Jumat, 29 Agustus 2025

Nyai Subang Larang

 Nyai Subang Larang

( Dewi Kumalawangi/ Puteri Subang Keranjang)



Lahir : tahun 1404 M.

Isteri Ke 2 Prabu Siliwangi.

Orang Tua : ♂Ki Gedeng Tapa/ Ki Gedeng Jumajan Jati, ♀️Ratna Kranjang/ Karancang.

Saudara : ♂Rd Jayapermana.

Anak : ♂Walangsungsang /Sri Mangana (Pangeran Cakrabuwana), ♀Nyai Rara Santang / Hajjah Syarifah Mudaim, ♂Prabu Kian Santang / Raja Sangara, ♂️Raden Neu Eukeun, ♂️Raden Wastu Dewa (R. Sake), ♂️Dalem Manggu Larang, ♂️Hande Penjo Limansanjaya, ♂️Raden Santang Permana Di Puntang, ♂️Sunan Pangeran.

Wafat : Pakuan, Pajajaran 1441 M.

Makam : Cikaum Tim., Kec. Cikaum, Kabupaten Subang, Jawa Barat.


Keterangan : 


Nyai Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum, yang lahir sekitar tahun 1404. Kisah Nyai Subang Larang tercatat dalam Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN), karya Pangeran Arya Cerbon yang digubahnya pada 1720. Memasuki abad ke-15, tepatnya pada tahun 1415, pasukan Laksamana Zheng He (Cheng Ho) bersama armadanya dari Cina tiba di Muara Jati. "Mereka yang beragama Islam di Muara Jati, diperkirakan telah membawa pengaruhnya, menandai ajaran Islam mulai dikenal di sana," tulis Much Luthfi Fauzan Nugraha.


Ia bersama dengan Dadang Sundawa dan Muhamad Iqbal, menulis tentang catatan sejarah dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, dalam International Journal Pedagogy of Social Studies. Tulisannya berjudul The Existence of Nay Subang Larang as a Source of Value Education in Adolescents in Subang District, publikasi tahun 2020.


"Sekitar tiga tahun berselang, tepatnya pada tahun 1418, seorang ulama Islam bernama Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik, tiba di Muara Jati yang menumpang perahu dagang dari Campa," tulisnya. Pengaruh Islam semakin pekat disana.


"Ki Gedeng Tapa adalah ayah dari Nyai Subang Larang, merupakan syahbandar (pejabat pemerintah) di pelabuhan Muara Jati, sebuah pelabuhan penting di utara Jawa Barat," tambahnya. Dari Muara Jati, diperkirakan Ki Gedeng Tapa dan keturunannya mulai mengenal Islam. "Kemudian Syekh Hasanudin pergi ke Karawang dan mendirikan pasantren di daerah Pura, Desa Talagasari, Karawang, bernama Pesantren Quro," lanjutnya. Dari pesantrennya, Syekh Hasanudin kemudian dikenal sebagai Syekh Quro.


Ki Gendeng Tapa menitipkan anaknya, Kubang Kencana Ningrum, untuk belajar Islam kepada Syekh Quro. "Ia belajar Islam selama 2 tahun bersama Syekh Quro. Di tempat inilah Syekh Quro memberikan gelar Sub Ang larang (Pahlawan berkuda) kepadanya," terang Nugraha dalam tulisannya. Sekitar tahun 1420 Subang Larang Kembali ke Muara Jati. Setelah kepulangannya, dua tahun kemudian, ia semakin dikenal tatar Sunda. "Ia dipersunting pada tahun 1422, sebagai selir permaisuri oleh raja paling sohor dimasanya, yaitu Prabu Siliwangi. Ia merupakan penguasa dan raja terbesar dari Kerajaan Pajajaran," tulis Herwig Zahorka.


Zahorka menulis kisah kesohoran Subang Larang dalam bukunya berjudul The Sunda Kingdom of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Bukunya diterbitkan pada 2007 silam. Menariknya, Subang Larang adalah satu-satunya istri Raja Pajajaran yang memeluk agama Islam. "Ia adalah satu-satunya selir beragama Islam, ditengah lingkungan Kerajaan Hindu (Pajajaran)," lanjut Zahorka. Meski begitu, Subang Larang tetap berpegang teguh dalam keyakinannya dan tak goyah sedikitpun. "Ia menginspirasi melalui kekuatan imannya, menjunjung toleransi ditengah keberagaman. Ia tidak merubah penampilannya, sehingga terpancar inner beauty dalam dirinya," tambahnya.


Catatan Uka Tjandrasasmita, dalam bukunya yang berjudul Jakarta Raya dan Sekitarnya: Dari Zaman Pra Sejarah hingga Kerajaan Pajajaran, terbitan tahun 1977. Menyebut tentang awal mula ketertarikan Prabu Siliwangi kepada Subang Larang. "Prabu Siliwangi jatuh hati setelah mendengar keindahan suara dari lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh wanita berparas cantik jelita bernama Nyai Subang Larang," tulis Tjandrasasmita dalam bukunya.


Seterusnya, dia juga melahirkan para penyebar ajaran Islam di Jawa Barat seperti Raden Kian Santang, Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), dan Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati). "Mereka dididik dengan nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam meskipun hidup di lingkumgan Hindu" tambahnya. Tjandrasasmita meneruskan, bahwa mereka diajarkan untuk hidup disiplin, mandiri, serta menjadi orang-orang yang jujur dan menjauhkan dari sifat-sifat kebohongan. Kisahnya itu menginspirasi rakyat Subang. 


Sosok yang bijaksana, lemah lembut dan sederhana menjadi nilai karakter yang diteladani oleh banyak masyarakat Sunda. Tak pelak, catatan Citra Kabupaten Subang dalam Arsip Nasional Republik Indonesia pada tahun 2015, disebutkan bahwa nama Kabupaten Subang diambil dari namanya. Pengakuan itu diperkuat dengan ditemukannya situs Nyi Subang Larang di Teluk Agung, Desa Nagerang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat pada 1979 dan 1981 di daerah Teluk Agung dan Muara Jati oleh Abah Roheman, warga setempat.

Pangeran Cakrabuana

 Pangeran Cakrabuana

( Pangeran Walangsungsang/ Ki Somadullah/ Haji Abdullah Iman/ Embah Kuwu Sangkan )



Lahir : Pakuan Pajajaran, Kerajaan Sunda 1423 M.

Tumenggung Cirebon Pertama : 1460 - 1479 M.

Orang Tua : ♂ Prabu Siliwangi / Sri Baduga Maharaja Ratu Haji (Prabu Guru Dewapranatha), ♀Nyai Subanglarang / Dewi Kumalawangi (Puteri Subang Keranjang).

Saudara : ♀Nyai Rara Santang / Hajjah Syarifah Mudaim, ♂Prabu Kian Santang / Raja Sangara, ♂️Raden Neu Eukeun, ♂️Raden Wastu Dewa (R. Sake), ♂️Dalem Manggu Larang, ♂️Hande Penjo Limansanjaya, ♂️Raden Santang Permana Di Puntang, ♂️Sunan Pangeran.

Istri : ♀️Nyai Kencana Larang bt Ki Gede Alang-Alang, ♀️Nyi Retna Riris, ♀️Nyi Rasa Jati, ♀️Endang Geulis binti Danuwarsih.

Anak : ♀️Nyi Lara Konda, ♀️Nyi Lara Sejati, ♀️Nyi Jati Merta, ♀️Nyi Mertasinga, ♀️Nyi Campa, ♀️Nyi Rasa Melasih, ♂️Pangeran Cerbon Arya Megger, ♂️Pangeran Pajarakan, ♂️Adegraha, ♀️Nyai Laras Kanda / Rara Jati, ♀️Nyai Jamaras, ♀️Nyai Japamentar, ♀️NRM Pakungwati, ♀️Nyimas Ratu Ayu Gandasari.

Wafat : Cirebon Larang, Pajajaran 1479/ 1529 M.

Makam : 6GG3+JQ9, Unnamed Road, Cirebon Girang, Kec. Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 45171.


Keterangan : 


Pangeran Walangsungsang (bahasa Sunda: ᮌᮥᮞ᮪Gusᮒᮤti ᮝWaᮜᮀlangᮞᮥᮀsungᮞᮀsang, والاڠسوڠساڠWalangsungsang ڮوستيGusti, translit. Gusti Walangsungsang), (dikenal juga sebagai Ki Somadullah, Haji Abdullah Iman, Pangeran Cakrabuana dan Embah Kuwu Sangkan) merupakan putra Prabu Siliwangi dari Nyi Subang Larang.[5] Pangeran Walangsungsang mempunyai dua adik yakni Nyai Mas Rara Santang dan Pangeran Raja Sagara. Ketiga anak ini diyakini yang telah membangun pedukuhan Cirebon (Caruban Nagari).


Pangeran Walangsungsang, menurut Naskah Mertasinga, keluar dari Istana karena kecewa atas perlakuan Prabu Siliwangi kepada ibunya, Dia bersama Rara Santang, kemudian pergi dan pada akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya Cirebon, Pangeran Walangsungsang beradasarkan sejumlah sumber menikah dengan dua wanita dan memiliki 10 orang anak, yakni 8 wanita dan 2 pria. Istri Walangsungsang diantaranya adalah Nyimas Indang Geulis yang melahirkan putri pakungwati Yang kemudian menikah dengan Sunan Gunung Jati.


Perjalanan ke Mekkah


Pada Tahun 1448 Atas anjuran Syekh Datuk Kahfi, Walangsungsang dan Lara Santang berlayar ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Kota Mekkah saat itu berada di bawah naungan Kesultanan Mamluk yang berpusat di Mesir. Kedua bangsawan Sunda ini hidup di Mekkah selama tiga bulan, di bawah bimbingan Syekh Bayanullah (saudara Syekh Datuk Kahfi). Selama di Mekkah, Walangsungsang dan Lara Santang masing-masing mengambil nama Arab, yakni Haji Abdullah Iman dan Syarifah Mudaim. Lara Santang kemudian menikah dengan seorang amir atau bangsawan setempat bernama Syarif Abdullah,[8] dan berputrakan Syarif Hidayatullah (kelak menjadi tokoh berpengaruh di Jawa) yang dipekirakan lahir pada tahun itu juga. Ia tampaknya menetap di sana bersama suami dan putranya, sementara Walangsungsang pulang ke Cirebon.


Masa pemerintahan


Walangsungsang berkuasa sebagai Kuwu Cirebon menggantikan Ki Gede Alang-Alang. Ia kemudian memproklamirkan Cirebon sebagai sebuah Nagari, di mana ia meleburkan seluruh Nagari Singapura ke dalam kekuasaannya. Ia juga menyatukan Nagari di sekelilingnya, yakni Surantaka, Wanagiri, dan Japura ke dalam Kesultanan Cirebon. Sejak saat itu, Walangsungsang lebih dikenal dengan nama barunya, Pangeran Cakrabuana. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Cirebon berbatasan dengan Cimanuk (Indramayu) di barat, Rajagaluh (Majalengka), Saunggalah (Kuningan), Dayeuhluhur, dan Pasirluhur (Cilacap-Banyumas) di selatan, Paguhan (Tegal-Pemalang) di timur, dan Laut Jawa di utara. Pelabuhan utamanya adalah Muara Jati. Cakrabuana tetap berkuasa di bawah Kerajaan Galuh. Ia mengirimkan upeti (bulubekti) tahunan kepada Tohaan ("Yang Dipertuan") atau Raja Galuh yang juga merupakan kakeknya, Dewa Niskala. Sang kakek mengirim misi perutusan ke Cirebon untuk melantik Cakrabuana secara resmi sebagai raja daerah dengan gelar Tumenggung Sri Mangana. Misi ini dipimpin oleh Tumenggung Jagabaya dan Raden Kian Santang (adik kandung Cakrabuana). Kian Santang kemudian menetap di Cirebon mendampingi kakaknya.


Kedatangan Syarif Hidayutullah


Pada tahun 1474, Syarif Hidayatullah berangkat ke Jawa untuk mendakwahkan agama Islam. Sebelumnya, ia telah banyak berguru kepada sejumlah ulama Arab di Kesultanan Mamluk, khususnya di Mekkah dan Baghdad. Dalam perjalanan ke Jawa, ia singgah di Gujarat dan Pasai. Di Pasai, ia bertemu dengan Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri.


