Rabu, 27 Agustus 2025

Prabu Kian Santang

 Prabu Kian Santang

( Raden Sanggara/ Radja Sangara/ Syeh Sunan Rohmat Suci )



Lahir : Pakuan Pajajaran, Kerajaan Sunda 1427 M.

Dalem Bogor ke - 2.

Orang Tua : ♂ Prabu Silih Wangi / Raden Pamanah Rasa (Prabu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja), ♀Nyai Subanglarang / Dewi Kumalawangi (Puteri Subang Keranjang).

Saudara : ♂️Pangeran Walangsungsang / Sri Mangana / Pangeran Cakrabuwana, ♀️Nyai Rara Santang / Hajjah Syarifah Mudaim, ♂️Raden Neu Eukeun, ♂️Raden Wastu Dewa (R. Sake), ♂️Dalem Manggu Larang, ♂️Hande Penjo Limansanjaya.

Istri : ♀️Nyai Kalimah / Halimah / Nyai Gedeng Kalisapu, ♀️Dewi Rengganis Situ Patengan.

Anak : ♂️Pangeran Ayan Permana Prabu Kuncung Putih Pasarean, ♂️Dalem Pagerjaya, Godog Suci Garut.

Wafat : Kecamatan Garut Kota, Garut, Jawa Barat ?

Makam : Astana Gedong, Godog, Kec. Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44182.


Keterangan : 


Prabu Kian Santang atau Raden Sanggara ( sering dieja Radja Sangara) atau Syeh Sunan Rohmat Suci, adalah Putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja, Raja Pakuan Padjajaran dengan Nyi Subang Larang. Dia lahir pada 1427 M dengan nama Radja Sangara. Tercatat Pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang berputra 3 orang yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati) dan Prabu Kian Santang.


Prabu Kian Santang menjadi dalem Bogor 


Disebutkan oleh Ferry Taufiq El Jaquene dalam Hitam Putih Padjajaran bahwa Kian Santang yang bernama kecil Radja Sangara masuk Islam sejak kecil dan disebutkan dalam Api Sejarah 1 karya Ahmad Mansur Suryanegara bahwa Kian Santang turut serta meresmikan berdirinya Kadipaten Cirebon dibawah kekuasaan abangnya,Raden Walangsungsang dengan menyerahkan bendera kerajaan. Pada usia 22 tahun Prabu Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor


Disebutkan dalam Ensiklopedi Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia yang ditulis kementrian agama NKRI dia berdakwah mengajak raja raja Sunda pedalaman masuk Islam diantaranya Sunan Pancer,Raja Galuh Pakuan.

Dennys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya jilid 2 menyebutkan bahwa Kian Santang pernah menuntut Ilmu ke Makkah. Dia menikah dengan Nyai Kalimah Sapujagad demikian menurut Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon dan tidak ada catatan resmi siapa keturunannya sehingga hal itu menimbulkan perdebatan.


Kian santang dan Rakeyan Sancang


Prabu Kian santang inilah disebut-sebut tradisi masyarakat sebagai putra Raja Padjadjaran (Prabu Siliwangi) yang berselisih paham tentang keyakinan agama, tapi akhirnya mereka bersepakat Kian Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran, petilasan yang bertalian dengan Kian Santang berada di Godog Garut berupa makam, gunung Nagara berupa bekas pertahanan dan di Cilauteureun.


Keturunan Ki Santang

sunting

Dalam wangsit uga siliwangi dikatakan bahwa keturunanya akan menjadi pengingat mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya:


Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!:


artinya:


Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!


Putra Prabu Siliwangi Yang Maha Sakti


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, putra Prabu Siliwangi yang paling sakti adalah Raden Kian Santang. Ia lahir dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang. Melalui pernikahan tersebut, Prabu Siliwangi melahirkan tiga orang anak, yaitu Pangeran Cakrabuana, Rara Santang, dan Raden Kian Santang. Dalam cerita sejarah , Raden Kian Santang sendiri lahir di Padjajaran pada tahun 1315. Ia tergolong pandai berbicara dan cepat belajar. Sejak kecil, ia telah dilatih untuk mempelajari ilmu bela diri . Bahkan, di usia muda, Raden Kian Santang telah menjadi panglima tertinggi Padjajaran atau Dalem Bogor Kedua.


Hal ini berkat kegigihan dan keahlian yang dimiliki Raden Kian Santang. Ia tak pernah ragu untuk mencoba hal-hal baru, yang membuatnya tumbuh menjadi sosok yang berani dan tangguh. Tak hanya itu, Raden Kian Santang juga dinilai memiliki kemampuan istimewa sejak lahir, seperti pandai membaca Al-Quran, mampu membaca pikiran orang lain, dan mampu melihat dengan jelas.


