Rabu, 05 November 2025

SEJARAH KELAM KARAMNYA KAPAL VAN IMHOFF, KEJAHATAN PERANG DI SUMATRA

 Sejarah Kelam Karamnya Kapal Van Imhoff, Kejahatan Perang di Sumatra

___________________________________________



Kejahatan perang Belanda". Begitulah kata pengacara atau polemologist Bert Röling dalam menggambarkan tragedi yang terjadi di dekat Sumatra pada awal tahun 1942. Peristiwa ini menjadi catatan sejarah kelam tatkala kapal Belanda, Van Imhoff, karam di perairan dekat Sumatra. Röling menyebut sejarah kelam itu sebagai drama kejahatan perang yang dilakukan Belanda pada simpatisan Nazi.


Jerman di bawah payung Nazi, pernah menginvasi negeri Belanda pada 10 Mei 1940. Pada saat itu, ratu kerajaan Belanda, Ratu Wilhelmina, beserta kabinetnya melarikan diri ke London. Invasi Nazi ini nampaknya telah berdampak kepada kondisi politik yang terjadi di Hindia Belanda. Orang Belanda menjadi kesetanan. Seluruh simpatisan Nazi di Hindia Belanda jadi bulan-bulanan, utamanya orang-orang Jerman.


"Orang-orang Jerman yang bekerja di Hindia Belanda ditangkapi oleh polisi (Hindia Belanda) dan diinternir dalam berbagai kamp, seperti di Ngawi, Jawa Timur," tulis Rosihan Anwar. Ia menulis kisah tentang para simpatisan Nazi di Hindia Belanda dalam buku gubahannya berjudul Sejarah Kecil petite histoire Indonesia: Jilid 1 yang diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Buku Kompas pada 2004.


Kendati tidak semua orang Jerman menjadi pendukung Nazi, tetapi setidaknya mereka mendukung sosok Adolf Hitler. Hitler adalah seorang pemimpin bertangan besi bagi Nazi di Jerman. Memasuki 8 Desember 1941, Jepang memborbardir Pearl Harbour, menyeret negara Asia Timur itu dalam Perang Pasifik. Belanda yang tergabung dalam ABCD-front (American, British, Chinese, Dutch) menjadi sasaran Jepang.


Jepang langsung merangsek masuk, "menyerbu bagian utara Kalimantan dan Sulawesi," imbuh Rosihan. Belanda yang tedesak, lekas-lekas mengangkut sejumlah interniran Jerman ke India yang kala itu di bawah kuasa Inggris. Pada 19 Januari 1942, kapal Van Imhoff dipercaya untuk mengangkut 477 simpatisan Nazi itu ke India. Kapal ini mulai berlayar darl Pelabuhan Sibolga, Sumatra Utara. Namun, tak berapa lama berselang, sebuah pesawat pengintai Angkatan Laut Jepang (Kaigun) menyerang kapal itu dengan menjatuhkan sebuah bom. Kapal pun mengalami sejumlah kerusakan dan mulai karam. Tercatat sekitar "seratus sepuluh awak kapal Belanda dan para penjaga interniran Jerman menggunakan sekoci-sekoci mereka untuk menyelamatkan diri," lanjutnya. Lantas, bagaimana nasib para interniran?


Para interniran Jerman yang dikungkung di dalam dek kapal dibiarkan begitu saja. Mereka ditinggalkan oleh orang-orang Belanda, dibiarkan mati konyol. Hal ini yang kemudian membuat Belanda dicap melakukan kejahatan perang.

Segalanya tampak sangat suram bagi orang Jerman. Beberapa menjadi frustasi. Ketika menemukan minuman keras di kapal, mereka memilih untuk meneguknya hingga mabuk berat. Beberapa gantung diri atau memotong pergelangan tangan mereka. 


Seorang dokter Jerman yang frustasi, meminum veronal (tablet tidur) sampai overdosis dan meninggal. Menjelang sore, lebih dari lima jam setelah kru dan detasemen keamanan mencari perlindungan, Van Imhoff menghilang, jatuh ke dasar laut. Beruntungnya, satu komandan dari interniran Jerman ditinggalkan sebuah kunci. Inilah yang membuat para tahanan Jerman bisa keluar dari lambung kapal dan menyelamatkan diri. Sayangnya, tidak ada lagi sekoci tersisa. Kapal segera karam, pelan-pelan terus terbenam segera dilahap deburan ombak. Seluruh perbendaharaan kapal yang memberatkan, dilemparkan ke laut, meski sia-sia. Kapal Van Imhoff kepalang rusak. Mereka akhirnya menemukan satu kapal kerja (werkboot) dan beberapa rakit yang bisa digunakan untuk tetap mengapung dan menepi. Nahasnya, beberapa kapal yang melintas tak mau mengangkut para korban.


Werkboot dan dua rakit yang kepayahan itu terjebak dalam hujan deras. Saat cuaca cerah, salah satu rakit menghilang. Ada kemarahan di atas kapal kerja dengan orang-orang di rakit yang tersisa.Beberapa orang Belanda yang turut dalam werkboot menolak untuk ikut mendayung, sehingga sekoci bergerak sangat lambat. Beruntung bantuan segera datang. Pada 22 Januari 1942 atau tiga hari berselang, sebuah kapal penyelamat besar berhasil mengevakuasi 36 orang Jerman yang masih hidup. Mereka dibawa ke Pulau Nias dan menepi di pesisir pantai. Sejumlah interniran yang frustasi langung menggantung dirinya karena tak tahan menderita. Baru sekitar 2 hari kemudian, pertolongan datang. Seluruh interniran Jerman yang selamat akhirnya di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan.


Catatan sejarah kelam dari peristiwa tenggelamnya Kapal van Imhoff menjadi kisah buruk hubungan para interniran Jerman dengan orang-orang Belanda di Hindia Belanda. Mereka menyebut Belanda telah melakukan kejahatan perang. Publikasi tentang karamnya Kapal Van Imhoff mulai merebak di Jerman. Pada tahun 1964, Herman Wigbold, pemimpin redaksi kolom urusan terkini Vara, Achter het Nieuws, menempatkan kliping bahasa Jerman di meja karyawan lepasnya, Dick Verkijk. Verkijk kemudian memvisualisasikan sejarah kelam itu, menjadi sebuah film dokumenter yang ditampilkan di TV. Filmnya berdurasi sekitar 25 menit dari materi yang telah genap terkumpul.


Namun, penyiaran dilarang pada 19 Januari 1965: bukan oleh pemerintah, melainkan oleh pimpinan Vara dalam diri sekretaris televisi, Jan Willem Rengelink. Dia mengambil langkah itu setelah panggilan telepon dari ketua Vara (dan anggota parlemen PvdA) Jaap Burger. Setelah setahun, Wigbold mencoba lagi. Wigbold mempersingkat film dokumenter Verkijk (yang tidak lagi bekerja untuk de Vara) dari 25 menit menjadi 11 menit. Namun, lagi-lagi dia menemui larangan penyiaran.


Pada akhir tahun 1965 dan awal tahun 1966, pelarangan ini mendorong majalah mingguan Jerman, Der Spiegel, mencurahkan dua artikel padat untuk membahas topik tentang pelarangan hak siar film dokumenter Van Imhoff. Akibatnya, ketua partai Henk Lankhorst dari Partai Pasifis-Sosialis (PSP) dua kali mengajukan pertanyaan tentang drama Van Imhoff. Berkat banyaknya desakan dari tokoh nasionalis dan akademisi, film dokumenter sejarah kelam Van Imhoff kembali dibuat.


Alhasil, pada akhir tahun 2017, penyiar televisi menyiarkan film dokumenter yang luar biasa tentang drama Van Imhoff melalui tiga bagian. Lebih-lebih, pada April 2018, film dokumenter itu dianugerahi penghargaan untuk jurnalisme terbaik dalam kategori latar belakang sejarah. Film itu berhasil mengungkap sebuah sejarah kelam yang terjadi di Hindia Belanda, persisnya di perairan Sumatra.

Jumat, 29 Agustus 2025

Nyai Subang Larang

 Nyai Subang Larang

( Dewi Kumalawangi/ Puteri Subang Keranjang)



Lahir : tahun 1404 M.