Setahun kemudian, pada tahun 1475,[d] Syarif Hidayatullah tiba di Jawa. Ia mendarat di Banten, dan tampaknya bertemu dengan Sunan Ampel, seorang ulama anggota Dewan Walisanga. Ia mengajaknya ke pesantren yang dipimpinnya di Ampeldenta (Surabaya) dan menggemblengnya sebagai seorang pendakwah. Ia akhirnya diangkat sebagai anggota Walisanga, dengan tugas menyebarkan Islam di Tatar Sunda (Jawa Barat). Setelah itu, Syarif Hidayatullah akhirnya berlayar ke Cirebon, didampingi sekelompok pelaut India pimpinan Dipati Keling, yang telah memeluk Islam dan mengabdi kepadanya. Sesampainya di Cirebon, ia disambut oleh pamannya, Cakrabuana. Oleh sang paman (uwa), Syarif Hidayatullah dianugerahi gelar Syekh Maulana Jati. Ia bermukim di daerah Gunungjati, dan menjadi pendakwah Islam utama di sana menggantikan Syekh Datuk Kahfi (yang telah lama wafat). Ia juga sempat tinggal di Banten, di mana ia berhasil mengislamkan Bupati Kawunganten dan menikahi putrinya, Nyai Ratu Kawunganten. Pada tahun yang sama, Maharaja Sunda, Niskala Wastukancana wafat setelah memerintah selama 104 tahun. Pasca kematiannya, Kerajaan Sunda kembali dibagi dua, dengan Sunda (beribukota di Pakwan) di bawah Susuktunggal atau Sang Haliwungan dan Galuh (beribukota di Kawali) di bawah Dewa Niskala atau Prabu Anggalarang.


Pernikahan Syarif Hidayatullah dengan Dewi Pakungwati

sunting

Pada tahun 1478, Syarif Hidayatullah menikahi Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana (dalam arti lain sepupu Syarif Hidayatullah). Pangeran Sabakingking lahir.[12] Ia merupakan putra dari sang Syarif dengan Ratu Kawunganten, yang pada abad berikutnya akan menjadi seorang tokoh berpengaruh yang mendampingi ayahnya. Pada tahun yang sama, Kesultanan Demak dideklarasikan sebagai negara merdeka di Jawa Tengah oleh Raden Patah dan Walisanga, menyusul pecahnya kudeta di Majapahit yang menewaskan Bhre Kertabhumi, ayah Raden Patah.


Pengunduran diri Pangeran Cakrabuana


Pada tahun 1479, Syarif Hidayatullah diangkat menjadi Tumenggung Cirebon (didukung Wali Sanga), menggantikan pamannya yang mengundurkan diri secara sukarela. Ia tetap tunduk sebagai raja daerah Galuh dan mengirim upeti ke Kawali, setidaknya hingga tiga tahun kemudian. Sementara itu, Pangeran Cakrabuana selanjutnya lebih banyak hidup sebagai pengembara, meskipun sesekali tetap mendampingi keponakannya dalam memerintah di Cirebon. Masih pada tahun yang sama, Syarif Hidayatullah pergi ke Demak atas undangan Raden Patah dan para wali. Mereka pun mengangkat Syarif Hidayatullah sebagai Panatagama Rasul ing Tanah Pasundan (“Penyiar Agama Rasul di Tanah Sunda”). Sejak saat itu, hubungan Cirebon dan Demak pun mulai terjalin. Syarif Hidayatullah kemudian juga turut serta membangun Masjid Agung Demak, dengan mendirikan sebuah tiang besar sebagai salah satu dari empat sokoguru di dalam masjid itu.


Cirebon pasca-pemerintahan Pangeran Cakrabuana


Setelah pengunduran diri Pangeran Cakrabuana. Pada tahun 1480, Syarif Hidayatullah mendirikan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Dalam pembangunannya, ia dibantu oleh beberapa Walisanga lainnya (Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Kudus) serta Raden Sepat, seorang arsitek Jawa dan bekas petinggi Majapahit dari Demak. Raden Sepat kemudian mengabdi kepada Syarif Hidayatullah dan membantu memajukan pembangunan di Cirebon.


Setahun kemudian pada 1481, Syarif Hidayatullah berkunjung ke Kekaisaran Cina (Dinasti Ming). Di sini, Syarif Hidayatullah menikah dengan Ong Tien Nio, seorang putri setempat.[e] Ia membawa istri barunya itu kembali ke Cirebon. Keduanya tampaknya memiliki seorang putra, yakni Suranggajaya atau Arya Kamuning. Kedatangan Ong Tien Nio ke Cirebon memberikan pengaruh bagi Keraton Pakungwati, di mana unsur-unsur kebudayaan Cina seperti porselin, guci, dan hiasan dinding ditempatkan di banyak sudut istana, serta sejumlah bangunan penting lain seperti masjid.


Proklamasi dari Nagari ke Kesultanan


pada tahun 1482, Syarif Hidayatullah memproklamasikan Cirebon sebagai kerajaan yang merdeka dari Galuh maupun Sunda. Beban upeti ditambah usaha untuk memperluas pengaruh Islam tampaknya menjadi penyebabnya. Sebagai raja merdeka, Syarif Hidayatullah mengangkat dirinya dengan gelar baru, Susuhunan Jati Purbawisesa alias Sunan Gunung Jati. Ia juga mengganti nama istana kediamannya, Jalagrahan, menjadi Keraton Pakungwati, yang tetap berlokasi di daerah Kebon Pesisir atau Kota Cirebon. Ia tampaknya juga merombak pembagian wilayah kekuasaannya, dengan meleburkan nagari-nagari Surantaka, Singapura, dan Wanagiri menjadi dua kadipaten baru, Cirebon Girang dan Cirebon Larang, serta membentuk nagari baru, Losari yang dipecah dari Japura. Deklarasi kemerdekaan Cirebon disambut dengan keras oleh Sri Baduga Maharaja, yang segera mengirim pasukan pimpinan Tumenggung Jagabaya untuk “menertibkannya kembali”. Namun, pasukan Sunda dihadang oleh seluruh penduduk Cirebon yang jumlahnya melebihi mereka. Jagabaya pun menyerah kalah, dan bersama seluruh prajuritnya akhirnya memutuskan untuk mengabdi kepada Sunan Gunung Jati dan masuk Islam.


Renovasi Keraton Pakungwati


Tahun 1483, Sunan Gunung Jati melakukan renovasi Keraton Pakungwati. Ia memperluas kompleks istana itu dan menambahkan bangunan-bangunan pelengkap. Ia juga membangun tembok pertahanan setinggi 2 meter yang mengelilingi ibukota Cirebon, yang dilengkapi dengan pintu gerbang bernama Lawang Gada. Pembangunan infrastruktur lain juga dilakukan, seperti pembangunan pangkalan perahu di tepi Sungai Kriyan, istal (stable) kuda kerajaan, dan pos-pos penjagaan. Pelabuhan Muara Jati juga diperbaiki dan disempurnakan, dengan bantuan masyarakat Cina yang tinggal di daerah itu. Di bidang keamanan, Sunan Gunung Jati juga membentuk Pasukan Jagabaya, yang difungsikan sebagai penjaga dan pemelihara keamanan di masyarakat, selayaknya polisi saat ini.


Kedatangan bangsawan Arab


Pada tahun 1485, Serombongan bangsawan Arab dari Baghdad[g] pimpinan Maulana Abdurrahman dan dua adiknya (Maulana Abdurrahim dan Syarifah Baghdadi) tiba di Cirebon dan mengabdi kepada Sunan Gunung Jati. Mereka diterima oleh Sunan Gunung Jati, yang kemudian menikahi Syarifah Baghdadi alias Nyai Lara Baghdad. Sang Maulana sendiri kemudian dianugerahi gelar Pangeran Panjunan oleh Sunan Gunung Jati.


Setahun kemudian pada 1486, Pangeran Jayakelana, putra pertama Syarif Hidayatullah dengan Syarifah Baghdad, lahir. Disusul dengan kelahiran Pangeran Bratakelana pada 1488. Disisi lain, istri Syarif Hidayatullah dari Cina, Ong Tien Nio, wafat.


Proyek pembangunan besar-besaran


Dengan bantuan Raden Sepat, Sunan Gunung Jati melakukan sejumlah proyek pembangunan, antara lain perluasan Keraton Pakungwati, penyelesaian pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, pembuatan jalan yang menghubungkan Keraton dengan pelabuhan utama di Muara Jati dan pusat ekonomi di Pasambangan. Ini semua terjadi pada 1489.


Untuk kesekian kalinya, pada 1491, 2 tahun setelah proyek pembangunan dimulai, Syarif Hidayatullah menikah dengan Nyai Ageng Tepasari, putri dari Ki Ageng Tepasan, seorang bekas pejabat Majapahit yang mengabdi kepada penguasa Demak. Dari istrinya ini, Sunan Gunung Jati memiliki dua orang anak, yakni Ratu Ayu dan Pangeran Mohammad arifin (Mohammad Arifin dilahirkan pada 1495), yang nantinya akan menurunkan raja-raja Cirebon berikutnya.


Dibawah Sunan Gunung Jati, Cirebon melakukan aneksasi ke Kuningan. Yang kemudian dijadikan Kadipaten dibawah Kesultanan Cirebon. Arya Kamuning kemudian ditunjuk sebagai Adipati Kuningan pada 1498. Setelah aneksasi Kuningan, Sunan Gunung Jati melakukan perluasan kompleks Keraton Pakungwati. Ia mendirikan sejumlah bangunan tambahan seperti Ketumenggungan (semacam barak militer?) dan Masjid Jagabayan. Ia juga merenovasi kembali Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Sementara itu, Pangeran Cakrabuana berkunjung ke Samudera Pasai. Di sini, ia menemui rajanya (Sultan Adlullah) yang tengah sakit dan berhasil menyembuhkannya. Pangeran Cakrabuana kemudian mengadopsi salah satu putri sang Sultan, seorang bayi perempuan yang baru lahir dan telah menjadi piatu (ibunya wafat setelah melahirkan). Bayi ini dibawanya kembali ke Cirebon, kemudian dibesarkan dengan nama Gandasari. Ia menjadi saudari angkat Sunan Gunung Jati dan kelak dikenal sebagai salah satu panglima perang Cirebon.


Wafat


Pangeran Cakrabuana Wafat pada tahun 1529 Saat Pertempuran pecah di Pegunungan Kromong dan Gempol, yang berakhir dengan kemenangan pasukan Cirebon. Panglima perang Galuh, Arya Kiban gugur menyebabkan moral pasukan Galuh turun dan dapat dikalahkan dengan mudah. Pasukan Cirebon lalu bergerak ke Nagari Talaga di selatan. Mereka berhasil menundukkannya dan mengislamkan penduduknya.

Nyai Ambetkasih

 Nyai Ambetkasih

( Nhai Ambet Kasih/ Nyai Rambut Kasih/ Ngambetkasih/ Ratu Ayu Panvidagan )



Lahir : ?

Istri Pertama Prabu Siliwangi/ Garwa Padmi 1.

Orang Tua : ♂️Ki Gedeng Sindang Kasih (Syahbandar Pelabuhan Cirebon) /Gedeng SindangKasih Gedeng, ♀️Dampu Awang.

Suami : ♂️Sri Baduga Maharaja/ Prabu Siliwangi II/ Raden Pamanah Rasa/ Ratu Sakti Sangabatan.

Anak : ♂️Banyak Cotro Kamandaka, ♂️Prabu Banyak Larang, ♂️Banyak Ngampar Silihwarni (Arya Gagak Ngampar), ♀️Retna Ayu Mrana /Ayu Mrana.

Wafat : ?

Makam : 46RV+2G5, Sindangkasih, Kec. Majalengka, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat 45411.


Keterangan : 


Nyai Ambetkasih atau Nhai Ambet Kasih atau Nyai Rambut Kasih atau Ngambetkasih adalah salah satu istri Maharaja Kerajaan Sunda-Galuh atau Pajajaran Prabuguru Dewataprana Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi atau Raden Pamanahrasa. Nama Nyai Ambetkasih tertulis dalam Naskah Sunda Kuno (NSK) berjudul "Cariosan Prabu Siliwangi" yang ditulis di atas kertas kayu atau Daluwang pada tahun 1435 Masehi. Naskah Cariosan Prabu Siliwangi ini disalin ulang pada tahun 1675 dan kini disimpan di Museum Geusan Ulun Sumedang Jawa Barat. Selain itu, nama Ambetkasih juga tercatat dalam naskah lontar Carita Ratu Pakuan dan Cerita Purwaka Caruban Nagari (1720 M).


