Jumat, 22 Agustus 2025

Prabu Sri Jayabupati

 Prabu Sri Jayabupati

( Prabu Detya Maharaja )




Lahir : ?

Gelar : Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa.

Raja Sunda Galuh ke - 20 : 1030 - 1042 M.

Orang Tua : ♂️Prabu Sanghyang Ageng /Maharaja Sanghiyang Ageung. ( 1019-1030 M ), ♀️Dewi Sumbadra. 

Istri : ♀️Dewi Suddhiswari Putri dari Kerajaan Sriwijaya (Sumatera), ♀️Dewi Wulansari (puteri dari Sri Dharmawangsa Teguh/Kahuripan-Jawa Timur), ♀️Batari Pertiwi (puteri dari Kerajaan Galuh).

Anak : ♂️Wikramajaya, ♂️Resiguru Bathara Hyang Purnawijaya, ♂️Prabu Darmaraja, ♂️Panglima Suryanagara, ♀️Dewi Nirmala, ♀️Dewi Sugara, ♂️ Wirakusuma, ♀️Dewi Purnawangi, ♀️Dewi Surabhi, ♂️Surendra.

Wafat : tahun 1042 M.

Makam : Situs Gunung Nagara Padang Sindangkerta, XC2M+365, Wangunsari, Kec. Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40563.


Keterangan : 


Dalam naskah Carita Parahiyangan, disebut nama Prabu Detya Maharaja. Dan dalam naskah Wangsakerta dan juga Prasasti yang ditemukan di Cibadak menjelaskan tentang Raja Sunda yang ke-20 Prabu Detya Maharaja ini, yaitu Maharaja Sri Jayabhupati.

Ada hal yang unik dari Raja Sri Jayabhupati ini, yaiti dari gelar dan prasasti yang ditemukan mengenainya bercorak jawa timuran. Karena ia sendiri merupakan menantu dari Raja Darmawangsa Teguh.

Meskipun belum begitu komplit, karena data yang minim, dan hanya merupakan cuplikan cuplikan. Mudah mudahan ke depannya ada perbaikan.


NASKAH

BAB I SILSILAH DAN KELUARGA


Sri jayabupati atau lengkapnya Prabu Detya Maharaja Sri Jayabhupati merupakan raja kerajaan sunda ke-20, yang berkuasa dari tahun 1030-1042 M. Ia naik tahta menggantikan ayahnya Prabu sanghiyang Ageng (mp. 1019-1030 M).

Dalam Carita Parahiyangan Sri Jayabhupati sebut “Prabu Datia Maharaja” yang berkuasa di tanah sunda selama 12 tahun, dan di Galuh selama 7 tahun.

Ayahnya Prabu sanghiyang Ageng (mp. 1019-1030 M), dan ibunya merupakan putri asal Sriwjaya, yang masih kerabat Raja Wura Wuri.

Ayahnya, Prabu sangiang Ageung menikahkan Sri Jayabupati dengan putri raja terakhir Dinasti Sonjaya, Raja Darmawangsa Teguh.


a.. Sri Jayabhupati dinikahkan Dengan Putri Darmawangsa Teguh


Dalam sistem kerajaan klasik, perkawinan antar kerajaan biasanya dijalin untuk memperkokoh negara tersebut. Baik dari keluarga laki laki atau keluarga waniita akan menjadi kuat karena ikatan perkawinan ini. Setidaknya untuk menyerang salah satu dari keluarga tersebut akan mendapat konsekwensi bantuan dari kerajaan yang menjadi menantua atu mertuanya.

Hal ini mungkin dilakukan oleh Raja Sunda waktu itu, Prabu Sanghiyang Ageung dan raja Medang Bhumi Mataram waktu itu, Darmawangsa Teguh. Kerajaan Sunda dikenal secara tradisi merupakan kerajaan yang tangguh dan stabil. Karena kemungkinan ikatan perkawinan untuk memperkuat satu sama lain.

Hal tersebut ditambah dengan untuk mempererat kekeluargaan kembali. Karena seperti diungkapkan sebelumnya, bahwa kerajaan Bhumi Mataram, masih merupakan satu keturunan. Karena dinasti yang berkuasa disana merup[akan turunan dari Sonjaya, yang berasal dari tanah Sunda.

Dengan mengawinkan Sri Jayabupati dengan putri dari Darmawangsa Teguh, Bagi Prabu Sanghiyang Ageung (ayah Sri Jayabupati), memperolh 2 keuntungan, yaitu: tetap Menjalin silaturahmi dengan dinasti Sonjaya, karena Sonjaya berasal dari Sunda. Dan yang kedua Prabu sanghiyang Ageung seolah ingin memeperkokoh kedudukannya dalam tatanan global. Karena Prabu Sanghiyang Ageung beristrikan putri dari Sriwijaya. Karena itu seakin kokhlah keberadaan Prabu Sanghiyang Ageung ini, menjadi besan raja Sriwijaya dan mempunyai menantu dari Medang Bhumi Mataram.