Isteri Ke 2 Prabu Siliwangi.

Orang Tua : ♂Ki Gedeng Tapa/ Ki Gedeng Jumajan Jati, ♀️Ratna Kranjang/ Karancang.

Saudara : ♂Rd Jayapermana.

Anak : ♂Walangsungsang /Sri Mangana (Pangeran Cakrabuwana), ♀Nyai Rara Santang / Hajjah Syarifah Mudaim, ♂Prabu Kian Santang / Raja Sangara, ♂️Raden Neu Eukeun, ♂️Raden Wastu Dewa (R. Sake), ♂️Dalem Manggu Larang, ♂️Hande Penjo Limansanjaya, ♂️Raden Santang Permana Di Puntang, ♂️Sunan Pangeran.

Wafat : Pakuan, Pajajaran 1441 M.

Makam : Cikaum Tim., Kec. Cikaum, Kabupaten Subang, Jawa Barat.


Keterangan : 


Nyai Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum, yang lahir sekitar tahun 1404. Kisah Nyai Subang Larang tercatat dalam Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN), karya Pangeran Arya Cerbon yang digubahnya pada 1720. Memasuki abad ke-15, tepatnya pada tahun 1415, pasukan Laksamana Zheng He (Cheng Ho) bersama armadanya dari Cina tiba di Muara Jati. "Mereka yang beragama Islam di Muara Jati, diperkirakan telah membawa pengaruhnya, menandai ajaran Islam mulai dikenal di sana," tulis Much Luthfi Fauzan Nugraha.


Ia bersama dengan Dadang Sundawa dan Muhamad Iqbal, menulis tentang catatan sejarah dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, dalam International Journal Pedagogy of Social Studies. Tulisannya berjudul The Existence of Nay Subang Larang as a Source of Value Education in Adolescents in Subang District, publikasi tahun 2020.


"Sekitar tiga tahun berselang, tepatnya pada tahun 1418, seorang ulama Islam bernama Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik, tiba di Muara Jati yang menumpang perahu dagang dari Campa," tulisnya. Pengaruh Islam semakin pekat disana.


"Ki Gedeng Tapa adalah ayah dari Nyai Subang Larang, merupakan syahbandar (pejabat pemerintah) di pelabuhan Muara Jati, sebuah pelabuhan penting di utara Jawa Barat," tambahnya. Dari Muara Jati, diperkirakan Ki Gedeng Tapa dan keturunannya mulai mengenal Islam. "Kemudian Syekh Hasanudin pergi ke Karawang dan mendirikan pasantren di daerah Pura, Desa Talagasari, Karawang, bernama Pesantren Quro," lanjutnya. Dari pesantrennya, Syekh Hasanudin kemudian dikenal sebagai Syekh Quro.


Ki Gendeng Tapa menitipkan anaknya, Kubang Kencana Ningrum, untuk belajar Islam kepada Syekh Quro. "Ia belajar Islam selama 2 tahun bersama Syekh Quro. Di tempat inilah Syekh Quro memberikan gelar Sub Ang larang (Pahlawan berkuda) kepadanya," terang Nugraha dalam tulisannya. Sekitar tahun 1420 Subang Larang Kembali ke Muara Jati. Setelah kepulangannya, dua tahun kemudian, ia semakin dikenal tatar Sunda. "Ia dipersunting pada tahun 1422, sebagai selir permaisuri oleh raja paling sohor dimasanya, yaitu Prabu Siliwangi. Ia merupakan penguasa dan raja terbesar dari Kerajaan Pajajaran," tulis Herwig Zahorka.


Zahorka menulis kisah kesohoran Subang Larang dalam bukunya berjudul The Sunda Kingdom of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Bukunya diterbitkan pada 2007 silam. Menariknya, Subang Larang adalah satu-satunya istri Raja Pajajaran yang memeluk agama Islam. "Ia adalah satu-satunya selir beragama Islam, ditengah lingkungan Kerajaan Hindu (Pajajaran)," lanjut Zahorka. Meski begitu, Subang Larang tetap berpegang teguh dalam keyakinannya dan tak goyah sedikitpun. "Ia menginspirasi melalui kekuatan imannya, menjunjung toleransi ditengah keberagaman. Ia tidak merubah penampilannya, sehingga terpancar inner beauty dalam dirinya," tambahnya.


Catatan Uka Tjandrasasmita, dalam bukunya yang berjudul Jakarta Raya dan Sekitarnya: Dari Zaman Pra Sejarah hingga Kerajaan Pajajaran, terbitan tahun 1977. Menyebut tentang awal mula ketertarikan Prabu Siliwangi kepada Subang Larang. "Prabu Siliwangi jatuh hati setelah mendengar keindahan suara dari lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh wanita berparas cantik jelita bernama Nyai Subang Larang," tulis Tjandrasasmita dalam bukunya.


Seterusnya, dia juga melahirkan para penyebar ajaran Islam di Jawa Barat seperti Raden Kian Santang, Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), dan Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati). "Mereka dididik dengan nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam meskipun hidup di lingkumgan Hindu" tambahnya. Tjandrasasmita meneruskan, bahwa mereka diajarkan untuk hidup disiplin, mandiri, serta menjadi orang-orang yang jujur dan menjauhkan dari sifat-sifat kebohongan. Kisahnya itu menginspirasi rakyat Subang. 


Sosok yang bijaksana, lemah lembut dan sederhana menjadi nilai karakter yang diteladani oleh banyak masyarakat Sunda. Tak pelak, catatan Citra Kabupaten Subang dalam Arsip Nasional Republik Indonesia pada tahun 2015, disebutkan bahwa nama Kabupaten Subang diambil dari namanya. Pengakuan itu diperkuat dengan ditemukannya situs Nyi Subang Larang di Teluk Agung, Desa Nagerang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat pada 1979 dan 1981 di daerah Teluk Agung dan Muara Jati oleh Abah Roheman, warga setempat.

Pangeran Cakrabuana

 Pangeran Cakrabuana

( Pangeran Walangsungsang/ Ki Somadullah/ Haji Abdullah Iman/ Embah Kuwu Sangkan )



Lahir : Pakuan Pajajaran, Kerajaan Sunda 1423 M.

Tumenggung Cirebon Pertama : 1460 - 1479 M.

Orang Tua : ♂ Prabu Siliwangi / Sri Baduga Maharaja Ratu Haji (Prabu Guru Dewapranatha), ♀Nyai Subanglarang / Dewi Kumalawangi (Puteri Subang Keranjang).

Saudara : ♀Nyai Rara Santang / Hajjah Syarifah Mudaim, ♂Prabu Kian Santang / Raja Sangara, ♂️Raden Neu Eukeun, ♂️Raden Wastu Dewa (R. Sake), ♂️Dalem Manggu Larang, ♂️Hande Penjo Limansanjaya, ♂️Raden Santang Permana Di Puntang, ♂️Sunan Pangeran.

Istri : ♀️Nyai Kencana Larang bt Ki Gede Alang-Alang, ♀️Nyi Retna Riris, ♀️Nyi Rasa Jati, ♀️Endang Geulis binti Danuwarsih.

Anak : ♀️Nyi Lara Konda, ♀️Nyi Lara Sejati, ♀️Nyi Jati Merta, ♀️Nyi Mertasinga, ♀️Nyi Campa, ♀️Nyi Rasa Melasih, ♂️Pangeran Cerbon Arya Megger, ♂️Pangeran Pajarakan, ♂️Adegraha, ♀️Nyai Laras Kanda / Rara Jati, ♀️Nyai Jamaras, ♀️Nyai Japamentar, ♀️NRM Pakungwati, ♀️Nyimas Ratu Ayu Gandasari.

Wafat : Cirebon Larang, Pajajaran 1479/ 1529 M.

Makam : 6GG3+JQ9, Unnamed Road, Cirebon Girang, Kec. Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 45171.