Silsilah Nyai Ambetkasih


Nyai Ambetkasih adalah putri Ki Gede ing Sindangkasih (Juru Pelabuhan Muarajati Cirebon) putra Prabu Rahyang Bunisora Suradipati atau Prabu Rahyang Borosngora. Prabu Bunisora Suradipati adalah adik Prabu Linggabuana yang gugur dalam Perang Bubat. Ia menjadi wali karena putra Linggabuana yaitu Niskala Wastu Kancana masih berusia 7 tahun. Kelak dikemudian hari, Niskala Wastu Kancana menikahi putri pamannya Bunisora Suradipati yaitu Dewi Mayangsari (Nyai Ratna Mayangsari). Dari Dewi Mayangsari, dikaruniai anak Dewa Niskala. Dewa Niskala adalah Ayahanda Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja. Dari istrinya Niskala Watu Kancana yang lain, yaitu Lara Sarkati (putri Raja Lampung) dikaruniai anak bernama Susuk Tunggal. Prabu Sahyang Bunisora Suradipati (Prabu Kuda Lalean) memiliki putra-putri yaitu:


Giridewata (Ki Gede ing Kasmaya Cirebon)

Bratalegawa (Haji Purwa Galuh)

Nhay/Nyai Ratna Mayangsari (Dewi Mayangsari)

Banawati

Putra-putri Nyai Ambetkasih

sunting

Menurut Babad Pasir dari Cilacap Jawa Tengah, dari pernikahan Nyai Ambetkasih dan Prabu Siliwangi (Raden Pamanahrasa) memiliki 3 orang putra-putri, yaitu:


Banyak Catra (Banyak Cotro) atau Kamandaka

Banyak Ngampar (Gagak Ngampar)

Nhay Ratna Pamekas (Retna Ayu Mrana)

Dari Banyak Catra ini menurunkan raja-raja di Kerajaan Pasir Luhur (Eks Keresidenan Banyumas Jawa Tengah) dan Banyak Ngampar di Kerajaan Daya Luhur (Kabupaten Cilacap Jawa Tengah). Sementara dalam legenda Majalengka tidak menceritakan Nyai Ambetkasih memiliki anak.


Sosok Nyai Ambetkasih


Sosok Nyai Ambetkasih adalah seorang pemberani, memiliki paras cantik molek, berambut panjang, bijaksana dan waspada Permana Tingal.[3] Dalam kisah legenda Majalengka, disebutkan bahwa Nyai Rambut Kasih (Ambetkasih) adalah seorang raja di Sindangkasih Majalengka. Menurut naskah-naskah Sunda kuno, Sindangkasih Majalengka adalah Mandala Sindangkasih.


Sebuah Mandala adalah kawasan perdikan atau pendidikan di zaman Sunda Kuno bercirikan ajaran sinkretisme dengan sebutan Lemah Dewasana. Sedangkan tempat pendidikan keagamaan Jati Sunda disebut Lemah Parahyangan atau Kabuyutan. Para Ajar atau Maharesi atau Mahawiku di Mandala-mandala biasanya adalah para bangsawan bahkan para pangeran atau rajaputra (putra mahkota) atau para putri raja. Struktur 'kepengurusan' Mandala ada rakyat sekelilingnya atau di lingkungan sekitarnya (tepi i siring atau tepiswiring) dan keamanannya dijamin oleh negara/kerajaan dengan menempatkan para prajurit penjaga keamanan. Oleh karena itu, Mandala sering dimaknai atau dipandang kalangan rakyat sebagai sebuah kerajaan. Meskipun demikian, pandangan Mandala sebagai kerajaan juga beralasan (Selain strukturnya mirip kerajaan), ada beberapa ke-Mandala-an kemudian berubah menjadi kerajaan seperti Mandala Wanagiri Cirebon menjadi Kerajaan Wanagiri, Mandala/Kabuyutan Galunggung menjadi Kerajaan Galunggung dan Mandala Kendang di Nagreg Bandung menjadi Kerajaan Kendan, pendahulu Kerajaan Galuh. Sedangkan Mandala Sindangkasih di Majalengka dianggap masyarakat sebuah Kerajaan Sindangkasih. Lokasi Ki Gede ing Sindakasih berada di Beber Kabupaten Cirebon sekarang. Sedangkan wilayah yang disebut Sindangkasih pada abad ke15 mencakup kawasan bagian utara Majalengka. Secara administratif, wilayah Mandala Sindangkasih termasuk dalam wilayah Kerajaan Sumedang Larang. Barulah wilayah Sindangkasih (Kota Majalengka sekarang) diserahkan oleh Sumedang Larang ke Panembahan Girilaya Cirebon sebagai talak Ratu Harisbaya yang diculik Prabu Geusan Ulun.


Pertemuan dengan Prabu Siliwangi


Kisah pertemuan Nyai Ambetkasih dengan Prabu Siliwangi diceritakan panjang lebar dalam Naskah Cariosan Prabu Siliwangi. Dalam naskah Cariosan Prabu Siliwangi, kisah Ambetkasih diceritakan panjang lebar hingga menjelang pernikahannya. Penelitian terhadap Naskah Cariosan Prabu Siliwangi dilakukan oleh Lembaga Penelitian Prancis untuk Timur Jauh (EFEO, École française d'Extrême-Orient). Hasil penelitiannya diterbitkan tahun 1983.


Kurun waktu yang digambarkan oleh Cariosan prabu Siliwangi adalah bagian pertama dari hidup Siliwangi ketika ia sebagai seorang putra mahkota muda berumur sembilan tahun, Pamanahrasa, putra kedua Anggalarang (Dewa Niskala) dari permaisuri Umadewi. Wajahnya bersinar, sehingga dapat dianggap sebagai jelmaan Wisnu (Pupuh I:29.6). Kakaknya adalah putra dari Selir yang bernama Astunalarang (Sang Astunawangi). Ada satu lagi anak Prabu Anggalarang (si bungsu) bernama Rangga Pupuk. Kakaknya sangat iri terhadap pamanahrasa, karena ia Putra permaisuri. Astunalarang mencoba membunuh Pamanahrasa, adiknya itu. Kemudian Pamanahrasa diasingkan dari kerajaan dan dijualnya sebagai budak hitam dengan dibaluri ceumeung. Jika tidak dibaluri ceumeung dan kelihatan bersih serta wangi, serta memakai perhiasan kerajaan, ia tak akan dibeli orang. Seorang panakawan (pelayan) Rajaputra Astunalarang yang bernama Tandesang menganjurkan agar Pamanahrasa mengubah namanya menjadi asilih wawangi (Pupuh III: 57.7-58.2). Itu pun disetujui Pamanahrasa yang menjawab: "sebut saja saya si Siliwangi", yaitu Si Ganti Harum dan mengubah gelang emasnya dengan gelang besi. Siliwangi atau Pamanahrasa dalam teks Cariosan Prabu Siliwangi disebut juga sebagai Rajasunu atau Rajasiwi.


Hilangnya Pamanahrasa dari keraton berlangsung 5 tahun. Kemudian pengembaraannya menjauhkan Siliwangi dari tahta Kerajaan. Sedangkan sifat-sifatnya yang luar biasa, membawanya untuk mengadakan persekutuan dengan sekian banyak raja, misalnya raja Ponggang, Singapura (Cirebon), Sumedang Larang, Kawali, Panjalu, Pekalongan, Balangbangan (Balungbungan?) yang memilihnya sebagai raja mereka, karena mengakui keunggulan dan kesaktian Siliwangi. Agar lebih memperkuat Siliwangi dalam kedudukannya yang menonjol itu, mereka menghadiahkan saudarinya untuk diperistri. Perkawinan yang ada lebih berisfat politis dan simbolis. Tradisi mengawinkan saudara perempuan raja dengan raja yang memiliki kharisma tinggi dicatat oleh para penjelajah Portugis ketika tiba di Sunda Kalapa.


Negeri Balangbangan mungkin berasal dari kata Balungbungan bukan Blambangan dalam naskah ini disebutkan dirajai oleh Amukmurugul atau nama lainnya Surabima Lembugora Panji Wirajaya/Wirajayeng Satru/Rajapanji. Mungkin, dalam naskah ini penyebutan Balangbangan diartikan sebagai "negeri timur". Kini negeri atau Kerajaan yang dirajai oleh Amukmurugul adalah Kerajaan Japura yang berlokasi di timur Kabupaten Cirebon, meliputi Sindanglaut hingga Ciledug.


Ada yang paling perlu kita catat adalah perkawinan Siliwangi (Pamanahrasa) dengan putri raja Singapura, yang bernama Mrajalarangtapa (Subanglarang). Siliwangi acuh tak acuh terhadap perkawinan politik itu. Siliwangi ditakdirkan Dewa kepada seorang putri cantik Ambetkasih, putri seorang juru pelabuhan Sindangkasih yang telah menukarkan kayu jati serta satu jungkung (Kapal Jung) dengan budak hitam (Pamanahrasa), ketika mau dijual di pelabuhan. Rencananya Pamanahsara akan dibeli oleh Minadi, Sang Juragan Nahkoda dari Palembang. Selanjutnya, Pamanahrasa mandi di Pancuran Cibasale, sehingga ia kembali kepada rupa asalnya. Menarik, bahwa nama Cibasale kini ada di kecamatan Majalengka kulon, Majalengka. Ada lagi wilayah 'katenggang' alias neggang dapat terlihat dari kejauhan, tempat Lampungjabul dan kawan-kawan diami, kemudian diganti nama menjadi Pan(y)ingkiran. Kemudian disebut negeri Maoslengka (Pupuh XIV:27) sebagai negeri asal nenek moyang Amukmurugul, sebelum ia memerintah Balangbangan (peneliti EFEO menuliskan = krama dari Majalengka?).


Kisah Cariosan Prabu Siliwangi berakhir di tengah percintaan Ambetkasih dan Siliwangi diambang perkawinan mereka. Ambetkasih disebut sebagai bidadari Supraba.


Leluhur Raja-raja Pasir Luhur dan Daya Luhur


Ambetkasih dalam sejarah Cilacap dan Banyumasan yang mengacu pada Babad Pasir memiliki 3 orang anak: 2 orang putra dan 1 orang putri, yaitu Banyak Catra (Kamandaka), Banyak Ngampar (Gagak Ngampar) dan Ratna Pamekas (Retna Ayu Mrana). Pada tahun 1455 M, Kerajaan Daya Luhur sudah dipimpin oleh raja Banyak Ngampar. Tahun 1455 ini, berarti Sribaduga Maharaja (Siliwangi) belum menjadi raja Sunda-Galuh (Pajajaran) dan masih dikenal dengan gelarnya Pangeran Pamanah Rasa. Dalam kisah Ratu Pakuan, digambarkan iring-iringan Ambetkasih yang pindah dari istana timur (Keraton Surawisesa di Galuh) menuju Istana Barat di Pakuan Pajajaran (Sunda).


Petilasan Nyai Ambetkasih (Rambut Kasih)


Petilasan Nyai Ambetkasih berada di selatan kota Majalengka yang biasa disebut "Petilasan Nyai Ratu Rambut Kasih". Menurut naskah Cariosan Prabu Siliwangi, petilasan Nyai Rambutkasih di desa Pasirlenggik desa Sindangkasih di selatan kota Majalengka adalah tempat pertapaan Ambetkasih (Rambutkasih). Dikatakan bahwa Ambetkasih sering datang mengasingkan diri dan dimana diperkirakan beliau ngahiyang ke alam baka. Sebuah kompleks purbakala berupa tumpukan batu besar berliang dianggap oleh penduduk sebagai tempat duduk Ambetkasih beserta para pengiringnya, sedangkan ditengahnya disebut Arca Ambetkasih. Terlihat, di depan setiap batu, jelas ada bekas tempat pemujaan yang terus menerus.


Kabupaten Sindangkasih


Kabupaten Sindangkasih Majalengka dipimpin oleh Tumenggung Natakarya (1741-1762). Nama-nama pemimpin sebelumnya adalah Tumenggung Jaya Kusumah (Buyut Pandey Sindangkasih), Tumenggung Jagawéswa (Tumengung Yogaweswa Regent Of District Sindangkassie),[10] pangéran Jaya Wiyasa, Pangéran Martaguna, Embah Kawung Poék, Embah Jénggot, Embah Karsijem. Pusat pemerintahan Kabupaten Sindangkasih berada di kecamatan Cigasong Majalengka sekarang ini. Kemudian pada tahun 1840 Kabupaten Sindangkasih disatukan dengan Kabupaten Maja dan berubah nama menjadi Majalengka.


Ada sebuah Petirtaan Kerajaan Sindangkasih berukuran 15 x 25 meter yang kini masih bisa dilihat di Cigasong dengan nama Kolam Sang Raja. Menurut Naro, seorang penggiat Grumala (Grup Madjalengka Baheula), Penamaan Sang Raja diberikan Bupati Majalengka zaman Belanda pada tahun 1927.

Rabu, 27 Agustus 2025

Prabu Kian Santang

 Prabu Kian Santang

( Raden Sanggara/ Radja Sangara/ Syeh Sunan Rohmat Suci )



Lahir : Pakuan Pajajaran, Kerajaan Sunda 1427 M.

Dalem Bogor ke - 2.

Orang Tua : ♂ Prabu Silih Wangi / Raden Pamanah Rasa (Prabu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja), ♀Nyai Subanglarang / Dewi Kumalawangi (Puteri Subang Keranjang).

Saudara : ♂️Pangeran Walangsungsang / Sri Mangana / Pangeran Cakrabuwana, ♀️Nyai Rara Santang / Hajjah Syarifah Mudaim, ♂️Raden Neu Eukeun, ♂️Raden Wastu Dewa (R. Sake), ♂️Dalem Manggu Larang, ♂️Hande Penjo Limansanjaya.

