Jumat, 22 Agustus 2025

Prabu Langlangbumi

 Prabu Langlangbumi

( Langlangbuana/ Sang Mokténg Kerta )



Lahir : ?

Raja Sunda Galuh ke - 22 : 1065 - 1155 M.

Orang Tua : ♂️Prabu Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja).

Saudara : ♂️Dharmanagara, ♂️Wirayuda.

Istri : ♀️Dewi Puspawati. 

Anak : ♂️Rakeyan Jayagiri/ Prabu Menakluhur, ♂️Sang Cakranagara.

Wafat : tahun 11555 M.

Makam : Situs Gunung Padang, Jalan Paal Dua, Karyamukti, Kec. Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43263.


Keterangan : 


Prabu Langlangbumi atau Prabu Langlangbuana adalah putra dari Prabu Darmaraja yang mulai naik tahta sebagai raja Kerajaan Sunda pada tahun 1065 M. Di dalam Naskah Cerita Parahiyangan, Prabu Langlangbumi berkuasa sekitar 90 - 92 tahun. Prabu Langlangbumi menikah dengan Dewi Puspawati, Putri dari Resiguru Bathara Hyang Purnawijaya, saudara ayahnya ( salah seorang anak dari Sri Jayabupati namun beda Ibu ). Dari pernikahan dari Dewi Puspawati, Prabu Langlangbumi mempunyai beberapa orang anak, diantaranya : 


1. Rahyang Jayagiri atau Prabu Menakluhur, yang kemudian menggantikannya sebagai raja di tanah Sunda, dan 

2. Sang Cakranagara, yang kemudian menjadi Mangkubumi ( Patih ).


Salah seorang Putri dari Resiguru Bathara Hyang Purnawijaya yang lain, yakni Dewi Citrawati sebenarnya juga berkeinginan agar diperistri oleh Prabu Langlangbumi, oleh karena itu ada keinginan Dewi Citrawati untuk membunuh Kakaknya, Dewi Puspawati. Namun, Resiguru Bathara Hyang Purnawijaya yang mengetahui perselisihan itu segera mengambil tindakan dengan menikahkan Dewi Citrawati dengan Penguasa Kerajaan Galunggung, Resiguru Sudakarenawisesa.


Setelah menikah, Resiguru Sudakarenawisesa meninggalkan tahtanya sebagai raja Kerajaan Galunggung dan memberikannya kepada Dewi Citrowati. Resiguru Sudakarenawisesa meninggalkan tahtanya sebagai raja Kerajaan Galunggung dan melanjutkan kehidupannya untuk memperdalam agama. Dengan demikian, maka yang menjadi raja di Kerajaan Galunggung adalah Dewi Citrawati. Setelah menjadi raja di Kerajaan Galunggung, Dewi Citrawati bergelar Bathari Hiyang Janapati. 


Berselang tidak begitu lama, Dewi Citrawati menjadi Penguasa di Kerajaan Galunggung , timbul perselisihan antara Prabu Langlangbumi di Kerajaan Sunda dengan Dewi Citrawati yg berkuasa atas Kerajaan Galunggung. Pertentangan antar keduanya disebabkan oleh timbulnya ancaman yang dilakukan oleh kawanan perampok di daerah sekitar pedesaan Galuh, Sunda dan Galunggung. 


Ketidaktentraman yang terjadi disekitar wilayah Galuh, Sunda dan Galunggung membuat ketegangan hubungan antara Prabu Langlangbumi dengan Dewi Citrawati. Disatu sisi selama memegang kekuasaan di Galunggung, Sang Ratu Bathari Hyang merasa cemas, akan kemungkinan serangan dari Kerajaan Sunda, karena dendam dirinya kepada Prabu Langlangbumi yang tidak menjadikannya sebagai istri.


Sebagai upaya untuk mengatasi kekhawatiran akan ancaman dari Kerajaan Sunda, Ratu Bathari Hyang mulai mempersiapkan angkatan perang Kerajaan Galunggung, membangun parit pertahanan yang kuat. Kemudian Galunggung dijadikan sebagai ibukota Kerajaan Galuh. Selesai membangun ibukota yang baru, Sang Ratu Bathari Hyang membuat Prasasti, yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Geger Hajuang. 


Prasasti Geger Hajuang adalah Prasasti yang dikeluarkan oleh Ratu Bathari Hyang pada tahun 1111 M. Isi Prasasti Geger Hajuang adalah : 


Tra ba I gune Apuy na, STA gomati sakakala rumatak, disusul ku Batari hyang pun 


Arti dari Prasasti Geger Hajuang adalah :


Pada tahun 1033 saka ibukota tak diperkuat pertahanannya oleh Bathari Hyang.


Sebenarnya, dari Pihak Langlangbumi tidak pernah berniat untuk melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Galunggung. Namun, apabila persoalan ini tidak segera diatasi, maka akan menyebabkan konflik yang besar dikemudian hari. Selain itu, Prabu Langlangbumi tidak menghendaki adanya perpecahan diantara keturunan Sri Jayabupati.


Untuk mengatasi permasalahan dengan Dewi Citrawati, Prabu Langlangbumi kemudian meminta bantuan Batara Hyang Purnawijaya, ayah dari Dewi Citrawati ( Bathari Hyang ), dan menjadi panglima Kerajaan Galunggung yang bernama Suryanegara supaya menempuh jalan damai. Pertemuan itu dihadiri oleh Bathara Guru Hyang Purnawijaya, Senopati Suryanegara, Resiguru Sudakarena, Dahiyang Guru Darmayasa, Senopati Kusumajaya, Prabu Langlangbumi, Mangkubumi Darmanagara, Senopati Wirayuda, Yuwaraja Menak luhur, Permaisuri Puspawati, Batari Hyang Janapati Ratu Galunggung ( Dewi Citrawati), dan beberapa raja dari daerah bawahan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.


Hasil Perundingan jalan damai akhirnya membuahkan kesepakatan, dengan membagi wilayah Kekuasaan : 


1. Sebelah Barat sebagai wilayah Kerajaan Sunda, dibawah kekuasaan Prabu Langlangbumi, 

2. Sebelah Timur sebagai Kerajaan Galuh, dibawah kekuasaan Ratu Bathari Hyang Janapati, dengan ibukota di Galunggung. 


Pada tahun 1155 M, Prabu Langlangbumi wafat setelah memerintah Kerajaan Sunda selama kurang lebih 90 tahun. Kedudukannya sebagai raja Kerajaan Sunda digantikan oleh putranya yang telah diangkat sebagai Yuwaraja, yaitu Prabu Menakluhur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Sopan dan santun