Keterangan : 


Pangeran Walangsungsang (bahasa Sunda: ᮌᮥᮞ᮪Gusᮒᮤti ᮝWaᮜᮀlangᮞᮥᮀsungᮞᮀsang, والاڠسوڠساڠWalangsungsang ڮوستيGusti, translit. Gusti Walangsungsang), (dikenal juga sebagai Ki Somadullah, Haji Abdullah Iman, Pangeran Cakrabuana dan Embah Kuwu Sangkan) merupakan putra Prabu Siliwangi dari Nyi Subang Larang.[5] Pangeran Walangsungsang mempunyai dua adik yakni Nyai Mas Rara Santang dan Pangeran Raja Sagara. Ketiga anak ini diyakini yang telah membangun pedukuhan Cirebon (Caruban Nagari).


Pangeran Walangsungsang, menurut Naskah Mertasinga, keluar dari Istana karena kecewa atas perlakuan Prabu Siliwangi kepada ibunya, Dia bersama Rara Santang, kemudian pergi dan pada akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya Cirebon, Pangeran Walangsungsang beradasarkan sejumlah sumber menikah dengan dua wanita dan memiliki 10 orang anak, yakni 8 wanita dan 2 pria. Istri Walangsungsang diantaranya adalah Nyimas Indang Geulis yang melahirkan putri pakungwati Yang kemudian menikah dengan Sunan Gunung Jati.


Perjalanan ke Mekkah


Pada Tahun 1448 Atas anjuran Syekh Datuk Kahfi, Walangsungsang dan Lara Santang berlayar ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Kota Mekkah saat itu berada di bawah naungan Kesultanan Mamluk yang berpusat di Mesir. Kedua bangsawan Sunda ini hidup di Mekkah selama tiga bulan, di bawah bimbingan Syekh Bayanullah (saudara Syekh Datuk Kahfi). Selama di Mekkah, Walangsungsang dan Lara Santang masing-masing mengambil nama Arab, yakni Haji Abdullah Iman dan Syarifah Mudaim. Lara Santang kemudian menikah dengan seorang amir atau bangsawan setempat bernama Syarif Abdullah,[8] dan berputrakan Syarif Hidayatullah (kelak menjadi tokoh berpengaruh di Jawa) yang dipekirakan lahir pada tahun itu juga. Ia tampaknya menetap di sana bersama suami dan putranya, sementara Walangsungsang pulang ke Cirebon.


Masa pemerintahan


Walangsungsang berkuasa sebagai Kuwu Cirebon menggantikan Ki Gede Alang-Alang. Ia kemudian memproklamirkan Cirebon sebagai sebuah Nagari, di mana ia meleburkan seluruh Nagari Singapura ke dalam kekuasaannya. Ia juga menyatukan Nagari di sekelilingnya, yakni Surantaka, Wanagiri, dan Japura ke dalam Kesultanan Cirebon. Sejak saat itu, Walangsungsang lebih dikenal dengan nama barunya, Pangeran Cakrabuana. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Cirebon berbatasan dengan Cimanuk (Indramayu) di barat, Rajagaluh (Majalengka), Saunggalah (Kuningan), Dayeuhluhur, dan Pasirluhur (Cilacap-Banyumas) di selatan, Paguhan (Tegal-Pemalang) di timur, dan Laut Jawa di utara. Pelabuhan utamanya adalah Muara Jati. Cakrabuana tetap berkuasa di bawah Kerajaan Galuh. Ia mengirimkan upeti (bulubekti) tahunan kepada Tohaan ("Yang Dipertuan") atau Raja Galuh yang juga merupakan kakeknya, Dewa Niskala. Sang kakek mengirim misi perutusan ke Cirebon untuk melantik Cakrabuana secara resmi sebagai raja daerah dengan gelar Tumenggung Sri Mangana. Misi ini dipimpin oleh Tumenggung Jagabaya dan Raden Kian Santang (adik kandung Cakrabuana). Kian Santang kemudian menetap di Cirebon mendampingi kakaknya.


Kedatangan Syarif Hidayutullah


Pada tahun 1474, Syarif Hidayatullah berangkat ke Jawa untuk mendakwahkan agama Islam. Sebelumnya, ia telah banyak berguru kepada sejumlah ulama Arab di Kesultanan Mamluk, khususnya di Mekkah dan Baghdad. Dalam perjalanan ke Jawa, ia singgah di Gujarat dan Pasai. Di Pasai, ia bertemu dengan Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri.


Setahun kemudian, pada tahun 1475,[d] Syarif Hidayatullah tiba di Jawa. Ia mendarat di Banten, dan tampaknya bertemu dengan Sunan Ampel, seorang ulama anggota Dewan Walisanga. Ia mengajaknya ke pesantren yang dipimpinnya di Ampeldenta (Surabaya) dan menggemblengnya sebagai seorang pendakwah. Ia akhirnya diangkat sebagai anggota Walisanga, dengan tugas menyebarkan Islam di Tatar Sunda (Jawa Barat). Setelah itu, Syarif Hidayatullah akhirnya berlayar ke Cirebon, didampingi sekelompok pelaut India pimpinan Dipati Keling, yang telah memeluk Islam dan mengabdi kepadanya. Sesampainya di Cirebon, ia disambut oleh pamannya, Cakrabuana. Oleh sang paman (uwa), Syarif Hidayatullah dianugerahi gelar Syekh Maulana Jati. Ia bermukim di daerah Gunungjati, dan menjadi pendakwah Islam utama di sana menggantikan Syekh Datuk Kahfi (yang telah lama wafat). Ia juga sempat tinggal di Banten, di mana ia berhasil mengislamkan Bupati Kawunganten dan menikahi putrinya, Nyai Ratu Kawunganten. Pada tahun yang sama, Maharaja Sunda, Niskala Wastukancana wafat setelah memerintah selama 104 tahun. Pasca kematiannya, Kerajaan Sunda kembali dibagi dua, dengan Sunda (beribukota di Pakwan) di bawah Susuktunggal atau Sang Haliwungan dan Galuh (beribukota di Kawali) di bawah Dewa Niskala atau Prabu Anggalarang.


Pernikahan Syarif Hidayatullah dengan Dewi Pakungwati

sunting

Pada tahun 1478, Syarif Hidayatullah menikahi Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana (dalam arti lain sepupu Syarif Hidayatullah). Pangeran Sabakingking lahir.[12] Ia merupakan putra dari sang Syarif dengan Ratu Kawunganten, yang pada abad berikutnya akan menjadi seorang tokoh berpengaruh yang mendampingi ayahnya. Pada tahun yang sama, Kesultanan Demak dideklarasikan sebagai negara merdeka di Jawa Tengah oleh Raden Patah dan Walisanga, menyusul pecahnya kudeta di Majapahit yang menewaskan Bhre Kertabhumi, ayah Raden Patah.


Pengunduran diri Pangeran Cakrabuana


Pada tahun 1479, Syarif Hidayatullah diangkat menjadi Tumenggung Cirebon (didukung Wali Sanga), menggantikan pamannya yang mengundurkan diri secara sukarela. Ia tetap tunduk sebagai raja daerah Galuh dan mengirim upeti ke Kawali, setidaknya hingga tiga tahun kemudian. Sementara itu, Pangeran Cakrabuana selanjutnya lebih banyak hidup sebagai pengembara, meskipun sesekali tetap mendampingi keponakannya dalam memerintah di Cirebon. Masih pada tahun yang sama, Syarif Hidayatullah pergi ke Demak atas undangan Raden Patah dan para wali. Mereka pun mengangkat Syarif Hidayatullah sebagai Panatagama Rasul ing Tanah Pasundan (“Penyiar Agama Rasul di Tanah Sunda”). Sejak saat itu, hubungan Cirebon dan Demak pun mulai terjalin. Syarif Hidayatullah kemudian juga turut serta membangun Masjid Agung Demak, dengan mendirikan sebuah tiang besar sebagai salah satu dari empat sokoguru di dalam masjid itu.


Cirebon pasca-pemerintahan Pangeran Cakrabuana


Setelah pengunduran diri Pangeran Cakrabuana. Pada tahun 1480, Syarif Hidayatullah mendirikan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Dalam pembangunannya, ia dibantu oleh beberapa Walisanga lainnya (Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Kudus) serta Raden Sepat, seorang arsitek Jawa dan bekas petinggi Majapahit dari Demak. Raden Sepat kemudian mengabdi kepada Syarif Hidayatullah dan membantu memajukan pembangunan di Cirebon.