Istri : ♀️Nyai Kalimah / Halimah / Nyai Gedeng Kalisapu, ♀️Dewi Rengganis Situ Patengan.

Anak : ♂️Pangeran Ayan Permana Prabu Kuncung Putih Pasarean, ♂️Dalem Pagerjaya, Godog Suci Garut.

Wafat : Kecamatan Garut Kota, Garut, Jawa Barat ?

Makam : Astana Gedong, Godog, Kec. Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44182.


Keterangan : 


Prabu Kian Santang atau Raden Sanggara ( sering dieja Radja Sangara) atau Syeh Sunan Rohmat Suci, adalah Putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja, Raja Pakuan Padjajaran dengan Nyi Subang Larang. Dia lahir pada 1427 M dengan nama Radja Sangara. Tercatat Pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang berputra 3 orang yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati) dan Prabu Kian Santang.


Prabu Kian Santang menjadi dalem Bogor 


Disebutkan oleh Ferry Taufiq El Jaquene dalam Hitam Putih Padjajaran bahwa Kian Santang yang bernama kecil Radja Sangara masuk Islam sejak kecil dan disebutkan dalam Api Sejarah 1 karya Ahmad Mansur Suryanegara bahwa Kian Santang turut serta meresmikan berdirinya Kadipaten Cirebon dibawah kekuasaan abangnya,Raden Walangsungsang dengan menyerahkan bendera kerajaan. Pada usia 22 tahun Prabu Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor


Disebutkan dalam Ensiklopedi Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia yang ditulis kementrian agama NKRI dia berdakwah mengajak raja raja Sunda pedalaman masuk Islam diantaranya Sunan Pancer,Raja Galuh Pakuan.

Dennys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya jilid 2 menyebutkan bahwa Kian Santang pernah menuntut Ilmu ke Makkah. Dia menikah dengan Nyai Kalimah Sapujagad demikian menurut Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon dan tidak ada catatan resmi siapa keturunannya sehingga hal itu menimbulkan perdebatan.


Kian santang dan Rakeyan Sancang


Prabu Kian santang inilah disebut-sebut tradisi masyarakat sebagai putra Raja Padjadjaran (Prabu Siliwangi) yang berselisih paham tentang keyakinan agama, tapi akhirnya mereka bersepakat Kian Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran, petilasan yang bertalian dengan Kian Santang berada di Godog Garut berupa makam, gunung Nagara berupa bekas pertahanan dan di Cilauteureun.


Keturunan Ki Santang

sunting

Dalam wangsit uga siliwangi dikatakan bahwa keturunanya akan menjadi pengingat mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya:


Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!:


artinya:


Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!


Putra Prabu Siliwangi Yang Maha Sakti


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, putra Prabu Siliwangi yang paling sakti adalah Raden Kian Santang. Ia lahir dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang. Melalui pernikahan tersebut, Prabu Siliwangi melahirkan tiga orang anak, yaitu Pangeran Cakrabuana, Rara Santang, dan Raden Kian Santang. Dalam cerita sejarah , Raden Kian Santang sendiri lahir di Padjajaran pada tahun 1315. Ia tergolong pandai berbicara dan cepat belajar. Sejak kecil, ia telah dilatih untuk mempelajari ilmu bela diri . Bahkan, di usia muda, Raden Kian Santang telah menjadi panglima tertinggi Padjajaran atau Dalem Bogor Kedua.


Hal ini berkat kegigihan dan keahlian yang dimiliki Raden Kian Santang. Ia tak pernah ragu untuk mencoba hal-hal baru, yang membuatnya tumbuh menjadi sosok yang berani dan tangguh. Tak hanya itu, Raden Kian Santang juga dinilai memiliki kemampuan istimewa sejak lahir, seperti pandai membaca Al-Quran, mampu membaca pikiran orang lain, dan mampu melihat dengan jelas.


Raden Kian Santang juga terkenal karena ilmu gaibnya. Beberapa ilmu gaib yang konon dimiliki Raden Kian Santang antara lain:


Kebal terhadap berbagai jenis senjata.


Memiliki pengetahuan tentang ramalan.


Menguasai ilmu aji suket kalanjana.


Memiliki turbin angin yang digerakkan oleh angin.


Menguasai ilmu pengetahuan itu banyak sekali.


Brajamusti.


Dengan berbagai kemampuannya tersebut, Raden Kian Santang tetap rendah hati dan mau bergaul dengan masyarakat sekitar. Raden Kian Santang juga memiliki keahlian lain, seperti bela diri dan memanah.


Kisah Raden Kian Santang Penyebar Agama Islam di Jawa Barat


Raden Kian Santang atau Raden Sangara merupakan putra ketiga atau bungsu dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang. Anak pertama Prabu Siliwangi-Nyi Subang Larang adalah Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana dan anak kedua Nyi Rara Santang. Nyi Subang Larang yang merupakan putri dari Syekh Quro, penyebar Islam di Karawang, mendidik putra putrinya secara Islam. Raden Walangsungsung atau Pangeran Cakrabuana mendirikan Kota Cirebon. 


Sedangkan Rara Santang yang menikah dengan Syarif Abdullah Umdatuddin melahirkan dua putra kembar, Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Setelah dewasa, Syarif Hidayatullah menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat. Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati ini mendirikan Kesultanan Cirebon yang berkuasa selama lebih dari 3 abad. 


Sedangkan sang paman, Raden Kiansantang yang memiliki nama lain Syekh Rhmat Suci pun menjadi penyebar Islam di sebagian wilayah pegunungan Jawa Barat hingga akhir hayatnya. Konon Syekh Sunan Rohmat Suci atau Raden Kian Santang dimakamkan di Godog Garut, Gunung Nagara, Cilauteureun. Kompleks permakaman ini dikeramatkan dan kerap dikunjungi masyarakat.


Bertemu Sayyidina Ali


Pada usia 22 tahun Prabu Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Kerajaan Pajajaran tersebut, ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu. Prasasti itu dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Peristiwa itu istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran. Prabu Kian Santang merupakan kesatria gagah perkasa. Tidak ada yang bisa mengalahkan kegagahan dan kesaktiannya. 


Akhirnya Prabu Kian Santang meminta petunjuk kepada ayahnya Prabu Siliwangi untuk mencarikan lawan yang dapat menandinginya. Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kian Santang adalah Sayyidina Ali di Tanah Suci Makkah. Sebetulnya saat itu Sayyidina Ali telah wafat. Tetapi konon Prabu Kian Santan dipertemukan Sayyidina Ali secara gaib atas kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.


Orang tua itu berkata kepada Prabu Kian Santang, "Kalau Anda mau bertemu dengan Sayyidina Ali harus melaksanakan dua syarat. Pertama, harus mujasmedi dulu di Ujung Kulon. Kedua, nama harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang berarti berani. Setra bermakna bersih-suci). Setelah melaksanakan dua syarat tersebut, berangkatlah Prabu Kian Santang ke tanah Suci Makkah. Tiba di Makkah dia bertemu dengan seorang lelaki. Kian Santang tidak tahu laki-laki itu adalah Sayyidina Ali. 


Prabu Kian Santang yang mengganti nama menjadi Galantrang Setra bertanya kepada laki-laki itu, "Kenal kah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?" Laki-­laki itu menjawab kenal dan bisa mengantarkannya ke tempat Sayyidina Ali.

Sebelum berangkat laki-laki itu menancapkan sebuah tongkat ke tanah, yang tak diketahui oleh Galantrang Setra. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, "Wahai Galantrang Setra tongkatku ketinggalan di tempat tadi, coba tolong ambilkan dulu."


Semula Galantrang Setra tidak mau, tetapi Sayyidina Ali mengatakan, "Kalau tidak mau ya tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali."

Terpaksalah Galantrang Setra kembali ke tempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan, dikira tongkat itu akan mudah lepas. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, justru tidak sedikit pun berubah. 


Sekali lagi dia berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi bukan tercabut, justru kedua kaki Galantrang Setra ambles masuk ke dalam tanah, dan keluar darah dari tubuh Galantrang Setra. Ternyata laki-laki yang baru dikenal itu adalah Sayyidina Ali. Setelah tahu, Prabu Kian Santang pun takluk. Prabu Kian Santang pun mendalami agama Islam. Dia bermukim selama dua puluh hari. Kemudian dia pulang ke tanah Sunda, Padjadjaran, untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. 


Setibanya di Padjadjaran dan bertemu dengan ayahnya, dia menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Kian Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran. Itulah ulasan Kisah Raden Kian Santang Penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Sejarah Kecil: Suatu Masa Ketika Orang Gila Meresahkan Hindia Belanda

 Sejarah Kecil: Suatu Masa Ketika Orang Gila Meresahkan Hindia Belanda

__________________________________________



Pada hari Sabtu, 26 Maret 1938, seorang Sunda bernama Anam dilaporkan memukul seorang Belanda bernama ACR Weise. Weise dipukul dengan benda tumpul, pipa gas sepanjang satu meter hingga tewas. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit di Garut, tatkala Weise tengah dirawat karena terserang stroke ringan. Anam yang selesai memukul mati Weise, dilaporkan kembali menuju ke tempat tidurnya dirawat. Ia kembali tidur pulas setelah membunuh seorang Belanda!


Entah apa yang menyebabkan seorang pribumi Garut itu membunuh orang Belanda yang terbaring lemah di kasurnya. Laporan Belanda menyebut bahwa Anam mengidap masalah kejiwaan.

"Dua hari kemudian, Indische Courant menerbitkan berita tentang pembunuhan ini, dan Anam disinyalir mengidap sakit jiwa," tulis Vilan van de Loo kepada Historiek dalam artikelnya Doodgeslagen met de gaspijp, terbitan 25 Maret 2018.


Sejarah kecil Hindia Belanda memang menyajikan beragam kisah tentang hal-hal yang tak terduga. Terlebih, banyak catatan sejarah kecil Hindia Belanda yang menyebut bahwa terjadi kerentanan yang luar biasa di negeri ini. Banyak orang gila dan sakit jiwa. Pembunuhan Weise menjadi kontroversial tatkala Anam yang memukulnya hingga tewas, dinyatakan memiliki masalah kejiwaan. Sontak beritanya di media massa mulai ramai, tatkala pribumi gila menghias sejarah kecil Hindia Belanda. 


Beberapa koran berbahasa Belanda menyebut bahwa setelah Anam memukul, ia kembali tidur dengan pipa besi yang berlumuran di sebelah tempat tidurnya. Dokternya datang dan langsung menginterogasi Anam. Beruntung, ia tidak dimasukkan ke bui, hanya dipindahkan ke rumah sakit jiwa karena dianggap sangat meresahkan. 

Laporan lain menyebut bahwa Anam sebenarnya telah dibui karena sempat meresahkan sebelumnya. Kabar tentang kondisi mentalnya juga diragukan karena ia sudah dinyatakan sebelumnya, sehingga ia dibui karena meresahkan.


Saat di sel, ia diizinkan keluar untuk sekadar bermain di taman rumah sakit. Di taman, "ia menemukan pipa berukuran besar, lalu dibawanya ke dalam rumah sakit untuk dipukulkannya ke Weise hingga tewas," terus van de Loo. Setelah pemukulan itu, dokter menjumpainya disel karena Anam memerlukan pengawasan intensif terkait perkembangan kesembuhan dan kestabilan mentalnya. Saat dijumpainya di sel, Anam terlihat tertidur dengan sebilah pipa besar berlumuran darah di sampingnya.


Sang dokter membangunkan dan menginterogasinya. Ia mendiagnosis bahwa Anam belum sembuh sepenuhnya. Namun, kondisi di Hindia Belanda belum mampu memfasilitasi para orang gila dan sakit jiwa di sana. Indische Courant juga menyebut bahwa terlalu banyak orang yang gila d Hindia Belanda, membuat keterbatasan rumah sakit jiwa.


"Ruang rumah sakit jiwa tidak pernah dapat memenuhi untuk menampung orang gila di Hindia Belanda," tulis responden Indische Courant.

Kisah sejarah kecil tentang pribumi gila yang meresahkan juga diungkap oleh Patrick Beck kepada Historiek dalam artikelnya berjudul Krankzinnig in Nederlands-Indië terbitan 6 Januari 2021.


Ia mengisahkan sejarah kecil tentang dua saudara gila, Amatardjo dan Amatredjo. Mereka diketahui berada dalam sel tahanan karena permasalahan kriminal sebelumnya. Ketika mereka diminta pihak lapas menebang pohon besar, sontak mereka terlihat menjadi 'linglung.' Setelahnya, mereka dikabarkan berteriak-teriak tak karuan, menjadi liar dan membuat keonaran dalam selnya.