Raden Kian Santang juga terkenal karena ilmu gaibnya. Beberapa ilmu gaib yang konon dimiliki Raden Kian Santang antara lain:


Kebal terhadap berbagai jenis senjata.


Memiliki pengetahuan tentang ramalan.


Menguasai ilmu aji suket kalanjana.


Memiliki turbin angin yang digerakkan oleh angin.


Menguasai ilmu pengetahuan itu banyak sekali.


Brajamusti.


Dengan berbagai kemampuannya tersebut, Raden Kian Santang tetap rendah hati dan mau bergaul dengan masyarakat sekitar. Raden Kian Santang juga memiliki keahlian lain, seperti bela diri dan memanah.


Kisah Raden Kian Santang Penyebar Agama Islam di Jawa Barat


Raden Kian Santang atau Raden Sangara merupakan putra ketiga atau bungsu dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang. Anak pertama Prabu Siliwangi-Nyi Subang Larang adalah Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana dan anak kedua Nyi Rara Santang. Nyi Subang Larang yang merupakan putri dari Syekh Quro, penyebar Islam di Karawang, mendidik putra putrinya secara Islam. Raden Walangsungsung atau Pangeran Cakrabuana mendirikan Kota Cirebon. 


Sedangkan Rara Santang yang menikah dengan Syarif Abdullah Umdatuddin melahirkan dua putra kembar, Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Setelah dewasa, Syarif Hidayatullah menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat. Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati ini mendirikan Kesultanan Cirebon yang berkuasa selama lebih dari 3 abad. 


Sedangkan sang paman, Raden Kiansantang yang memiliki nama lain Syekh Rhmat Suci pun menjadi penyebar Islam di sebagian wilayah pegunungan Jawa Barat hingga akhir hayatnya. Konon Syekh Sunan Rohmat Suci atau Raden Kian Santang dimakamkan di Godog Garut, Gunung Nagara, Cilauteureun. Kompleks permakaman ini dikeramatkan dan kerap dikunjungi masyarakat.


Bertemu Sayyidina Ali


Pada usia 22 tahun Prabu Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Kerajaan Pajajaran tersebut, ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu. Prasasti itu dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Peristiwa itu istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran. Prabu Kian Santang merupakan kesatria gagah perkasa. Tidak ada yang bisa mengalahkan kegagahan dan kesaktiannya. 


Akhirnya Prabu Kian Santang meminta petunjuk kepada ayahnya Prabu Siliwangi untuk mencarikan lawan yang dapat menandinginya. Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kian Santang adalah Sayyidina Ali di Tanah Suci Makkah. Sebetulnya saat itu Sayyidina Ali telah wafat. Tetapi konon Prabu Kian Santan dipertemukan Sayyidina Ali secara gaib atas kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.


Orang tua itu berkata kepada Prabu Kian Santang, "Kalau Anda mau bertemu dengan Sayyidina Ali harus melaksanakan dua syarat. Pertama, harus mujasmedi dulu di Ujung Kulon. Kedua, nama harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang berarti berani. Setra bermakna bersih-suci). Setelah melaksanakan dua syarat tersebut, berangkatlah Prabu Kian Santang ke tanah Suci Makkah. Tiba di Makkah dia bertemu dengan seorang lelaki. Kian Santang tidak tahu laki-laki itu adalah Sayyidina Ali. 


Prabu Kian Santang yang mengganti nama menjadi Galantrang Setra bertanya kepada laki-laki itu, "Kenal kah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?" Laki-­laki itu menjawab kenal dan bisa mengantarkannya ke tempat Sayyidina Ali.

Sebelum berangkat laki-laki itu menancapkan sebuah tongkat ke tanah, yang tak diketahui oleh Galantrang Setra. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, "Wahai Galantrang Setra tongkatku ketinggalan di tempat tadi, coba tolong ambilkan dulu."


Semula Galantrang Setra tidak mau, tetapi Sayyidina Ali mengatakan, "Kalau tidak mau ya tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali."

Terpaksalah Galantrang Setra kembali ke tempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan, dikira tongkat itu akan mudah lepas. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, justru tidak sedikit pun berubah. 


Sekali lagi dia berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi bukan tercabut, justru kedua kaki Galantrang Setra ambles masuk ke dalam tanah, dan keluar darah dari tubuh Galantrang Setra. Ternyata laki-laki yang baru dikenal itu adalah Sayyidina Ali. Setelah tahu, Prabu Kian Santang pun takluk. Prabu Kian Santang pun mendalami agama Islam. Dia bermukim selama dua puluh hari. Kemudian dia pulang ke tanah Sunda, Padjadjaran, untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. 


Setibanya di Padjadjaran dan bertemu dengan ayahnya, dia menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Kian Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran. Itulah ulasan Kisah Raden Kian Santang Penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Sopan dan santun