Setahun kemudian pada 1481, Syarif Hidayatullah berkunjung ke Kekaisaran Cina (Dinasti Ming). Di sini, Syarif Hidayatullah menikah dengan Ong Tien Nio, seorang putri setempat.[e] Ia membawa istri barunya itu kembali ke Cirebon. Keduanya tampaknya memiliki seorang putra, yakni Suranggajaya atau Arya Kamuning. Kedatangan Ong Tien Nio ke Cirebon memberikan pengaruh bagi Keraton Pakungwati, di mana unsur-unsur kebudayaan Cina seperti porselin, guci, dan hiasan dinding ditempatkan di banyak sudut istana, serta sejumlah bangunan penting lain seperti masjid.


Proklamasi dari Nagari ke Kesultanan


pada tahun 1482, Syarif Hidayatullah memproklamasikan Cirebon sebagai kerajaan yang merdeka dari Galuh maupun Sunda. Beban upeti ditambah usaha untuk memperluas pengaruh Islam tampaknya menjadi penyebabnya. Sebagai raja merdeka, Syarif Hidayatullah mengangkat dirinya dengan gelar baru, Susuhunan Jati Purbawisesa alias Sunan Gunung Jati. Ia juga mengganti nama istana kediamannya, Jalagrahan, menjadi Keraton Pakungwati, yang tetap berlokasi di daerah Kebon Pesisir atau Kota Cirebon. Ia tampaknya juga merombak pembagian wilayah kekuasaannya, dengan meleburkan nagari-nagari Surantaka, Singapura, dan Wanagiri menjadi dua kadipaten baru, Cirebon Girang dan Cirebon Larang, serta membentuk nagari baru, Losari yang dipecah dari Japura. Deklarasi kemerdekaan Cirebon disambut dengan keras oleh Sri Baduga Maharaja, yang segera mengirim pasukan pimpinan Tumenggung Jagabaya untuk “menertibkannya kembali”. Namun, pasukan Sunda dihadang oleh seluruh penduduk Cirebon yang jumlahnya melebihi mereka. Jagabaya pun menyerah kalah, dan bersama seluruh prajuritnya akhirnya memutuskan untuk mengabdi kepada Sunan Gunung Jati dan masuk Islam.


Renovasi Keraton Pakungwati


Tahun 1483, Sunan Gunung Jati melakukan renovasi Keraton Pakungwati. Ia memperluas kompleks istana itu dan menambahkan bangunan-bangunan pelengkap. Ia juga membangun tembok pertahanan setinggi 2 meter yang mengelilingi ibukota Cirebon, yang dilengkapi dengan pintu gerbang bernama Lawang Gada. Pembangunan infrastruktur lain juga dilakukan, seperti pembangunan pangkalan perahu di tepi Sungai Kriyan, istal (stable) kuda kerajaan, dan pos-pos penjagaan. Pelabuhan Muara Jati juga diperbaiki dan disempurnakan, dengan bantuan masyarakat Cina yang tinggal di daerah itu. Di bidang keamanan, Sunan Gunung Jati juga membentuk Pasukan Jagabaya, yang difungsikan sebagai penjaga dan pemelihara keamanan di masyarakat, selayaknya polisi saat ini.


Kedatangan bangsawan Arab


Pada tahun 1485, Serombongan bangsawan Arab dari Baghdad[g] pimpinan Maulana Abdurrahman dan dua adiknya (Maulana Abdurrahim dan Syarifah Baghdadi) tiba di Cirebon dan mengabdi kepada Sunan Gunung Jati. Mereka diterima oleh Sunan Gunung Jati, yang kemudian menikahi Syarifah Baghdadi alias Nyai Lara Baghdad. Sang Maulana sendiri kemudian dianugerahi gelar Pangeran Panjunan oleh Sunan Gunung Jati.


Setahun kemudian pada 1486, Pangeran Jayakelana, putra pertama Syarif Hidayatullah dengan Syarifah Baghdad, lahir. Disusul dengan kelahiran Pangeran Bratakelana pada 1488. Disisi lain, istri Syarif Hidayatullah dari Cina, Ong Tien Nio, wafat.


Proyek pembangunan besar-besaran


Dengan bantuan Raden Sepat, Sunan Gunung Jati melakukan sejumlah proyek pembangunan, antara lain perluasan Keraton Pakungwati, penyelesaian pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, pembuatan jalan yang menghubungkan Keraton dengan pelabuhan utama di Muara Jati dan pusat ekonomi di Pasambangan. Ini semua terjadi pada 1489.


Untuk kesekian kalinya, pada 1491, 2 tahun setelah proyek pembangunan dimulai, Syarif Hidayatullah menikah dengan Nyai Ageng Tepasari, putri dari Ki Ageng Tepasan, seorang bekas pejabat Majapahit yang mengabdi kepada penguasa Demak. Dari istrinya ini, Sunan Gunung Jati memiliki dua orang anak, yakni Ratu Ayu dan Pangeran Mohammad arifin (Mohammad Arifin dilahirkan pada 1495), yang nantinya akan menurunkan raja-raja Cirebon berikutnya.


Dibawah Sunan Gunung Jati, Cirebon melakukan aneksasi ke Kuningan. Yang kemudian dijadikan Kadipaten dibawah Kesultanan Cirebon. Arya Kamuning kemudian ditunjuk sebagai Adipati Kuningan pada 1498. Setelah aneksasi Kuningan, Sunan Gunung Jati melakukan perluasan kompleks Keraton Pakungwati. Ia mendirikan sejumlah bangunan tambahan seperti Ketumenggungan (semacam barak militer?) dan Masjid Jagabayan. Ia juga merenovasi kembali Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Sementara itu, Pangeran Cakrabuana berkunjung ke Samudera Pasai. Di sini, ia menemui rajanya (Sultan Adlullah) yang tengah sakit dan berhasil menyembuhkannya. Pangeran Cakrabuana kemudian mengadopsi salah satu putri sang Sultan, seorang bayi perempuan yang baru lahir dan telah menjadi piatu (ibunya wafat setelah melahirkan). Bayi ini dibawanya kembali ke Cirebon, kemudian dibesarkan dengan nama Gandasari. Ia menjadi saudari angkat Sunan Gunung Jati dan kelak dikenal sebagai salah satu panglima perang Cirebon.


Wafat


Pangeran Cakrabuana Wafat pada tahun 1529 Saat Pertempuran pecah di Pegunungan Kromong dan Gempol, yang berakhir dengan kemenangan pasukan Cirebon. Panglima perang Galuh, Arya Kiban gugur menyebabkan moral pasukan Galuh turun dan dapat dikalahkan dengan mudah. Pasukan Cirebon lalu bergerak ke Nagari Talaga di selatan. Mereka berhasil menundukkannya dan mengislamkan penduduknya.

Nyai Ambetkasih

 Nyai Ambetkasih

( Nhai Ambet Kasih/ Nyai Rambut Kasih/ Ngambetkasih/ Ratu Ayu Panvidagan )



Lahir : ?

Istri Pertama Prabu Siliwangi/ Garwa Padmi 1.

Orang Tua : ♂️Ki Gedeng Sindang Kasih (Syahbandar Pelabuhan Cirebon) /Gedeng SindangKasih Gedeng, ♀️Dampu Awang.

Suami : ♂️Sri Baduga Maharaja/ Prabu Siliwangi II/ Raden Pamanah Rasa/ Ratu Sakti Sangabatan.

Anak : ♂️Banyak Cotro Kamandaka, ♂️Prabu Banyak Larang, ♂️Banyak Ngampar Silihwarni (Arya Gagak Ngampar), ♀️Retna Ayu Mrana /Ayu Mrana.

Wafat : ?

Makam : 46RV+2G5, Sindangkasih, Kec. Majalengka, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat 45411.