Meskipun dua hari kemudian mereka membaik setelah kekacauan yang disebabkan oleh dua bersaudara aneh itu, Landraad menyarankan untuk memasukkan mereka ke rumah sakit jiwa.

Nahas, ketika pihak lapas menghubungi rumah sakit jiwa, ruang-ruang di rumah sakit jiwa penuh akibat membludaknya jumlah pribumi yang mengidap penyakit mental dan kejiwaan di Hindia Belanda.


Dua bersaudara itu menunggu lima bulan dalam kondisi yang kejiwaan yang memprihatinkan. Begitulah kenyataan yang menyedihkan tentang fasilitas rumah sakit jiwa di Hindia Belanda. 

Perawatan masalah kejiwaan di Hindia Belanda berkembang pesat dalam dekade pertama abad kedua puluh. Secara formal, rumah sakit jiwa di Hindia Belanda dimulai pada tahun 1896.


Sejarah kecil mencatat bahwa pembukaan rumah sakit jiwa pertama dilakukan di Buitenzorg (sekrang Bogor), di mana orang Eropa, pribumi, dan 'Orang Timur Asing' dirawat di sana. Landraden—petugas yang berwenang untuk menerima seseorang pasien gila—menyebut bahwa pada kenyataannya kegilaan seseorang diukur berdasarkan "indikasi sosialnya."


Indikasi kegilaannya tergantung pada orang tersebut dianggap "berbahaya secara sosial, biasanya setelah anggota keluarga atau penduduk desa melaporkan tentang tindakannya yang meresahkan," tambah Beck. Adapun kondisi rumah sakit jiwa yang kerap penuh dan tak mampu menampung banyak pasien gila disebabkan oleh dua hal: kurangnya ruang di rumah sakit jiwa dan kurangnya instrumen diagnostik yang tepat.


Tatkala seseorang mendadak menjadi agresif—mungkin karena penyakit menular atau tekanan hidup yang membuatnya menjadi liar—sudah pasti akan dicap gila oleh lingkungan sosialnya. Inilah yang membuat jumlah pribumi gila membludak di Hindia Belanda. Bagaimanapun, kisah-kisah tentang pribumi gila yang meresahkan di Hindia Belanda akan tercatat dalam sejarah kecil. Suatu kondisi masa silam yang memprihatinkan, menjadi bangsa yang terjajah.


"Ruang rumah sakit jiwa tidak pernah dapat memenuhi untuk menampung orang gila di Hindia Belanda," tulis responden Indische Courant.


Kisah sejarah kecil tentang pribumi gila yang meresahkan juga diungkap oleh Patrick Beck kepada Historiek dalam artikelnya berjudul Krankzinnig in Nederlands-Indië terbitan 6 Januari 2021. Ia mengisahkan sejarah kecil tentang dua saudara gila, Amatardjo dan Amatredjo. Mereka diketahui berada dalam sel tahanan karena permasalahan kriminal sebelumnya. Ketika mereka diminta pihak lapas menebang pohon besar, sontak mereka terlihat menjadi 'linglung.'


Setelahnya, mereka dikabarkan berteriak-teriak tak karuan, menjadi liar dan membuat keonaran dalam selnya. Meskipun dua hari kemudian mereka membaik setelah kekacauan yang disebabkan oleh dua bersaudara aneh itu, Landraad menyarankan untuk memasukkan mereka ke rumah sakit jiwa.


Nahas, ketika pihak lapas menghubungi rumah sakit jiwa, ruang-ruang di rumah sakit jiwa penuh akibat membludaknya jumlah pribumi yang mengidap penyakit mental dan kejiwaan di Hindia Belanda. Dua bersaudara itu menunggu lima bulan dalam kondisi yang kejiwaan yang memprihatinkan. Begitulah kenyataan yang menyedihkan tentang fasilitas rumah sakit jiwa di Hindia Belanda. 


Perawatan masalah kejiwaan di Hindia Belanda berkembang pesat dalam dekade pertama abad kedua puluh. Secara formal, rumah sakit jiwa di Hindia Belanda dimulai pada tahun 1896. Sejarah kecil mencatat bahwa pembukaan rumah sakit jiwa pertama dilakukan di Buitenzorg (sekrang Bogor), di mana orang Eropa, pribumi, dan 'Orang Timur Asing' dirawat di sana.


Landraden—petugas yang berwenang untuk menerima seseorang pasien gila—menyebut bahwa pada kenyataannya kegilaan seseorang diukur berdasarkan "indikasi sosialnya."

Indikasi kegilaannya tergantung pada orang tersebut dianggap "berbahaya secara sosial, biasanya setelah anggota keluarga atau penduduk desa melaporkan tentang tindakannya yang meresahkan," tambah Beck.


Adapun kondisi rumah sakit jiwa yang kerap penuh dan tak mampu menampung banyak pasien gila disebabkan oleh dua hal: kurangnya ruang di rumah sakit jiwa dan kurangnya instrumen diagnostik yang tepat. Tatkala seseorang mendadak menjadi agresif—mungkin karena penyakit menular atau tekanan hidup yang membuatnya menjadi liar—sudah pasti akan dicap gila oleh lingkungan sosialnya. Inilah yang membuat jumlah pribumi gila membludak di Hindia Belanda. Bagaimanapun, kisah-kisah tentang pribumi gila yang meresahkan di Hindia Belanda akan tercatat dalam sejarah kecil. Suatu kondisi masa silam yang memprihatinkan, menjadi bangsa yang terjajah.

Manisnya Tebu, Bermulanya Sejarah Kolonialisme Belanda di Jawa

 Manisnya Tebu, Bermulanya Sejarah Kolonialisme Belanda di Jawa

_____________________________________________



Bermula dari manisnya gula yang sederhana sebagai suguhan manis abad pertengahan, budi daya tebu menjadi pembangkit tenaga ekonomi dunia kemudian. Dari sini, tebu jadi permulaan sejarah kolonialisme dunia. Karena besarnya permintaan gula yang meningkat mendorong kolonisasi dunia baru oleh dominasi bangsa Eropa, membawa perbudakan ke garis depan, dan mendorong revolusi serta sejumlah perang yang brutal. Pusat geografis budi daya tebu bergeser secara bertahap di seluruh dunia selama rentang waktu 3.000 tahun. Tebu seakan jadi komoditas yang cukup dibutuhkan di pasar dunia, menjadi satu tanaman yang cukup diperhatikan pemerintah kolonial.


"Perjalanan tebu berlangsung dari India ke Persia, sepanjang Mediterania ke pulau-pulau dekat pantai Afrika dan kemudian Amerika, sebelum bergeser kembali ke seluruh dunia dan sampai ke Indonesia," tulis James Hancock. Hancock menulis kepada World History dalam artikelnya yang berjudul "Sugar & the Rise of the Plantation System", yang diterbitkan pada 18 Juni 2021. Jenis pertanian yang sama sekali baru diciptakan untuk menghasilkan gula disebut Sistem Perkebunan—dalam sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia dikenal dengan sebutan Onderneming. Sebelum sampai ke Indonesia, untuk memaksimalkan produktivitas dan keuntungan dari perkebunan tebu, budak atau kuli kontrak diimpor untuk memelihara dan memanen tanaman ini yang kemudian menandai dimulainya era perbudakan.


Tidak ada catatan khusus dalam sejarah kolonialisme, tentang kapan dan di mana manusia pertama kali mulai menanam tebu sebagai komoditas tanaman dagang, tetapi kemungkinan besar itu terjadi sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Diperkirakan, komoditas tebu pertama itu ditanam di tempat yang sekarang disebut Nugini. Spesies yang didomestikasi adalah Saccharum robustum atau tebu kuat yang ditemukan ditanam secara padat di sepanjang aliran sungai.


"Tebu selama ribuan tahun hanya dikunyah sebagai makanan manis, dan baru sekitar 3.000 tahun yang lalu orang-orang di India pertama kali mulai memeras tebu dan memproduksi gula," sebut Gopal dalam tulisan Hancock.


"Barulah pada pertengahan 1800-an, akibat besarnya permintaan atas gula, Belanda mulai membangun onderneming yang menanam tebu dan industri gula besar di Jawa dengan mengeksploitasi penduduk asli di sana," lanjut Hancock. Hal ini telah memantik sejarah kolonialisme Belanda di Jawa. Orang Jawa diharuskan menanam tebu untuk kepentingan penguasa (kolonial), mengirimkannya ke perkebunan atau pabrik, dan kemudian bekerja di pabrik-pabrik Belanda di Jawa. Pada tahun 1850-an, Belanda mengumpulkan informasi rinci tentang lebih dari 10.000 desa dan membuat rencana di mana daerah tangkapan air diidentifikasi dengan radius sekitar 4-7 kilometer di sekitar setiap pabrik. "Selama sistem tersebut, jutaan orang Jawa bekerja di pengolahan dan pengangkutan gula—baik melalui kerja paksa maupun kerja bebas," terusnya.


Sistem ini menjadi begitu masif, sehingga pada pertengahan abad ke-19, produksi gula di Jawa menyumbang sepertiga dari pendapatan pemerintah Belanda dan 4 persen dari PDB Belanda. Pada tahun 1870, sebuah Undang-Undang Agraria disahkan di Belanda yang menghapus kerja paksa dan mengizinkan perusahaan swasta untuk menyewa tanah di daerah yang jarang penduduknya. Kelompok tenaga kerja bergeser dari unit keluarga paksa menjadi pelayan kontrak, kebanyakan petani buta huruf dari Jawa dan Singapura. Hal ini menyebabkan investasi yang meluas di perkebunan yang lebih besar dan ekspansi besar-besaran ke Jawa bagian barat dan Sumatra. Tercatat terdapat 94 pabrik gula Belanda bertenaga air, yang mengolah tebu mentah menjadi gula rafinasi.


Salah satu gambaran perusahaan swasta milik orang Belanda, Van Nelle, menjadi besar karena onderneming tebu suksesnya di Semarang. Bermula dari toko sembako sederhana di Rotterdam, Van Nelle menjelma menjadi raksasa industri tebu terbesar di Jawa. Kisah perusahaan Van Nelle bermula saat Johannes dan Hendrica van Nelle, mula-mula mendirikan sebuah toko di Rotterdam yang menjual kopi, teh, dan tembakau. Usahanya lantas berkembang setelah Belanda membangun koloninya di Jawa. Terhitung sejak abad ke-19, usaha keluarga Johannes dan Hendrica van Nelle terus berkembang menjadi usaha berbasis pabrik pengolahan bahan baku. Mereka memperoleh bahan baku dengan membuka perkebunan tebu sendiri di Jawa. Seiring berkembangnya perkebunan tebu dan usaha keluarga Van Nelle, maka toko mereka di Rotterdam disulap menjadi sebuah perusahaan besar. Van Nelle mengembangkan kantor industrinya di Semarang, lengkap dengan perkebunannya.


Mereka juga memikirkan untuk dapat menjual komoditas perkebunannya kepada orang-orang di Hindia Belanda. Pauline K.M van Roosmalen menyebut bahwa Van Nelle merupakan perusahaan di Rotterdam yang menganggap koloni penting. Wilayah koloni mereka di Jawa di satu sisi berperan penting sebagai pemasok bahan mentah, seperti halnya tebu, dan di sisi lain sebagai target pasar untuk produk akhir yang dibuat dengan bahan mentah tersebut.


Semakin besar kemampuan Van Nelle melebarkan kawasan perkebunannya, serta meningkatkan kuantitas dan kualitas produksinya, maka akan semakin mudahnya mereka menjelma menjadi raksasa industri pengolahan tebu menjadi gula di Eropa.Tak heran, "Jawa disebut-sebut menjadi salah satu koloni yang paling menguntungkan secara finansial di dunia," ungkap James Hancock dalam tulisannya. Manisnya tebu, sejatinya mendorong bermulanya sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia.

Kenyataan Di Balik Sejarah Parijs van Java dari Kota Tua Braga

 Kenyataan Di Balik Sejarah Parijs van Java dari Kota Tua Braga

____________________________________________



Menyusuri jalan di bawah rintik gerimis, membuat nuansa kota tua Braga semakin syahdu. Konon, sejak lama Braga dikenal sebagai lokasi paling bersejarah di Kota Bandung. Menjejaki sepanjang jalan pavement, saya melintasi arsitektur demi arsitektur bergaya Eropa yang menghias sepanjang jalan. Barangkali, inilah yang membuat Bandung mendapatkan julukan di zaman Hindia Belanda dengan julukan Parijs van Java.


