala Wastu Kancana yang memerintah seluruh tanah Sunda.
Biografi
Namanya Sang Haliwungan putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana putra Maharaja Linggabuana putra Aki Kolot Prabu Ragamulya Luhur Prabawa. Dari jalur ibu ia putra Dewi Lara Sarkati putri Resi Susuk Lampung.
Kerajaan Sunda dan Pemerintahannya
Kerajaan Sunda Galuh bersatu masa pemerintahan Mahaprabu Niskala Wastu Kancana dengan pusat kekuasaan di Kawali, ketika Mahaprabu turun tahta, kerajaannya dibagi menjadi 2 blok dengan Citarum sebagai batasnya. Sebelah barat Citarum menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda dengan rajanya Prabu Susuk Tunggal. Sementara sebelah timur Citarum menjadi wilayah kerajaan Galuh dengan rajanya Prabu Dewa Niskala.
Akhir Kekuasaan Sang Haliwungan
Sang Haliwungan atau Prabu Susuk Tunggal turun tahta sebagai raja Sunda digantikan oleh menantu dan keponakanya, Sang Pamanah Rasa atau Jayadewata yang digelari Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Sri Sang Ratu Dewata atau terkenal dengan nama Prabu Siliwangi.
Prabu Susuk Tunggal Murka, Prabu Dewa Niskala Sunting Gadis Pengungsi dari Majapahit
____________________________________________
Raja Sunda Prabu Susuk Tunggal bertahta di Kerajaan Sunda Surawisesa (Bogor). Sedangkan Ningrat Kencana atau Prabu Niskala Dewa naik tahta menggantikan ayahandanya di Kerajaan Galuh Surawisesa (Kawali-Ciamis Utara).
Prabu Susuk Tunggal putra dari Prabu Niskala Wastu Kancana dari Istri pertama Dewi Lara Sarkati. Ia juga punya nama Sang Haliwung atau Tohaan Lampung, diberi kepercayaan oleh ayahnya mewakili pemerintahan menjadi raja di Pakuan Pajajaran (Bogor) tahun 1382 M Sedangkan Prabu Niskala Dewa putra dari Niskala Wastu Kancana dari istrinya yang kedua Mayangsari. Setelah ayahnya wafat ia meneruskan tahta Kerajaan Galuh Surawisesa (Kawali) tahun 1475 M.
Pada saat itu di Tatar Sunda ada dua kerajaan besar dari ayahnya yang satu Prabu Niskala Wastu Kancana, dari dua istri yakni Dewi Lara Sarkati dan Mayangsari. Hanya saja ibu dari Tohaan Lampung asalnya dari Sumatera putra dari Resi Susuk Lampung setelah menjadi raja di Sunda Surawisesa diberi Gelar Prabu Susuk Tunggal.
Di sisi lain Prabu Niskala Dewa lahir rahim Mayangsari yang tidak lain putra pertama dari pamannya Niskala Wastu Kancana Bunisora Suradipati adiknya Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat. Antara Susuk Tunggal yang jadi raja di Pakuan dan Prabu Niskala Dewa di Galuh kadang pada saat itu disebut Pakuan Galuh atau Galuh Pakuan. Tapi seperti yang dikatakan Prof. Dr. Edi S Ekajati kedua kerajaan besar biasa disebut Kerajaan Sunda saja. Setelah Ningrat Kancana atau Prabu Niskala Dewa diangkat menjadi raja di Galuh Kawali (1478 M) terjadi peristiwa yang sangat penting di Pulau Jawa dicatat para ahli sejarah. Di Majapahit terjadi pemberontakan dan perang saudara, Majapahit diserang pasukan Islam dari Demak.
Pemberontakan dipimpin oleh Raden Patah putra Prabu Kertawijaya atau Brawijaya. Akibat perang saudara itu, banyak pembesar dari Majapahit mengungsi ke Galuh diantaranya Raden Baribin.
Diantara gadis dari pengungsi itu ada seorang istri yang dinikahi oleh Prabu Niskala Dewa. Dalam Buku Penyebaran dan Perintisan Islam di Tatar Sunda ditulis Drs. Yuyus Suherman bibit persengketaan muncul antara Prabu Susuk Tunggal dan Prabu Niskala Dewa.