Keterangan : 


Nyai Ambetkasih atau Nhai Ambet Kasih atau Nyai Rambut Kasih atau Ngambetkasih adalah salah satu istri Maharaja Kerajaan Sunda-Galuh atau Pajajaran Prabuguru Dewataprana Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi atau Raden Pamanahrasa. Nama Nyai Ambetkasih tertulis dalam Naskah Sunda Kuno (NSK) berjudul "Cariosan Prabu Siliwangi" yang ditulis di atas kertas kayu atau Daluwang pada tahun 1435 Masehi. Naskah Cariosan Prabu Siliwangi ini disalin ulang pada tahun 1675 dan kini disimpan di Museum Geusan Ulun Sumedang Jawa Barat. Selain itu, nama Ambetkasih juga tercatat dalam naskah lontar Carita Ratu Pakuan dan Cerita Purwaka Caruban Nagari (1720 M).


Silsilah Nyai Ambetkasih


Nyai Ambetkasih adalah putri Ki Gede ing Sindangkasih (Juru Pelabuhan Muarajati Cirebon) putra Prabu Rahyang Bunisora Suradipati atau Prabu Rahyang Borosngora. Prabu Bunisora Suradipati adalah adik Prabu Linggabuana yang gugur dalam Perang Bubat. Ia menjadi wali karena putra Linggabuana yaitu Niskala Wastu Kancana masih berusia 7 tahun. Kelak dikemudian hari, Niskala Wastu Kancana menikahi putri pamannya Bunisora Suradipati yaitu Dewi Mayangsari (Nyai Ratna Mayangsari). Dari Dewi Mayangsari, dikaruniai anak Dewa Niskala. Dewa Niskala adalah Ayahanda Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja. Dari istrinya Niskala Watu Kancana yang lain, yaitu Lara Sarkati (putri Raja Lampung) dikaruniai anak bernama Susuk Tunggal. Prabu Sahyang Bunisora Suradipati (Prabu Kuda Lalean) memiliki putra-putri yaitu:


Giridewata (Ki Gede ing Kasmaya Cirebon)

Bratalegawa (Haji Purwa Galuh)

Nhay/Nyai Ratna Mayangsari (Dewi Mayangsari)

Banawati

Putra-putri Nyai Ambetkasih

sunting

Menurut Babad Pasir dari Cilacap Jawa Tengah, dari pernikahan Nyai Ambetkasih dan Prabu Siliwangi (Raden Pamanahrasa) memiliki 3 orang putra-putri, yaitu:


Banyak Catra (Banyak Cotro) atau Kamandaka

Banyak Ngampar (Gagak Ngampar)

Nhay Ratna Pamekas (Retna Ayu Mrana)

Dari Banyak Catra ini menurunkan raja-raja di Kerajaan Pasir Luhur (Eks Keresidenan Banyumas Jawa Tengah) dan Banyak Ngampar di Kerajaan Daya Luhur (Kabupaten Cilacap Jawa Tengah). Sementara dalam legenda Majalengka tidak menceritakan Nyai Ambetkasih memiliki anak.


Sosok Nyai Ambetkasih


Sosok Nyai Ambetkasih adalah seorang pemberani, memiliki paras cantik molek, berambut panjang, bijaksana dan waspada Permana Tingal.[3] Dalam kisah legenda Majalengka, disebutkan bahwa Nyai Rambut Kasih (Ambetkasih) adalah seorang raja di Sindangkasih Majalengka. Menurut naskah-naskah Sunda kuno, Sindangkasih Majalengka adalah Mandala Sindangkasih.


Sebuah Mandala adalah kawasan perdikan atau pendidikan di zaman Sunda Kuno bercirikan ajaran sinkretisme dengan sebutan Lemah Dewasana. Sedangkan tempat pendidikan keagamaan Jati Sunda disebut Lemah Parahyangan atau Kabuyutan. Para Ajar atau Maharesi atau Mahawiku di Mandala-mandala biasanya adalah para bangsawan bahkan para pangeran atau rajaputra (putra mahkota) atau para putri raja. Struktur 'kepengurusan' Mandala ada rakyat sekelilingnya atau di lingkungan sekitarnya (tepi i siring atau tepiswiring) dan keamanannya dijamin oleh negara/kerajaan dengan menempatkan para prajurit penjaga keamanan. Oleh karena itu, Mandala sering dimaknai atau dipandang kalangan rakyat sebagai sebuah kerajaan. Meskipun demikian, pandangan Mandala sebagai kerajaan juga beralasan (Selain strukturnya mirip kerajaan), ada beberapa ke-Mandala-an kemudian berubah menjadi kerajaan seperti Mandala Wanagiri Cirebon menjadi Kerajaan Wanagiri, Mandala/Kabuyutan Galunggung menjadi Kerajaan Galunggung dan Mandala Kendang di Nagreg Bandung menjadi Kerajaan Kendan, pendahulu Kerajaan Galuh. Sedangkan Mandala Sindangkasih di Majalengka dianggap masyarakat sebuah Kerajaan Sindangkasih. Lokasi Ki Gede ing Sindakasih berada di Beber Kabupaten Cirebon sekarang. Sedangkan wilayah yang disebut Sindangkasih pada abad ke15 mencakup kawasan bagian utara Majalengka. Secara administratif, wilayah Mandala Sindangkasih termasuk dalam wilayah Kerajaan Sumedang Larang. Barulah wilayah Sindangkasih (Kota Majalengka sekarang) diserahkan oleh Sumedang Larang ke Panembahan Girilaya Cirebon sebagai talak Ratu Harisbaya yang diculik Prabu Geusan Ulun.


Pertemuan dengan Prabu Siliwangi


Kisah pertemuan Nyai Ambetkasih dengan Prabu Siliwangi diceritakan panjang lebar dalam Naskah Cariosan Prabu Siliwangi. Dalam naskah Cariosan Prabu Siliwangi, kisah Ambetkasih diceritakan panjang lebar hingga menjelang pernikahannya. Penelitian terhadap Naskah Cariosan Prabu Siliwangi dilakukan oleh Lembaga Penelitian Prancis untuk Timur Jauh (EFEO, École française d'Extrême-Orient). Hasil penelitiannya diterbitkan tahun 1983.


Kurun waktu yang digambarkan oleh Cariosan prabu Siliwangi adalah bagian pertama dari hidup Siliwangi ketika ia sebagai seorang putra mahkota muda berumur sembilan tahun, Pamanahrasa, putra kedua Anggalarang (Dewa Niskala) dari permaisuri Umadewi. Wajahnya bersinar, sehingga dapat dianggap sebagai jelmaan Wisnu (Pupuh I:29.6). Kakaknya adalah putra dari Selir yang bernama Astunalarang (Sang Astunawangi). Ada satu lagi anak Prabu Anggalarang (si bungsu) bernama Rangga Pupuk. Kakaknya sangat iri terhadap pamanahrasa, karena ia Putra permaisuri. Astunalarang mencoba membunuh Pamanahrasa, adiknya itu. Kemudian Pamanahrasa diasingkan dari kerajaan dan dijualnya sebagai budak hitam dengan dibaluri ceumeung. Jika tidak dibaluri ceumeung dan kelihatan bersih serta wangi, serta memakai perhiasan kerajaan, ia tak akan dibeli orang. Seorang panakawan (pelayan) Rajaputra Astunalarang yang bernama Tandesang menganjurkan agar Pamanahrasa mengubah namanya menjadi asilih wawangi (Pupuh III: 57.7-58.2). Itu pun disetujui Pamanahrasa yang menjawab: "sebut saja saya si Siliwangi", yaitu Si Ganti Harum dan mengubah gelang emasnya dengan gelang besi. Siliwangi atau Pamanahrasa dalam teks Cariosan Prabu Siliwangi disebut juga sebagai Rajasunu atau Rajasiwi.


Hilangnya Pamanahrasa dari keraton berlangsung 5 tahun. Kemudian pengembaraannya menjauhkan Siliwangi dari tahta Kerajaan. Sedangkan sifat-sifatnya yang luar biasa, membawanya untuk mengadakan persekutuan dengan sekian banyak raja, misalnya raja Ponggang, Singapura (Cirebon), Sumedang Larang, Kawali, Panjalu, Pekalongan, Balangbangan (Balungbungan?) yang memilihnya sebagai raja mereka, karena mengakui keunggulan dan kesaktian Siliwangi. Agar lebih memperkuat Siliwangi dalam kedudukannya yang menonjol itu, mereka menghadiahkan saudarinya untuk diperistri. Perkawinan yang ada lebih berisfat politis dan simbolis. Tradisi mengawinkan saudara perempuan raja dengan raja yang memiliki kharisma tinggi dicatat oleh para penjelajah Portugis ketika tiba di Sunda Kalapa.