Terlebih, dari perkomplekan klasik di Braga ini juga istilah Parijs van Java disematkan oleh orang-orang Belanda. Sebuah situs bersejarah yang memiliki keindahan bak Kota Paris. Ditemani pramuwisata, teteh Karin, ia menjelaskan bahwa seluk beluk penyematan Parijs van Java juga dikenal karena Braga merupakan tempat Eropa-Eropa kaya menikmati hidup. Di sudut kota tua itulah, baju impor yang didatangkan langsung dari Paris diperjualbelikan. Orang-orang Eropa maupun Belanda, mulai mengenal Braga laiknya Paris, menjadikannya satu sejarah Parijs van Java. Berbicara tentang sejarah Parijs van Java, histori Braga pernah dikaji oleh Achmad Sunjayadi dalam jurnal Paradigma: Jurnal Kajian Budaya berjudul Melacak Akar Kreativitas di Kota Bandung Masa Kolonial, terbitan tahun 2020.


"Di Jalan Braga sudah berdiri enam rumah terbuat dari batu milik pejabat dan pensiunan Belanda. Ada juga beberapa warung dari bambu dan beberapa toko. Sampai 1881 jumlah rumah di Jalan Braga bertambah menjadi delapan buah," tulis Achmad. Pada tahun 1880-an, hubungan di antara penduduk di Braga tidak terbatas pada penduduk Belanda dengan pribumi. Ada pula penduduk Tionghoa, yang sejak periode terdahulu telah ada di Kota Bandung melalui kegiatan perdagangan. Para pedagang Tionghoa juga kerap berhubungan dengan penduduk lainnya. Dari sana, beragam kuliner khas Tionghoa, seperti bacang, bakmi, bakpau, kecap, sekoteng, tauco dikenal juga oleh penduduk pribumi. Asal-usul nama Braga belum dapat dipastikan. Ada yang mengaitkannya dengan nama minuman yang disajikan di Societeit Concordia (tempat hiburan di sudut jalan Braga), atau ada juga yang menghubungkannya dengan bahasa Sunda.


Dalam bahasa Sunda dikenal dengan baraga atau ngabaraga (berjalan menyusuri sungai). Yang jelas, nama Braga muncul ketika di wilayah itu berdiri toneelvereeniging (perhimpuan sandiwara) di Braga pada 1882. Tujuan perhimpunan toneelvereeniging yang disetujui berdasarkan Gouvernement Besluit Bij Staatsblad No 152, adalah meningkatkan hubungan sosial dengan menyelenggarakan pertunjukan drama, musik, dan karya sastra di Braga. Braga menjelang akhir abad ke-19 telah menjadi kawasan pertokoan. Setiap akhir pekan, khususnya Sabtu sore, toko-toko butik dan fesyen di daerah itu banyak dikunjungi oleh orang Eropa.


Pasalnya, hanya di Braga, mereka menemukan baju dan pakaian mewah yang hanya bisa mereka lihat di Hindia Belanda, selain di Paris. Salah satu toko pakaian yang paling besar di Braga kala itu adalah Onderling Belang. Terjadi juga persaingan antar toko dengan Onderling Belang, yaitu toko pakaian bernuansa Paris, Au Bon Marché serta penjahit seperti Keller’s Mode Magazijn, August Savelkoul.


Peningkatan jumlah orang Eropa di Bandung mendorong pemerintah untuk membangun sarana hiburan. Begitu juga dengan sejarah Parijs van Java yang lekat dengan komunitas Eropa kaya yang menghidupkan budaya hedonisme di Braga.

Pada tahun 1895, di ujung selatan jalan Braga mulai dibangun gedung Societeit Concordia (sekarang bangunan yang terletak di sayap kiri Gedung Merdeka). Gedung mewah itu semula dibangun untuk tempat pertemuan Bandoengsche Landbouwvereeniging (Perhimpunan Pengusaha Perkebunan Bandung).


Kemudian, bangunan mewah itu kemudian direnovasi untuk kegiatan perkumpulan Societeit Concordia dan tempat hiburan (musik dan dansa) bagi orang Eropa, utamanya orang-orang elit dan pengusaha kaya raya Belanda. Dalam laporan surat kabar Bataviaasch Handelsblad bertitimangsa 2 Juli 1879, Berdasarkan Ordonantie Staatsblad 29 Juni 1879 No. 208, selain orang Eropa, orang Tionghoa juga dapat menjadi anggota perkumpulan itu dengan membayar iuran sebesar 5 gulden per bulan.


Selain kegiatan para anggota Societeit Concordia di gedung Concordia, tercatat sejak 1896, setiap akhir Juli hingga awal Agustus selama tiga hari diselenggarakan kegiatan pacuan kuda di lapangan Tegallega. Agenda yang diselenggarakan secara mewah ini diadakan oleh Preanger Wedloop Societeit (Perkumpulan penggemar kuda pacuan). Sontak, pacuan kuda mulai digemari di Bandung, dan menjadi pusat hiburan baru di sana.


Tak sembarangan, Preanger Wedloop Societeit yang didirikan pada 1889, berada di bawah perlindungan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda A.J. Duymaer van Twist yang menjabat pada 1851–1856. Memiliki relasi kuasa, segenap pengurusnya adalah para pejabat Belanda dan pribumi di Preanger Regentschappen (Kabupaten Priangan). Perkumpulan elit ini secara rutin menyelenggarakan kegiatan, seperti pertunjukan musik, dan pesta dansa di akhir pekan. Lantas bagaimana dengan pribumi? Apakah mereka bisa bergabung dengan komunitas elit Societeit Concordia atau Preanger Wedloop Societeit?


Lebih lanjut, Karin menjelaskan tentang adanya diskriminasi yang dialami oleh penduduk pribumi di Bandung. Sebelum pintu masuk menuju Braga, terdapat sebuah gapura bertuliskan: Verboden voor Honden en Inlander. Tulisan itu bermakna "Dilarang masuk bagi anjing dan pribumi." Braga memang tempat yang mewah namun tertutup dari pribumi. Sebuah kenyataan pahit di balik sejarah Parijs van Java.


Memang slogan Verboden voor Honden en Inlander ini tidak hanya ditemukan di Braga atau beberapa tempat di Bandung, tapi juga dibanyak tempat elit yang diisi oleh komunitas kaya Eropa atau Belanda. Bagaimanapun, kecantikan berbalut kemewahan kota tua Braga yang estetik, bergaya klasik, menyimpan sejarah pahit. Sejarah Parijs van Java yang menawan, kenyataannya menyimpan adanya diskriminasi yang memprihatinkan.

Selasa, 26 Agustus 2025

Prabu Susuk Tunggal

 Prabu Susuk Tunggal

( Sang Haliwungan )




Lahir : ?

Gelar : Sang Haliwungan Inya Sang Susuktunggal Nu Munar Na Pakwan.

Raja Kerajaan Sunda ke - 33 : 1382 - 1482 M.

Orang Tua : ♂ Prabu Anggalarang (Prabu Niskala Wastu Kancana / Prabu Wangisutah / Prabu Linggawastu / Raja Sunda), ♀ Lara Sarkati (Nay Ratna Sarkati).

Saudara : ♂Rakryan Ningratkancana / Prabu Dewa Niskala / Raja Sunda, ♂Ki Gedeng Singapura, ♂ Ki Gendeng Sindang Kasih, ♂Haliwungan.

Istri : ♀️Baramuci Larang, ♀️1 Orang Istri.

Anak : ♂ Raden Amuk Murugul, ♀ Kentring Manik Mayang Sunda / Kantri Manik Mayang Sunda (Nyimas Padmawati), ♂️Dipati Kranda, ♂️Wudubasu, ♂️Pulunggana.

Wafat : ?

Makam : ?


Keterangan : 


Sang Haliwungan Prabu Susuk Tunggal adalah Raja Kerajaan Sunda yang memerintah di Kerajaan Sunda dengan gelar Prabu Susuk Tunggal dari tahun 1382 Masehi sampai 1482 Masehi menjadi raja daerah di Pakuan (Bogor), di bawah pemerintahan ayahnya Mahaprabu Resiguru Niskala Wastu Kancana yang memerintah seluruh tanah Sunda.


Biografi


Namanya Sang Haliwungan putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana putra Maharaja Linggabuana putra Aki Kolot Prabu Ragamulya Luhur Prabawa. Dari jalur ibu ia putra Dewi Lara Sarkati putri Resi Susuk Lampung.


Kerajaan Sunda dan Pemerintahannya


Kerajaan Sunda Galuh bersatu masa pemerintahan Mahaprabu Niskala Wastu Kancana dengan pusat kekuasaan di Kawali, ketika Mahaprabu turun tahta, kerajaannya dibagi menjadi 2 blok dengan Citarum sebagai batasnya. Sebelah barat Citarum menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda dengan rajanya Prabu Susuk Tunggal. Sementara sebelah timur Citarum menjadi wilayah kerajaan Galuh dengan rajanya Prabu Dewa Niskala.


Akhir Kekuasaan Sang Haliwungan


Sang Haliwungan atau Prabu Susuk Tunggal turun tahta sebagai raja Sunda digantikan oleh menantu dan keponakanya, Sang Pamanah Rasa atau Jayadewata yang digelari Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Sri Sang Ratu Dewata atau terkenal dengan nama Prabu Siliwangi.


Prabu Susuk Tunggal Murka, Prabu Dewa Niskala Sunting Gadis Pengungsi dari Majapahit

____________________________________________

Raja Sunda Prabu Susuk Tunggal bertahta di Kerajaan Sunda Surawisesa (Bogor). Sedangkan Ningrat Kencana atau Prabu Niskala Dewa naik tahta menggantikan ayahandanya di Kerajaan Galuh Surawisesa (Kawali-Ciamis Utara).


Prabu Susuk Tunggal putra dari Prabu Niskala Wastu Kancana dari Istri pertama Dewi Lara Sarkati. Ia juga punya nama Sang Haliwung atau Tohaan Lampung, diberi kepercayaan oleh ayahnya mewakili pemerintahan menjadi raja di Pakuan Pajajaran (Bogor) tahun 1382 M Sedangkan Prabu Niskala Dewa putra dari Niskala Wastu Kancana dari istrinya yang kedua Mayangsari. Setelah ayahnya wafat ia meneruskan tahta Kerajaan Galuh Surawisesa (Kawali) tahun 1475 M.


Pada saat itu di Tatar Sunda ada dua kerajaan besar dari ayahnya yang satu Prabu Niskala Wastu Kancana, dari dua istri yakni Dewi Lara Sarkati dan Mayangsari. Hanya saja ibu dari Tohaan Lampung asalnya dari Sumatera putra dari Resi Susuk Lampung setelah menjadi raja di Sunda Surawisesa diberi Gelar Prabu Susuk Tunggal.


Di sisi lain Prabu Niskala Dewa lahir rahim Mayangsari yang tidak lain putra pertama dari pamannya Niskala Wastu Kancana Bunisora Suradipati adiknya Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat. Antara Susuk Tunggal yang jadi raja di Pakuan dan Prabu Niskala Dewa di Galuh kadang pada saat itu disebut Pakuan Galuh atau Galuh Pakuan. Tapi seperti yang dikatakan Prof. Dr. Edi S Ekajati kedua kerajaan besar biasa disebut Kerajaan Sunda saja. Setelah Ningrat Kancana atau Prabu Niskala Dewa diangkat menjadi raja di Galuh Kawali (1478 M) terjadi peristiwa yang sangat penting di Pulau Jawa dicatat para ahli sejarah. Di Majapahit terjadi pemberontakan dan perang saudara, Majapahit diserang pasukan Islam dari Demak.


Pemberontakan dipimpin oleh Raden Patah putra Prabu Kertawijaya atau Brawijaya. Akibat perang saudara itu, banyak pembesar dari Majapahit mengungsi ke Galuh diantaranya Raden Baribin.

Diantara gadis dari pengungsi itu ada seorang istri yang dinikahi oleh Prabu Niskala Dewa. Dalam Buku Penyebaran dan Perintisan Islam di Tatar Sunda ditulis Drs. Yuyus Suherman bibit persengketaan muncul antara Prabu Susuk Tunggal dan Prabu Niskala Dewa.


Prabu Susuk Tunggal murka karena Prabu Niskala Dewa telah melanggar aturan dan adat kerajaan Sunda pada waktu itu (Perang Bubat), keturunan dari Kerajaan Sunda (Sunda-Galuh) Prabu Wangi (Niskala Wastu Kencana) tabu untuk mempersunting istri dari Majapahit. Masalahnya selain ada larangan kerajaan dan adat keraton Galuh Kawal. Istri yang dipersunting Niskala Dewa ternyata telah bertunangan. Susuk Tunggal marah terbukti ia memutuskan hubungan kekeluargaan dengan Kerajaan Galuh Surawisesa.


Ketegangan Galuh semakin meruncing. Akhirnya memaksa para sesepuh dari dua kerajaan besar yang dilanda pertentangan itu turun gunung menggelar pertemuan. Hasil kesepakatan dari semua yang terjadi diputuskan Prabu Susuk Tungga dan Prabu Niskala Dewa harus bersama-sama mengundurkan diri menanggalkan tahta kerajaan. Hasil dari pertemuan besar para tetua Galuh dan Sunda disepakati penggantinya Jawadewata putra dari Prabu Niskala Dewa menjadi Raja Galuh Sunda. Prabu Niskala Dewa turun tahta beberapa tahun kemudian ia wawat dan dipusarakan di Gunung Tiga atau Guna Tiga (sekarang Panjalu/Situ Panjalu) Ciamis Utara.