Prabu Susuk Tunggal murka karena Prabu Niskala Dewa telah melanggar aturan dan adat kerajaan Sunda pada waktu itu (Perang Bubat), keturunan dari Kerajaan Sunda (Sunda-Galuh) Prabu Wangi (Niskala Wastu Kencana) tabu untuk mempersunting istri dari Majapahit. Masalahnya selain ada larangan kerajaan dan adat keraton Galuh Kawal. Istri yang dipersunting Niskala Dewa ternyata telah bertunangan. Susuk Tunggal marah terbukti ia memutuskan hubungan kekeluargaan dengan Kerajaan Galuh Surawisesa.
Ketegangan Galuh semakin meruncing. Akhirnya memaksa para sesepuh dari dua kerajaan besar yang dilanda pertentangan itu turun gunung menggelar pertemuan. Hasil kesepakatan dari semua yang terjadi diputuskan Prabu Susuk Tungga dan Prabu Niskala Dewa harus bersama-sama mengundurkan diri menanggalkan tahta kerajaan. Hasil dari pertemuan besar para tetua Galuh dan Sunda disepakati penggantinya Jawadewata putra dari Prabu Niskala Dewa menjadi Raja Galuh Sunda. Prabu Niskala Dewa turun tahta beberapa tahun kemudian ia wawat dan dipusarakan di Gunung Tiga atau Guna Tiga (sekarang Panjalu/Situ Panjalu) Ciamis Utara.
Pembuat Palangga Batu Sakral yang Dipakai Prabu Siliwangi
____________________________________________
Kerajaan Pajajaran menjadi salah satu kerajaan besar di Jawa bagian barat dengan. Kerajaan ini dipimpin oleh rajanya yang masyhur, Prabu Siliwangi. Konon kerajaan ini memiliki wilayah kekuasaan luas di Pulau Jawa bagian barat.
Kekuasaan Kerajaan Pajajaran konon memiliki batu sakral yang menandai kekuasaan raja. Batu itu konon dibuat oleh Susuktunggal.
Batu yang dinamakan palangka atau istilahnya singgasana juga digunakan tempat duduk Sri Baduga Maharaja yang konon identik dengan Prabu Siliwangi. Palangka itu khusus untuk keperluan upacara penobatan raja di Pakuan. Sekarang singgasana itu disebut watu gigilang (batu yang gemerlapan). Konon batu itulah yang sempat diangkut oleh Banten ketika penyerangan ke Pajajaran pada tahun 1579.
Saleh Danasasmita pada "Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi", mengisahkan bagaimana batu sakral yang diangkut itu membuat Kerajaan Pajajaran secara tradisi tidak bisa dilakukan penobatan raja baru. Keraton Sang Bima tempat Siliwangi tinggal dan memerintah sama dengan Sri Bima. Di situ dijelaskan bagaimana Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi menerima warisan Kerajaan Pajajaran dari Susuktunggal. Sedangkan dalam Purwaka Caruban disebutkan bahwa Susuktunggal adalah putera Wastu Kancana.
Hanya saja antara Susuktunggal dan Anggalarang terselang oleh raja-raja seperti Banyaklarang-Banyak Wangi-Munding Kawati.
Di Purwaka Caruban yang ditulis pada (172) pun terkena penyakit babad umumnya. Misalnya, dari Wastu Kancana ke Maharaja Adimulya hanya terhalang oleh empat raja.
Padahal Maharaja Adimulya adalah tokoh yang dalam Carita Parahiyangan disebut sebagai Tamperan alias Rakeyan Panaraban, putera Sanjaya. Menurut Poerbatjaraka, Rakeyan Panaraban sama dengan tokoh Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dalam Prasasti Raja Balitung (907), masa hidupnya pada abad ke-8, sedangkan masa hidup Wastu Kancana pada abad ke-15, selisih tujuh abad atau tujuh ratusan tahun.
Tentu saja sangat tak masuk akal jika selisih waktu tujuh abad hanya terisi oleh empat orang raja.
Susuktunggal memang putera Wastu Kancana. Bisa jadi ia adalah putera sulung yang dijadikan raja di Pakuan. Ini adalah raja daerah, sehingga tidak meneruskan memegang keprabuan. Karena itu, dia tidak bisa dimasukkan ke dalam silsilah khusus Susuhunan Sunda.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Dengan Sopan dan santun