Negeri Balangbangan mungkin berasal dari kata Balungbungan bukan Blambangan dalam naskah ini disebutkan dirajai oleh Amukmurugul atau nama lainnya Surabima Lembugora Panji Wirajaya/Wirajayeng Satru/Rajapanji. Mungkin, dalam naskah ini penyebutan Balangbangan diartikan sebagai "negeri timur". Kini negeri atau Kerajaan yang dirajai oleh Amukmurugul adalah Kerajaan Japura yang berlokasi di timur Kabupaten Cirebon, meliputi Sindanglaut hingga Ciledug.


Ada yang paling perlu kita catat adalah perkawinan Siliwangi (Pamanahrasa) dengan putri raja Singapura, yang bernama Mrajalarangtapa (Subanglarang). Siliwangi acuh tak acuh terhadap perkawinan politik itu. Siliwangi ditakdirkan Dewa kepada seorang putri cantik Ambetkasih, putri seorang juru pelabuhan Sindangkasih yang telah menukarkan kayu jati serta satu jungkung (Kapal Jung) dengan budak hitam (Pamanahrasa), ketika mau dijual di pelabuhan. Rencananya Pamanahsara akan dibeli oleh Minadi, Sang Juragan Nahkoda dari Palembang. Selanjutnya, Pamanahrasa mandi di Pancuran Cibasale, sehingga ia kembali kepada rupa asalnya. Menarik, bahwa nama Cibasale kini ada di kecamatan Majalengka kulon, Majalengka. Ada lagi wilayah 'katenggang' alias neggang dapat terlihat dari kejauhan, tempat Lampungjabul dan kawan-kawan diami, kemudian diganti nama menjadi Pan(y)ingkiran. Kemudian disebut negeri Maoslengka (Pupuh XIV:27) sebagai negeri asal nenek moyang Amukmurugul, sebelum ia memerintah Balangbangan (peneliti EFEO menuliskan = krama dari Majalengka?).


Kisah Cariosan Prabu Siliwangi berakhir di tengah percintaan Ambetkasih dan Siliwangi diambang perkawinan mereka. Ambetkasih disebut sebagai bidadari Supraba.


Leluhur Raja-raja Pasir Luhur dan Daya Luhur


Ambetkasih dalam sejarah Cilacap dan Banyumasan yang mengacu pada Babad Pasir memiliki 3 orang anak: 2 orang putra dan 1 orang putri, yaitu Banyak Catra (Kamandaka), Banyak Ngampar (Gagak Ngampar) dan Ratna Pamekas (Retna Ayu Mrana). Pada tahun 1455 M, Kerajaan Daya Luhur sudah dipimpin oleh raja Banyak Ngampar. Tahun 1455 ini, berarti Sribaduga Maharaja (Siliwangi) belum menjadi raja Sunda-Galuh (Pajajaran) dan masih dikenal dengan gelarnya Pangeran Pamanah Rasa. Dalam kisah Ratu Pakuan, digambarkan iring-iringan Ambetkasih yang pindah dari istana timur (Keraton Surawisesa di Galuh) menuju Istana Barat di Pakuan Pajajaran (Sunda).


Petilasan Nyai Ambetkasih (Rambut Kasih)


Petilasan Nyai Ambetkasih berada di selatan kota Majalengka yang biasa disebut "Petilasan Nyai Ratu Rambut Kasih". Menurut naskah Cariosan Prabu Siliwangi, petilasan Nyai Rambutkasih di desa Pasirlenggik desa Sindangkasih di selatan kota Majalengka adalah tempat pertapaan Ambetkasih (Rambutkasih). Dikatakan bahwa Ambetkasih sering datang mengasingkan diri dan dimana diperkirakan beliau ngahiyang ke alam baka. Sebuah kompleks purbakala berupa tumpukan batu besar berliang dianggap oleh penduduk sebagai tempat duduk Ambetkasih beserta para pengiringnya, sedangkan ditengahnya disebut Arca Ambetkasih. Terlihat, di depan setiap batu, jelas ada bekas tempat pemujaan yang terus menerus.


Kabupaten Sindangkasih


Kabupaten Sindangkasih Majalengka dipimpin oleh Tumenggung Natakarya (1741-1762). Nama-nama pemimpin sebelumnya adalah Tumenggung Jaya Kusumah (Buyut Pandey Sindangkasih), Tumenggung Jagawéswa (Tumengung Yogaweswa Regent Of District Sindangkassie),[10] pangéran Jaya Wiyasa, Pangéran Martaguna, Embah Kawung Poék, Embah Jénggot, Embah Karsijem. Pusat pemerintahan Kabupaten Sindangkasih berada di kecamatan Cigasong Majalengka sekarang ini. Kemudian pada tahun 1840 Kabupaten Sindangkasih disatukan dengan Kabupaten Maja dan berubah nama menjadi Majalengka.


Ada sebuah Petirtaan Kerajaan Sindangkasih berukuran 15 x 25 meter yang kini masih bisa dilihat di Cigasong dengan nama Kolam Sang Raja. Menurut Naro, seorang penggiat Grumala (Grup Madjalengka Baheula), Penamaan Sang Raja diberikan Bupati Majalengka zaman Belanda pada tahun 1927.

Rabu, 27 Agustus 2025

Prabu Kian Santang

 Prabu Kian Santang

( Raden Sanggara/ Radja Sangara/ Syeh Sunan Rohmat Suci )



Lahir : Pakuan Pajajaran, Kerajaan Sunda 1427 M.

Dalem Bogor ke - 2.

Orang Tua : ♂ Prabu Silih Wangi / Raden Pamanah Rasa (Prabu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja), ♀Nyai Subanglarang / Dewi Kumalawangi (Puteri Subang Keranjang).

Saudara : ♂️Pangeran Walangsungsang / Sri Mangana / Pangeran Cakrabuwana, ♀️Nyai Rara Santang / Hajjah Syarifah Mudaim, ♂️Raden Neu Eukeun, ♂️Raden Wastu Dewa (R. Sake), ♂️Dalem Manggu Larang, ♂️Hande Penjo Limansanjaya.

Istri : ♀️Nyai Kalimah / Halimah / Nyai Gedeng Kalisapu, ♀️Dewi Rengganis Situ Patengan.

Anak : ♂️Pangeran Ayan Permana Prabu Kuncung Putih Pasarean, ♂️Dalem Pagerjaya, Godog Suci Garut.

Wafat : Kecamatan Garut Kota, Garut, Jawa Barat ?

Makam : Astana Gedong, Godog, Kec. Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44182.


Keterangan : 


Prabu Kian Santang atau Raden Sanggara ( sering dieja Radja Sangara) atau Syeh Sunan Rohmat Suci, adalah Putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja, Raja Pakuan Padjajaran dengan Nyi Subang Larang. Dia lahir pada 1427 M dengan nama Radja Sangara. Tercatat Pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang berputra 3 orang yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati) dan Prabu Kian Santang.


Prabu Kian Santang menjadi dalem Bogor 


Disebutkan oleh Ferry Taufiq El Jaquene dalam Hitam Putih Padjajaran bahwa Kian Santang yang bernama kecil Radja Sangara masuk Islam sejak kecil dan disebutkan dalam Api Sejarah 1 karya Ahmad Mansur Suryanegara bahwa Kian Santang turut serta meresmikan berdirinya Kadipaten Cirebon dibawah kekuasaan abangnya,Raden Walangsungsang dengan menyerahkan bendera kerajaan. Pada usia 22 tahun Prabu Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor


Disebutkan dalam Ensiklopedi Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia yang ditulis kementrian agama NKRI dia berdakwah mengajak raja raja Sunda pedalaman masuk Islam diantaranya Sunan Pancer,Raja Galuh Pakuan.

Dennys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya jilid 2 menyebutkan bahwa Kian Santang pernah menuntut Ilmu ke Makkah. Dia menikah dengan Nyai Kalimah Sapujagad demikian menurut Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon dan tidak ada catatan resmi siapa keturunannya sehingga hal itu menimbulkan perdebatan.