Pembuat Palangga Batu Sakral yang Dipakai Prabu Siliwangi

____________________________________________

Kerajaan Pajajaran menjadi salah satu kerajaan besar di Jawa bagian barat dengan. Kerajaan ini dipimpin oleh rajanya yang masyhur, Prabu Siliwangi. Konon kerajaan ini memiliki wilayah kekuasaan luas di Pulau Jawa bagian barat.

Kekuasaan Kerajaan Pajajaran konon memiliki batu sakral yang menandai kekuasaan raja. Batu itu konon dibuat oleh Susuktunggal.


Batu yang dinamakan palangka atau istilahnya singgasana juga digunakan tempat duduk Sri Baduga Maharaja yang konon identik dengan Prabu Siliwangi. Palangka itu khusus untuk keperluan upacara penobatan raja di Pakuan. Sekarang singgasana itu disebut watu gigilang (batu yang gemerlapan). Konon batu itulah yang sempat diangkut oleh Banten ketika penyerangan ke Pajajaran pada tahun 1579.


Saleh Danasasmita pada "Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi", mengisahkan bagaimana batu sakral yang diangkut itu membuat Kerajaan Pajajaran secara tradisi tidak bisa dilakukan penobatan raja baru. Keraton Sang Bima tempat Siliwangi tinggal dan memerintah sama dengan Sri Bima. Di situ dijelaskan bagaimana Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi menerima warisan Kerajaan Pajajaran dari Susuktunggal. Sedangkan dalam Purwaka Caruban disebutkan bahwa Susuktunggal adalah putera Wastu Kancana.


Hanya saja antara Susuktunggal dan Anggalarang terselang oleh raja-raja seperti Banyaklarang-Banyak Wangi-Munding Kawati. 

Di Purwaka Caruban yang ditulis pada (172) pun terkena penyakit babad umumnya. Misalnya, dari Wastu Kancana ke Maharaja Adimulya hanya terhalang oleh empat raja. 


Padahal Maharaja Adimulya adalah tokoh yang dalam Carita Parahiyangan disebut sebagai Tamperan alias Rakeyan Panaraban, putera Sanjaya. Menurut Poerbatjaraka, Rakeyan Panaraban sama dengan tokoh Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dalam Prasasti Raja Balitung (907), masa hidupnya pada abad ke-8, sedangkan masa hidup Wastu Kancana pada abad ke-15, selisih tujuh abad atau tujuh ratusan tahun.


Tentu saja sangat tak masuk akal jika selisih waktu tujuh abad hanya terisi oleh empat orang raja. 

Susuktunggal memang putera Wastu Kancana. Bisa jadi ia adalah putera sulung yang dijadikan raja di Pakuan. Ini adalah raja daerah, sehingga tidak meneruskan memegang keprabuan. Karena itu, dia tidak bisa dimasukkan ke dalam silsilah khusus Susuhunan Sunda.

Awal Kedatangan Belanda di Jawa dalam Catatan Sejarah Kolonial

 Awal Kedatangan Belanda di Jawa dalam Catatan Sejarah Kolonial

______________________________________________




Akibat krisis ekonomi yang terjadi, Kerajaan Belanda menginisiasi untuk mencari peruntungan dengan melakukan pelayaran jauh ke dunia Timur: menggapai Hindia (Kepulauan Nusantara). Tercatat dalam sejarah kolonial, empat armada Kerajaan Belanda bertolak dari Belanda menuju Hindia. Empat kapal itu bernama Hollandia, Amsterdam, Mauritius dan kapal kecil lainnya bernama Het Duyfken. Kapal-kapal tersebut secara resmi dikomandoi oleh Cornelis de Houtman. Namun, De Houtman harus membagi kekuasaannya dengan dewan kapal yang terdiri dari semua perwira dan pedagang di kapal.


Kemudian, pada tanggal 22 Juni 1596, armada-armada Belanda itu tiba di Selat Sunda, antara Sumatra dan Batavia. Keempat kapal Belanda pertama itu dikawal oleh seorang navigator setempat. Kapal-kapal Belanda itu diarahkan ke Banten, sebuah kota di Jawa Barat yang menjadi ibu kota Kesultanan Banten.

Dalam catatan sejarah kolonial, Kesultanan Banten membentang dari Jawa bagian barat hingga Sumatera bagian selatan. "Ketika De Houtman mengunjungi Banten, ia pergi ke darat dengan berpakaian beludru dan satin dengan rombongan sekitar dua puluh orang," tulis Responden IsGeschiedenis dalam artikelnya berjudul De eerste Nederlanders in Indië, terbitan 14 Januari 2021.


Seorang pemain terompet berjalan di depan dan seorang bintara memegang kerai di atas kepala De Houtman. Bagaimanapun, De Houtman dianggap sebagai orang Belanda pertama yang mampu mencapai Hindia dalam catatan sejarah kolonial. Selain De Houtman, pelaut lainnya bernama Lambert Biesman, disebut terkagum-kagum dan menulis tentang apa yang dilihatnya di pasar-pasar kota Jawa.


Biesman menyebut bahwa "para pedagang dari berbagai negara berkumpul di sini (Portugis, Arab, Turki, Cina, Malaysia, Abyssinia, Bengali, dan sebagainya)." Ia terlihat sangat terkesan dengan panorama dengan segala hal yang ia temui di Banten. Biesman menyerap semua bau, warna, dan suara eksotis yang aneh. Rempah-rempah dan barang dagangan yang dilihatnya hampir semuanya sama sekali tidak dikenalnya. Selepas mendarat, pemimpin rombongan, De Houtman bergegas menemui pemimpin setempat.


Catatan sejarah kolonial menyebut, De Houtman menemui Bupati Banten bernama Ki-Patih Djajanagara untuk mengadakan perjanjian dagang. Sejak awal kedatangan para pelaut Belanda, mereka sangat tertarik dengan lada yang tumbuh di daerah tersebut. Sebab, kualitasnya yang sangat bagus. Sang Bupati Djajanagara membawa De Houtman ke sultan utama Jawa, Keling Padjang.


Setelah berunding beberapa hari, De Houtman dan Padjang akhirnya mencapai kesepakatan pada 3 Juli. Mereka bersepakat, para pedagang Belanda akan diberikan status istimewa atas para pedagang Portugis di wilayah tersebut dan sebagai imbalannya Belanda akan membantu sultan pada masa perang. Perjanjian perdagangan Houtman belum selesai selama dua bulan, ketika masalah sudah muncul. Begitu kembali ke Banten, dia melihat orang Portugis sedang memuat lada ke atas kapal mereka. "De Houtman yang pemarah percaya bahwa perjanjian perdagangannya dengan sultan telah dilanggar dan mengancam akan meminta semua kargo di atas kapal Portugis," imbuhnya.


Portugis telah dikenal sebagai mitra dagang yang dapat diandalkan di Banten selama bertahun-tahun. Mereka menyebarkan desas-desus bahwa Belanda tidak dapat dipercaya. Orang Portugis memfitnah bahwa Belanda hanya mencari keuntungan belaka. Orang-orang Portugis menuding setelah para Belanda mengambil semua lada dari Banten, mereka akan menghancurkan seluruh kota. Akibat desas-desus itu, Sultan Banten segera mengambil langkah tegas. Dalam catatan sejarah kolonial, para pelancong dari Belanda, termasuk Cornelis De Houtman akhirnya ditangkap pada 5 September 1596.


Segera, awak kapal Belanda yang belum sempat ditangkap, mulai menghancurkan kota Banten dengan meriam kapalnya. Setelah kerusakan parah yang terjadi di kota pelabuhan Banten, Belanda menarik kapal-kapalnya untuk menjauh dari daratan. Tak diketahui dengan pasti dalam catatan sejarah kolonial, ke mana mereka pergi dan melabuhkan kapal-kapalnya. Setelah dua minggu kehabisan bekal logistik, kapal-kapal Belanda itu terlihat kembali menyandarkan kapalnya di pelabuhan Banten. Mereka kehabisan akal selain harus membebaskan pemimpin mereka, De Houtman.


Sejumlah awak dalam armada Belanda itu kembali dan melakukan beberapa negosiasi. Alhasil, dibayarkan uang tebusan kepada Gubernur Banten. De Houtman dan awak kapal lainnya yang ditangkap akhirnya dapat dibebaskan. Setelah mengalami kepayahan, Belanda menginginkan beberapa rempah lainnya dari Hindia Timur.


Mereka bergegas ke Maluku, namun melabuhkan armada-armadanya di Sedajoe, bagian Barat pulau Jawa. Awalnya orang-orang penduduk setempat di sana terkesan sangat ramah. Sampai kemudian mereka melihat kapal Belanda itu membawa cengkih dan lada dalam jumlah besar. Pribumi Sedajoe itu meminta kepada De Houtman naik ke kapalnya yang megah. De Houtman hanya melihat pribumi itu selayaknya penduduk primitif, lantas mengizinkan mereka untuk naik ke kapalnya, kapal Amsterdam.


Secara mengejutkan, ternyata semua itu adalah jebakan. Hanya dalam hitungan beberapa menit, dua belas orang Belanda di kapal Amsterdam telah terbunuh. Dalam catatan sejarah kolonial, disebutkan bahwa para awak kapal dikalahkan dengan Spiessen, Boomen, Braetspeten, dan pedang. Orang-orang Belanda itu yakin bahwa Portugis telah berhasil mencuci pikiran seluruh penduduk di pulau Jawa untuk memusuhi pelaut-pelaut Belanda. 


Namun, kemudian De Houtman telah mengetahui bahwa di kawasan Sedajoe dikenal dengan banyaknya bajak laut dan perompak yang terkenal kejam. Perjalanan awal rombongan De Houtman tak berjalan mulus. Setelah mampir sebentar ke Bali, mereka dikisahkan kembali lagi ke Belanda karena kondisi yang tak memungkinkan.


Beberapa kapal Belanda itu kembali dengan 245 karung lada, 45 ton pala, 30 bal fuli dan beberapa porselen Cina, yang cukup untuk menutupi biaya pelayaran. Namun, sesampainya rombongan De Houtman di Belanda, orang-orang di Amsterdam malah dikejutkan oleh sedikitnya awak kapal yang kembali dengan kondisi sehat dan hidup. Sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan tercatat dalam catatan sejarah kolonial di Hindia Belanda.

Sejarah Konglomerasi Oei Tiong Ham, Miliarder Hindia Belanda

 Sejarah Konglomerasi Oei Tiong Ham, Miliarder Hindia Belanda

____________________________________________




Kala itu, surat kabar berbahasa Belanda tengah santer memberitakan satu nama, sejarah konglomerasi besar Hindia Belanda yang kala itu tak ada tandingannya, ialah Oei Tiong Ham, yang merupakan keturunan Tiongkok. "Koran-koran berbahasa Belanda bahkan menyebutnya sebagai orang yang paling kaya di kawasan antara Shanghai dan Australia," tulis Indrawan Sasongko dalam buku 1000 Tahun Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2000.


Jangankan hanya memiliki sepetak rumah dan mobil mewah, sekalipun negara kecil di Singapura, Indrawan menyebut "seperempat dari seluruh tanah dan bangunan di pulau itu milik konglomerat ini." Sejarah konglomerasi menyebut nama perusahaannya, yaitu Oei Tiong Ham Concern, merupakan nama besar dalam dunia bisnis yang sohor sejak tahun 1900-an sampai tahun 1960.


Oei Tiong Ham yang lahir tahun 1866 di Semarang, mewarisi kerajaan bisnis ayahnya yang bernama Oei Tjie Sien. Ayahnya meninggal tahun 1900 dan mewarisi seluruh bisnis dan kekayaannya. Ayahnya mendarat dan bermukim di Semarang tahun 1858, setelah terjadi pemberontakan Taiping di daratan Cina. Saat itupun, Oei Tjie Sie sudah tercatat sebagai miliarder sejak hijrah dari Cina.

"Usaha dagangnya Firma Kian Gwan bergerak di bidang perdagangan hasil bumi, termasuk mengekspor ke Thailand dan Vietnam," imbuh Indrawan. Dalam bab yang dibahas oleh Indrawan Sasongko, ia menguak fakta bahwa di tahun 1883, tercatat kekayaan perusahaannya sudah mencapai angka 3 juta gulden.


