Rabu, 13 Agustus 2025

Pengalaman Sudiro Saat-saat Menjelang Proklamasi

 Pengalaman Sudiro Saat-saat

Menjelang Proklamasi 



Sudiro adalah tokoh pimpinan Barisan Pelopor yang mempunyai cabang sampai ke kecamatan-kecamatan di pulau Jawa. Karena begitu besar organisasi ini Bung Karno menunjuk Otto Iskandar Dinata, Sumardjo Wiryopranoto, dan Suwiryo sebagai penasehat. Pak Sudiro ditugasi memimpin kantor sehari-hari. Dengan fungsinya tersebut pak Sudiro sering mendampingi Bung Karno. Begitu kurang-lebih ditulis Sudiro dalam buku, "Seputar Proklamasi Kemerdekaan". Selanjutnya beliau menceritakan pengalamannya menjelang pembacaan Teks Proklamasi. 


Pada tanggal 16 Agustus 1945 sekitar pukul 19.00 pak Sudiro dihubungi dr. Muwardi dan mengatakan besok Bung Karno dan Bung Hatta akan membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan di Lapangan Ikada. Barisan-barisan Pelopor harus sudah berkumpul di sana sebelum pukul 9.30. Pak Sudiro pun segera mengkoordinasikan anggotanya untuk meneruskan pesan dr. Muwardi. 


Keesokan harinya pagi-pagi pak Sudiro sudah sampai di Lapangan Ikada. Dilihatnya banyak tentara Jepang di sana. Lalu beliau menghubungi dr Muwardi di rumahnya di Jalan Gondangdia Lama. Dr Muwardi mengatakan acaranya dipindahkan ke Jalan Pegangsaan Timur no 56, rumah Bung Karno. Alihkan semua barisan menuju rumah Bung Karno. 


Ketika pak Sudiro sampai di rumah Bung Karno dilihatnya sudah ada pak Suwiryo dan beberapa orang lainnya. Kemudian pak Sudiro melakukan berbagai persiapan. Pak Sudiro melihat Chudanco Abdul Latief Hendraningrat sudah siap dengan pakaian seragamnya serta pedang Katana. Lencana di petnya sudah diganti dengan bendera kecil merah-putih. Waktu seseorang diminta untuk menyiapkan tiang bendera dia bertanya apakah dua buah. Rupanya dia masih berpikir Bendera Merah-Putih masih didampingi Bendera Jepang. Regu-regu dan pasukan Barisan Pelopor mulai datang berbaris memenuhi halaman muka. Juga terlihat mahasiswa kedokteran yang datang dengan mobil dan kendaraan lain. 


Bung Karno pagi itu agak terganggu kesehatannya. Hanya tiga orang saja yang diizinkan masuk kamar beliau. Dokter Suharto, dokter pribadi Bung Karno, dr Muwardi kepala urusan keamanan, dan Sudiro sebagai pembantu umum. 


Udara sudah terasa makin panas. Tentara Jepang bisa saja datang sewaktu-waktu untuk melarang pembacaan Teks Proklamasi. Bung Hatta belum juga datang. Muncul rumor bahwa Bung Hatta tidak mau datang. Padahal setiap kami mendesak Bung Karno untuk segera memulai acaranya, beliau selalu menolak, dan berkata, "Saya hanya mau mengucapkan Proklamasi bersama Bung Hatta. Bahkan begitu nervousnya dr Muwardi mendesak agar Bung Hatta ditinggalkan saja. Dengan nada marah Bung Karno berteriak, " Kalau begitu silakan mas Mawardi saja yang membacakan Proklamasi ". Tentu tidak yang seperti itu dimaksudkan kata pak Sudiro. Cuma ungkapan kekhawatiran kalau-kalau tentara Jepang datang, dan menggagalkan pembacaan Proklamasi. 


Di tengah ketegangan tersebut tiba-tiba muncul Bung Hatta didampingi oleh Daidanco Abdul Kadir dan Chudanco Abdul Latief Hendraningrat. 


Acara pembacaan Proklamasi dimulai dengan pidato singkat dari Suwiryo. Waktu itu beliau wakil Shi-Cho Jakarta. Tapi beliau sudah dianggap sebagai walikota Jakarta. Kemudian Bung Karno dan Bung Hatta maju ke depan. Bung Karno segera membacakan teks Proklamasi dengan tenang dan jelas. Disusun dengan sedikit pengarahan. Setelah itu Bendera Merah-Putih digerek oleh Chudanco Abdul Latief Hendraningrat. Untuk pertama kalinya tanpa didampingi bendera lain. Setelah mengheningkan cipta dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. 


Tidak lama kemudian muncul sepasukan Barisan Pelopor dari Penjaringan. Mereka minta agar pembacaan Teks Proklamasi dilakukan sekali lagi. Tapi Bung Karno menolak. Proklamasi hanya diucapkan sekali, untuk selamanya kata Bung Karno. Masih banyak juga yang menyusul datang antara lain pak Radjiman Wedyodiningrat dan beberapa orang anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. 


Karena tadi pagi kurang sehat Bung Karno pergi beristirahat. Bung Hatta pun pulang. 


Tidak lama kemudian sejumlah perwira Jepang datang dan minta bertemu Bung Karno. Pak Sudiro terpaksa menyampaikan permintaan tentara Jepang tersebut kepada Bung Karno. Bung Karno keluar dari kamarnya dan menemui tamu tersebut dengan berdiri saja. Puluhan anggota Barisan Pelopor dengan senjata di tangan mengelilingi tentara Jepang tersebut. Salah seorang Jepang tersebut mengatakan bahwa mereka diperintahkan untuk melarang pembacaan Proklamasi. Dengan tenang dijawab oleh Bung Karno, "Proklamasi sudah kami ucapkan".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Sopan dan santun