Kian santang dan Rakeyan Sancang


Prabu Kian santang inilah disebut-sebut tradisi masyarakat sebagai putra Raja Padjadjaran (Prabu Siliwangi) yang berselisih paham tentang keyakinan agama, tapi akhirnya mereka bersepakat Kian Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran, petilasan yang bertalian dengan Kian Santang berada di Godog Garut berupa makam, gunung Nagara berupa bekas pertahanan dan di Cilauteureun.


Keturunan Ki Santang

sunting

Dalam wangsit uga siliwangi dikatakan bahwa keturunanya akan menjadi pengingat mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya:


Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!:


artinya:


Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!


Putra Prabu Siliwangi Yang Maha Sakti


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, putra Prabu Siliwangi yang paling sakti adalah Raden Kian Santang. Ia lahir dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang. Melalui pernikahan tersebut, Prabu Siliwangi melahirkan tiga orang anak, yaitu Pangeran Cakrabuana, Rara Santang, dan Raden Kian Santang. Dalam cerita sejarah , Raden Kian Santang sendiri lahir di Padjajaran pada tahun 1315. Ia tergolong pandai berbicara dan cepat belajar. Sejak kecil, ia telah dilatih untuk mempelajari ilmu bela diri . Bahkan, di usia muda, Raden Kian Santang telah menjadi panglima tertinggi Padjajaran atau Dalem Bogor Kedua.


Hal ini berkat kegigihan dan keahlian yang dimiliki Raden Kian Santang. Ia tak pernah ragu untuk mencoba hal-hal baru, yang membuatnya tumbuh menjadi sosok yang berani dan tangguh. Tak hanya itu, Raden Kian Santang juga dinilai memiliki kemampuan istimewa sejak lahir, seperti pandai membaca Al-Quran, mampu membaca pikiran orang lain, dan mampu melihat dengan jelas.


Raden Kian Santang juga terkenal karena ilmu gaibnya. Beberapa ilmu gaib yang konon dimiliki Raden Kian Santang antara lain:


Kebal terhadap berbagai jenis senjata.


Memiliki pengetahuan tentang ramalan.


Menguasai ilmu aji suket kalanjana.


Memiliki turbin angin yang digerakkan oleh angin.


Menguasai ilmu pengetahuan itu banyak sekali.


Brajamusti.


Dengan berbagai kemampuannya tersebut, Raden Kian Santang tetap rendah hati dan mau bergaul dengan masyarakat sekitar. Raden Kian Santang juga memiliki keahlian lain, seperti bela diri dan memanah.


Kisah Raden Kian Santang Penyebar Agama Islam di Jawa Barat


Raden Kian Santang atau Raden Sangara merupakan putra ketiga atau bungsu dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang. Anak pertama Prabu Siliwangi-Nyi Subang Larang adalah Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana dan anak kedua Nyi Rara Santang. Nyi Subang Larang yang merupakan putri dari Syekh Quro, penyebar Islam di Karawang, mendidik putra putrinya secara Islam. Raden Walangsungsung atau Pangeran Cakrabuana mendirikan Kota Cirebon. 


Sedangkan Rara Santang yang menikah dengan Syarif Abdullah Umdatuddin melahirkan dua putra kembar, Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Setelah dewasa, Syarif Hidayatullah menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat. Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati ini mendirikan Kesultanan Cirebon yang berkuasa selama lebih dari 3 abad. 


Sedangkan sang paman, Raden Kiansantang yang memiliki nama lain Syekh Rhmat Suci pun menjadi penyebar Islam di sebagian wilayah pegunungan Jawa Barat hingga akhir hayatnya. Konon Syekh Sunan Rohmat Suci atau Raden Kian Santang dimakamkan di Godog Garut, Gunung Nagara, Cilauteureun. Kompleks permakaman ini dikeramatkan dan kerap dikunjungi masyarakat.


Bertemu Sayyidina Ali


Pada usia 22 tahun Prabu Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Kerajaan Pajajaran tersebut, ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu. Prasasti itu dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Peristiwa itu istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran. Prabu Kian Santang merupakan kesatria gagah perkasa. Tidak ada yang bisa mengalahkan kegagahan dan kesaktiannya. 


Akhirnya Prabu Kian Santang meminta petunjuk kepada ayahnya Prabu Siliwangi untuk mencarikan lawan yang dapat menandinginya. Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kian Santang adalah Sayyidina Ali di Tanah Suci Makkah. Sebetulnya saat itu Sayyidina Ali telah wafat. Tetapi konon Prabu Kian Santan dipertemukan Sayyidina Ali secara gaib atas kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.


Orang tua itu berkata kepada Prabu Kian Santang, "Kalau Anda mau bertemu dengan Sayyidina Ali harus melaksanakan dua syarat. Pertama, harus mujasmedi dulu di Ujung Kulon. Kedua, nama harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang berarti berani. Setra bermakna bersih-suci). Setelah melaksanakan dua syarat tersebut, berangkatlah Prabu Kian Santang ke tanah Suci Makkah. Tiba di Makkah dia bertemu dengan seorang lelaki. Kian Santang tidak tahu laki-laki itu adalah Sayyidina Ali. 


Prabu Kian Santang yang mengganti nama menjadi Galantrang Setra bertanya kepada laki-laki itu, "Kenal kah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?" Laki-­laki itu menjawab kenal dan bisa mengantarkannya ke tempat Sayyidina Ali.

Sebelum berangkat laki-laki itu menancapkan sebuah tongkat ke tanah, yang tak diketahui oleh Galantrang Setra. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, "Wahai Galantrang Setra tongkatku ketinggalan di tempat tadi, coba tolong ambilkan dulu."


Semula Galantrang Setra tidak mau, tetapi Sayyidina Ali mengatakan, "Kalau tidak mau ya tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali."

Terpaksalah Galantrang Setra kembali ke tempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan, dikira tongkat itu akan mudah lepas. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, justru tidak sedikit pun berubah. 


Sekali lagi dia berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi bukan tercabut, justru kedua kaki Galantrang Setra ambles masuk ke dalam tanah, dan keluar darah dari tubuh Galantrang Setra. Ternyata laki-laki yang baru dikenal itu adalah Sayyidina Ali. Setelah tahu, Prabu Kian Santang pun takluk. Prabu Kian Santang pun mendalami agama Islam. Dia bermukim selama dua puluh hari. Kemudian dia pulang ke tanah Sunda, Padjadjaran, untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. 


Setibanya di Padjadjaran dan bertemu dengan ayahnya, dia menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Kian Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran. Itulah ulasan Kisah Raden Kian Santang Penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Sejarah Kecil: Suatu Masa Ketika Orang Gila Meresahkan Hindia Belanda

 Sejarah Kecil: Suatu Masa Ketika Orang Gila Meresahkan Hindia Belanda

__________________________________________



Pada hari Sabtu, 26 Maret 1938, seorang Sunda bernama Anam dilaporkan memukul seorang Belanda bernama ACR Weise. Weise dipukul dengan benda tumpul, pipa gas sepanjang satu meter hingga tewas. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit di Garut, tatkala Weise tengah dirawat karena terserang stroke ringan. Anam yang selesai memukul mati Weise, dilaporkan kembali menuju ke tempat tidurnya dirawat. Ia kembali tidur pulas setelah membunuh seorang Belanda!


Entah apa yang menyebabkan seorang pribumi Garut itu membunuh orang Belanda yang terbaring lemah di kasurnya. Laporan Belanda menyebut bahwa Anam mengidap masalah kejiwaan.

"Dua hari kemudian, Indische Courant menerbitkan berita tentang pembunuhan ini, dan Anam disinyalir mengidap sakit jiwa," tulis Vilan van de Loo kepada Historiek dalam artikelnya Doodgeslagen met de gaspijp, terbitan 25 Maret 2018.