Suatu jumlah yang bukan main-main jika dilihat dari besaran nilainya. Bisa dibayangkan jika pada tahun 1930-an saja, uang satu ron atau setengah sen (1/200 gulden) bisa dipakai untuk membeli nasi sepincuk (piring dari daun pisang). Dalam sumber lain, seluruh aset dalam sejarah konglomerasinya mencapai 200 juta Gulden, ketika 1 gulden dapat digunakan membeli 20kg beras. Jika dikonversi, pada tahun 1925, Oei memiliki aset senilai 43 triliun. Oei Tiong Ham memperluas bisnis ayahnya melalui lima pabrik gula dengan perkebunan-perkebunan tebunya di Jawa, perkebunan karet dan lada, sehingga dia dijuluki Raja Gula, Raja Karet, dan Raja Lada. "Produksi pabrik gulanya pada tahun 1912 mencapai 200.000 ton yang merupakan seperenam produksi gula di seluruh pulau Jawa," terusnya.


Hasil produksinya di ekspor dan perdagangan hasil buminya makin diperluas. Oei Tiong Ham mulai membuka kantor di Inggris, daratan Eropa, Amerika, Jepang, dan Australia. Bisnisnya meliputi empat benua (kecuali Afrika), termasuk pabrik alkohol di Shanghai. Kalau dibandingkan dengan keadaan sekarang, kerajaan bisnisnya setingkat dengan perusahaan-perusahaan multinasional, yang dikendalikan dari Singapura. Lapangan kerja yang diciptakan mencapai ratusan ribu.


Menariknya, ia turut terlibat dalam politik kolonial. Oei mengabdi sebagai Luitenant der Chinezen atau Kapitan Cina dalam pemerintahan kolonial Kota Semarang dengan memegang pangkat majoor sampai dengan masa purnanya .Kapitan Cina atau Kapitan Tionghoa merupakan gelar kehormatan yang disematkan untuk petinggi di kalangan masyarakat Cina di Asia Tenggara.


Pemerintah kolonial Hindia Belanda menugaskan para Kapitan Cina untuk mengurusi segala urusan pemerintah dengan masyarakat asing di Hindia Belanda, seperti halnya dengan orang Tionghoa hingga Arab. Ketika mencapai puncak kesuksesannya, ia kemudian meninggal di tahun 1924, Oei Tiong Ham harus melepas seluruh kejayaan dan kekayaannya yang luar biasa. Bagaimana tidak, Perang Dunia I membawa keuntungan besar karena melonjaknya harga hasil bumi, terutama gula.


Sejarah konglomerasinya terseok-seok setelah kematian Oei. Indrawan mengungkapkan bahwa setelah mangkatnya Oei, "bisnisnya lalu dilanjutkan oleh beberapa dari 26 anaknya." Namun, memasuki tahun 1930-an, terjadi krisis Malaise dan Perang Dunia II lewat pendudukan Jepang di Hindia-Belanda telah merampas pabrik-pabriknya. 


masa revolusi fisik di antara tahun 1945-1950, membuat bisnis Oei Tiong Ham Concern di Indonesia menjadi surut. Masa-masa sulit terjadi manakala pada pemerintahan Kabinet Parlementer dan Demokrasi Terpimpin (1950-1960), adanya nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, membuat mega bisnis Oei digabungkan dengan penerapan sosialisme ala Indonesia. 


"Oei Tiong Ham Concern yang berusaha bangkit tidak dapat menyesuaikan diri, sernentara para ahli waris Oei Tiong Ham terlibat dalam sengketa internal tentang siapa yang memiliki dan menjalankan usaha," pungkasnya. Akibat sengketa berkepanjangan, pada tanggal 10 Juli 1961, pengadilan memutuskan untuk menyita seluruh kekayaan Oei Tiong Ham Concern sekaligus menandai berakhirnya sejarah konglomerasi Oei Tiong Ham di Indonesia.


OTHC (Oei Tiong Ham Concern) diambil alih oleh BUMN, aset-aset terbesarnya kini menjadi modal bisnis tebu pemerintah bernama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang mengeklaimnya pada 1964. Setelah pengambilalihan inilah, OTHC mulai memudar, catatan sejarah konglomerasinya hilang dilekang waktu. Bahkan, sampai kini, keturunan-keturunan Oei sudah tidak terdengar lagi kabarnya.

Ila hadroti Syekh Muhammad Kurdi Cibabat Cimahi Rohmatan Wasiatan

Ila hadroti Syekh Muhammad Kurdi Cibabat Cimahi Rohmatan Wasiatan ...



Mama Cibabat KH. Muhammad Kurdi

Mursyid TQN - PP. Al Maqom Cibabat 
Lidvan de rechter (Hakim Anggota) 
Penghulu Besar (Hoefd Penghulu) Bandung-8 1946-1950 (setelah K.H.R. Hidayat dan sebelum K.H. Tamrin)
Sastrawan Sunda (Kitab Pepeling Uncuing & Tongeret)

Lahir : 1839 di Burujul, (Margaasih Kabupaten Bandung)
Wafat : 1954 (usia 115 Tahun)

K.H. Muhammad Kurdi mendapatkan ijazah awal dan ijazah akhir19 di Jabal Abi Qubais Makkah dari Kiai Marzuki dan Kiai Muhammad yang merupakan murid dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas ulama tasawuf yang berasal dari Nusantara.

KH. Muhammad Kurdi berguru dalam bidang ilmu tasawuf kepada KH. Muhammad Alwi di Pesantren Sukapakir Bandung. Kemudian dalam perjalanannya ke Haramayn mendapatkan ijazah awal dan ijazah akhir. Dengan berguru kepada KH. Marzuki dan KH. Muhammad di Jabal Abi Qubais Makkah.

Nampaknya, dengan pertemuan inilah KH. Muhammad Kurdi mendapatkan izin dari gurunya –selain memimpin tarekat setelah kepulangannya– untuk menerjemahkan kitab Fath al-Arifin karya Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Hal ini juga mengindikasikan, proses penerjemahan kitab Fath al-Arifin menjadi awal dari kiprah Mama Cibabat dalam kiprahnya menjadi mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Kitab Uncuing dan Tongeret merupakan satu-satunya karya orisinil milik Mama Cibabat. Berisi tentang perenungannya terhadap dua jenis binatang uncuing dan tongeret. Kitab ini merupakan sebuah syair yang terdiri dari tiga bagian yang berisi tentang nasihat-nasihat agama yang dibalut dalam bingkai kearifan lokal. Secara garis besar, kitab ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, pembahasan Uncuing, kedua, pembahasan Tongeret, ketiga tentang nasihat-nasihat.

Mama Cibabat menjadi salah satu dari sekian ulama Nusantara yang menerjemahkan Fath al-Arifin karya Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Berbeda dengan karya aslinya yang hanya sebelas halaman, terjemahan kitab yang ditulis Mama Cibabat lebih tebal dengan dua puluh empat halaman. Dalam kitab terjemahan ini, Mama Cibabat membagi pada beberapa bagian di antaranya, pembukaan, langkah-langkah menjalani tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, penjelasan dua puluh muroqobah, silsilah keguruan, kemudian di akhir ia menjelaskan tentang bacaan wiridan khataman Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Pada tahun 1338 H atau sekitar tahun 1920, jemaah tarekat Mama Cibabat sudah mencapai ratusan orang. Dalam sebuah catatan pribadinya, terdapat daftar nama pengikut tarekat hingga 141 orang. Hal ini
mengindikasikan bahwa aktivitas tarekat KH. Mama Cibabat berlangsung jauh sebelum tahun tersebut. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, para pengikut tarekat melakukan setoran kepada pimpinan tarekat. Tidak ada catatan autentik yang menerangkan apakah jemaah yang banyak dibimbing oleh Mama Cibabat sendiri atau memiliki wakil-wakilnya.

Kitab Fath al-Arifin merupakan kitab karya Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang menjadi pedoman dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Kitab ini diterjemahkan oleh KH. Muhammad Kurdi ke dalam bahasa Sunda dengan tulisan arab pegon. Di dalamnya berisi silsilah KH. Muhammad Kurdi dalam berguru tarekat. Selanjutnya, berisi tentang pedoman dalam berdzikir Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah, serta
pemikiran Syaikh Ahmad Khatib Sambas perihal 20 muraqabah.

Kitab Yawakit merupakan kitab terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Sunda. Membahas tentang tauhid kepada Allah swt. Ditulis langsung oleh KH. Muhammad Kurdi sehingga termasuk ke dalam sumber primer. Kitab ini ditulis pada tahun 1941. Kitab Uncuing & Tongeret dan Kitab Pepeling Maot yang ditulis langsung oleh KH. Muhammad Kurdi dan diterbitkan oleh Ponpes Al Maqom Cibabat-Cimahi. Kitab ini berisikan tentang syair-syair dalam bahasa sunda dengan nilai-nilai agama. Berisikan tentang nasihatnasihat tentang kematian yang dikaitkan dengan keadaan alam sekitar. Kitab ini termasuk ke dalam sumber primer karena merupakan tulisan langsung KH. Muhammad Kurdi.

Senin, 25 Agustus 2025

Prabu Raga Suci

 Prabu Raga Suci

( Sang Moketeng Taman/ Rakeyan Saunggalah )




Lahir : ?

Raja Sunda Galuh ke - 26 : 1297 - 1303 M.

Orang Tua : ♂️Prabu Guru Darmasiksa/ Prabu Sanghyang Wisnhu, ♀️Putri Sriwijaya.

Saudara : ♀️Puteri Saunggalah, ♀️Puteri Darmageng, ♀️Puteri Dewi Suprabha (Sriwijaya).

Istri : ♀️Dara Puspa.

Anak : ♂️Prabu Citra Ganda/ Sang Moketeng Tanjung.

Wafat : Taman, Ciamis, Jawa Barat ?

Makam : Astana Gede, Situs Kerajaan Galuh, Kawali, Kec. Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46253.


Keterangan : 


Prabu Ragasuci adalah seorang tokoh sejarah yang merupakan raja Kerajaan Sunda. Ia berkuasa antara tahun 1297 hingga 1303 Masehi, dengan berkedudukan di Saunggalah dan dimakamkan di Taman, Ciamis. Meskipun bukan putra mahkota, ia menggantikan kakaknya, Rakryan Jayadarma, yang memegang jabatan tersebut. 


Pusat Pemerintahan: Berpusat di Saunggalah, yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Ciamis. Hubungan dengan Kerajaan Galuh: Ada beberapa perbedaan pandangan mengenai hubungan antara Kerajaan Sunda dan Galuh pada masa itu, namun keduanya memiliki kaitan erat, dan Prabu Ragasuci juga dikenal sebagai bagian dari sejarah Kerajaan Galuh. 


Perubahan Ibu Kota: Perpindahan ibu kota dari Pakuan ke Saunggalah, dan kemudian ke Ciamis, menunjukkan dinamika politik dan sosial pada masa itu, serta pengaruhnya terhadap identitas etnis di Jawa Barat.

Prabu Citraganda

 Prabu Citraganda

( Sang Moketeng Tanjung )




Lahir : ?

Raja Sunda Galuh ke - 27 : 1303 - 1311 M.

Orang Tua : ♂️Prabu Raga Suci/ Sang Moketeng Taman, ♀️Dara Puspa.

Istri : ♀️Ratna Umalestari.

Anak : ♂️Prabu Lingga Dewata/ Sang Mokteng Kikis.

Wafat : ?

Makam : Tanjung, 


Keterangan : 


Prabu Citraganda naik tahta sunda menggantikan ayanya, Prabu ragasuci, Ia berkuasa selama 8 tahun (dari tahun 1303-1311 M), dan berkuasa dengan berkedudukan di pakuan.

      Setelahnya, tahta sunda kemudian diwariskan kepada putranya, Prabu Linggadewata. Prabu Ragasuci ketika meningal, ia dipusarakan (dimakamkan) di Tanjung, sehingga ia dikenal dengan Sang Mokteng tanjung.


Prabu Citraganda adalah seorang penguasa Kerajaan Sunda-Galuh yang disebutkan dalam silsilah raja-raja Sunda. Ia memerintah pada awal abad ke-14, sekitar tahun 1303-1311 M. Ia juga dikenal sebagai suami dari Ratna Umalestari, adik dari Prabu Ajiguna Linggawisesa. 


Berikut beberapa poin penting terkait Prabu Citraganda: 


Penguasa Sunda-Galuh:

Prabu Citraganda adalah salah satu penguasa di wilayah Kerajaan Sunda-Galuh.


Kaitan dengan Kerajaan Talaga:


Ia memiliki hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Talaga. Istrinya, Ratna Umalestari, adalah adik dari Prabu Ajiguna Linggawisesa, yang kelak menjadi raja Kerajaan Talaga.


Pusat Kerajaan:


Pada masa pemerintahannya, ibu kota Kerajaan Sunda beralih dari Pakuan Bogor ke Kawali, Ciamis.


Tokoh Sejarah:


Meskipun namanya disebutkan dalam silsilah kerajaan, informasi tentang Prabu Citraganda relatif terbatas, dan ia lebih dikenal sebagai tokoh sejarah dalam silsilah daripada tokoh yang banyak diceritakan dalam legenda atau mitos.