Sejarah kecil Hindia Belanda memang menyajikan beragam kisah tentang hal-hal yang tak terduga. Terlebih, banyak catatan sejarah kecil Hindia Belanda yang menyebut bahwa terjadi kerentanan yang luar biasa di negeri ini. Banyak orang gila dan sakit jiwa. Pembunuhan Weise menjadi kontroversial tatkala Anam yang memukulnya hingga tewas, dinyatakan memiliki masalah kejiwaan. Sontak beritanya di media massa mulai ramai, tatkala pribumi gila menghias sejarah kecil Hindia Belanda. 


Beberapa koran berbahasa Belanda menyebut bahwa setelah Anam memukul, ia kembali tidur dengan pipa besi yang berlumuran di sebelah tempat tidurnya. Dokternya datang dan langsung menginterogasi Anam. Beruntung, ia tidak dimasukkan ke bui, hanya dipindahkan ke rumah sakit jiwa karena dianggap sangat meresahkan. 

Laporan lain menyebut bahwa Anam sebenarnya telah dibui karena sempat meresahkan sebelumnya. Kabar tentang kondisi mentalnya juga diragukan karena ia sudah dinyatakan sebelumnya, sehingga ia dibui karena meresahkan.


Saat di sel, ia diizinkan keluar untuk sekadar bermain di taman rumah sakit. Di taman, "ia menemukan pipa berukuran besar, lalu dibawanya ke dalam rumah sakit untuk dipukulkannya ke Weise hingga tewas," terus van de Loo. Setelah pemukulan itu, dokter menjumpainya disel karena Anam memerlukan pengawasan intensif terkait perkembangan kesembuhan dan kestabilan mentalnya. Saat dijumpainya di sel, Anam terlihat tertidur dengan sebilah pipa besar berlumuran darah di sampingnya.


Sang dokter membangunkan dan menginterogasinya. Ia mendiagnosis bahwa Anam belum sembuh sepenuhnya. Namun, kondisi di Hindia Belanda belum mampu memfasilitasi para orang gila dan sakit jiwa di sana. Indische Courant juga menyebut bahwa terlalu banyak orang yang gila d Hindia Belanda, membuat keterbatasan rumah sakit jiwa.


"Ruang rumah sakit jiwa tidak pernah dapat memenuhi untuk menampung orang gila di Hindia Belanda," tulis responden Indische Courant.

Kisah sejarah kecil tentang pribumi gila yang meresahkan juga diungkap oleh Patrick Beck kepada Historiek dalam artikelnya berjudul Krankzinnig in Nederlands-Indië terbitan 6 Januari 2021.


Ia mengisahkan sejarah kecil tentang dua saudara gila, Amatardjo dan Amatredjo. Mereka diketahui berada dalam sel tahanan karena permasalahan kriminal sebelumnya. Ketika mereka diminta pihak lapas menebang pohon besar, sontak mereka terlihat menjadi 'linglung.' Setelahnya, mereka dikabarkan berteriak-teriak tak karuan, menjadi liar dan membuat keonaran dalam selnya.


Meskipun dua hari kemudian mereka membaik setelah kekacauan yang disebabkan oleh dua bersaudara aneh itu, Landraad menyarankan untuk memasukkan mereka ke rumah sakit jiwa.

Nahas, ketika pihak lapas menghubungi rumah sakit jiwa, ruang-ruang di rumah sakit jiwa penuh akibat membludaknya jumlah pribumi yang mengidap penyakit mental dan kejiwaan di Hindia Belanda.


Dua bersaudara itu menunggu lima bulan dalam kondisi yang kejiwaan yang memprihatinkan. Begitulah kenyataan yang menyedihkan tentang fasilitas rumah sakit jiwa di Hindia Belanda. 

Perawatan masalah kejiwaan di Hindia Belanda berkembang pesat dalam dekade pertama abad kedua puluh. Secara formal, rumah sakit jiwa di Hindia Belanda dimulai pada tahun 1896.


Sejarah kecil mencatat bahwa pembukaan rumah sakit jiwa pertama dilakukan di Buitenzorg (sekrang Bogor), di mana orang Eropa, pribumi, dan 'Orang Timur Asing' dirawat di sana. Landraden—petugas yang berwenang untuk menerima seseorang pasien gila—menyebut bahwa pada kenyataannya kegilaan seseorang diukur berdasarkan "indikasi sosialnya."


Indikasi kegilaannya tergantung pada orang tersebut dianggap "berbahaya secara sosial, biasanya setelah anggota keluarga atau penduduk desa melaporkan tentang tindakannya yang meresahkan," tambah Beck. Adapun kondisi rumah sakit jiwa yang kerap penuh dan tak mampu menampung banyak pasien gila disebabkan oleh dua hal: kurangnya ruang di rumah sakit jiwa dan kurangnya instrumen diagnostik yang tepat.


Tatkala seseorang mendadak menjadi agresif—mungkin karena penyakit menular atau tekanan hidup yang membuatnya menjadi liar—sudah pasti akan dicap gila oleh lingkungan sosialnya. Inilah yang membuat jumlah pribumi gila membludak di Hindia Belanda. Bagaimanapun, kisah-kisah tentang pribumi gila yang meresahkan di Hindia Belanda akan tercatat dalam sejarah kecil. Suatu kondisi masa silam yang memprihatinkan, menjadi bangsa yang terjajah.


"Ruang rumah sakit jiwa tidak pernah dapat memenuhi untuk menampung orang gila di Hindia Belanda," tulis responden Indische Courant.


Kisah sejarah kecil tentang pribumi gila yang meresahkan juga diungkap oleh Patrick Beck kepada Historiek dalam artikelnya berjudul Krankzinnig in Nederlands-Indië terbitan 6 Januari 2021. Ia mengisahkan sejarah kecil tentang dua saudara gila, Amatardjo dan Amatredjo. Mereka diketahui berada dalam sel tahanan karena permasalahan kriminal sebelumnya. Ketika mereka diminta pihak lapas menebang pohon besar, sontak mereka terlihat menjadi 'linglung.'


Setelahnya, mereka dikabarkan berteriak-teriak tak karuan, menjadi liar dan membuat keonaran dalam selnya. Meskipun dua hari kemudian mereka membaik setelah kekacauan yang disebabkan oleh dua bersaudara aneh itu, Landraad menyarankan untuk memasukkan mereka ke rumah sakit jiwa.


Nahas, ketika pihak lapas menghubungi rumah sakit jiwa, ruang-ruang di rumah sakit jiwa penuh akibat membludaknya jumlah pribumi yang mengidap penyakit mental dan kejiwaan di Hindia Belanda. Dua bersaudara itu menunggu lima bulan dalam kondisi yang kejiwaan yang memprihatinkan. Begitulah kenyataan yang menyedihkan tentang fasilitas rumah sakit jiwa di Hindia Belanda. 


Perawatan masalah kejiwaan di Hindia Belanda berkembang pesat dalam dekade pertama abad kedua puluh. Secara formal, rumah sakit jiwa di Hindia Belanda dimulai pada tahun 1896. Sejarah kecil mencatat bahwa pembukaan rumah sakit jiwa pertama dilakukan di Buitenzorg (sekrang Bogor), di mana orang Eropa, pribumi, dan 'Orang Timur Asing' dirawat di sana.


Landraden—petugas yang berwenang untuk menerima seseorang pasien gila—menyebut bahwa pada kenyataannya kegilaan seseorang diukur berdasarkan "indikasi sosialnya."

Indikasi kegilaannya tergantung pada orang tersebut dianggap "berbahaya secara sosial, biasanya setelah anggota keluarga atau penduduk desa melaporkan tentang tindakannya yang meresahkan," tambah Beck.


Adapun kondisi rumah sakit jiwa yang kerap penuh dan tak mampu menampung banyak pasien gila disebabkan oleh dua hal: kurangnya ruang di rumah sakit jiwa dan kurangnya instrumen diagnostik yang tepat. Tatkala seseorang mendadak menjadi agresif—mungkin karena penyakit menular atau tekanan hidup yang membuatnya menjadi liar—sudah pasti akan dicap gila oleh lingkungan sosialnya. Inilah yang membuat jumlah pribumi gila membludak di Hindia Belanda. Bagaimanapun, kisah-kisah tentang pribumi gila yang meresahkan di Hindia Belanda akan tercatat dalam sejarah kecil. Suatu kondisi masa silam yang memprihatinkan, menjadi bangsa yang terjajah.