3. Politik pernikahan dan keturunan Jayabhupati


Sebagai upaya mengokohkan kerajaan dan meredam konflik, sang ayah menikahkan Sri Jayabhupati dengan putri Kerajaan Sriwijaya. Secara keseluruhan Jayabuphati tercatat memiliki tiga orang istri, yaitu Dewi Wulansari (puteri dari Sri Dharmawangsa Teguh/Kahuripan-Jawa Timur), Dewi Suddhiswari (puteri dari Kerajaan Sriwijaya), dan Bhatari Prethiwi atau Batari Pertiwi (puteri dari Kerajaan Galuh).


Untuk kian memperkokoh persatuan dengan kerajaan-kerajaan tetangga, Sri Jayabuphati juga menikahkan adik-adiknya dengan raja-raja tetangga. Adik perempuan Jayabhupati diperisteri oleh Raja Wurawari dari Lwaram (sekarang Ngloram di sekitar Blora-Cepu Jawa Tengah). Ironisnya, Raja Wurawari adalah musuh dari Sri Dharmawangsa (mertua Jayabhupati) dan Prabu Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.


Dari pernikahannya dengan Dewi Wulansari, Sri Jayabhupati dikaruniai empat orang anak, yaitu Prabu Darmaraja (menjadi Raja Sunda sepeninggal Sri Jayabhupati), Panglima Suryanagara (Panglima Angkatan Perang Kerajaan Sunda), Dewi Nirmala (dinikahi seorang menteri dari Kerajaan Bali), dan Dewi Sugara (dinikahi seorang menteri dari Kerajaan Kahuripan).


Dari istri kedua Dewi Suddhiswari, Jayabhupati memiliki beberapa orang anak, 2 di antaranya adalah Wirakusuma (menjadi Menteri Maritim Kerajaan Sunda), Wikramajaya (menjadi Panglima Angkatan Laut).


Terakhir dari Bhatari Prethiwi, Jayabhupati dikaruniai beberapa orang anak, 4 di antaranya Batara Hyang Purnawijaya (resiguru di daerah Galuh), Dewi Purnawangi, Dewi Surabhi, dan Surendra (menjadi pembesar di Kerajaan Galuh).


b.. Gelar dan Corak Jawatimuran


Sri jayabhupati bergelar Sri Jayabhupati Maharaja: Jayabhupati Jaya Manahen Wisnumurti Samarawijaya calakabhuana mandalecwaranindita Harogowardhana wikramottunggadewa.

 Gelar ini bercorak Keraton Jawa Timur-an, merupakan hadiah perkawinan dari mertuanya, Sri Dharmawangsa Teguh. Hadiah nama gelar semacam itu, diterima pula oleh Prabu Airlangga, menantu Sri Darmawangsa Teguh lainnya, dan digunakan sebagai gelar resmi, setelah Prabu Airlangga menjadi raja. Istrinya merupakan adik dari Dewi Laksmi, istri Airlangga (1019-1042 M), yang kemudian menjadi prameswarinya. Karena pernikahannya tersebut, ia kemudian mendapat anugrah gelar dari mertuanya (Dharmawangsa), gelar ini yang dicantumkan dalam prasasti Cibadak.


c.. Keluarga


Sri jayabupati menikah dengan anak Prabu Darmawangsa, dan merupakan adik dari Dewi Laksmi, istri dari raja Airlangga. Dari istrinya putri Darmawangsa, ia mempunyai beberapa orang anak, diantaranya: Prabu dharmaraja yang dikemudian hari menggantikan sebagai raja, dan wikramajaya yang menjadi panglima angkatan laut.

Sri Jayabhupati menikah juga dengan Dewi Pertiwi, yang kemudian mempunyai anak yang bernama Resiguru Batara Hiyang Purnawijaya. Dan lain lain.

Setelah ia meninggal, tahta jatuh ke anaknya yang bernama Prabu Dharmaraja (1042-1065 M), atau dalam Naskah Carita Parahiyangan disebut “ Nu Hilang di Winduraja”, yang menjadi raja sunda selama 23 tahun. 

  

BAB II MASA PEMERINTAHAN


Pada masa kekuasaannya, Sri Jayabhupati diuntungkan oleh sistem kekeluargaan besar di zamannya. Ibunya merupakan putri dari raja Sriwijaya, sedang istrinya berasal dari Medang Bhumi Mataram. Jadi secara politik, dia diuntungkan oleh sistem kekluargaan tersebut.

Tetapi hal ini menjadi lain, ketika justr terjadi persaingan antara Sriwijaya dengan penguasa Medang Bhumi Mataram waktu itu. Dan penulis sejarah sering mengatakan bahwa kerajaan mertuanya hancur kalah karena serangan raja Wura Wuri, yang merupakan sekutu Sriwijaya di Jawa. 


4. Dilema Kerajaan Sunda di masa sang Maharaja


Sebelum Sri Jayabhupati menjabat sebagai raja, terjadi pertikaian Kerajaan Sunda dengan kerajaan-kerajaan tetangga, terutama degan Sriwijaya di Sumatera dan Kerajaan Medang, Kahuripan, Kediri, Singasari atau pun Majapahit di timur pulau Jawa. Pertikaian itu disebabkan persaingan untuk menguasai perairan Nusantara.


Posisi Sunda yang cukup sulit ini digambarkan dalam Pustaka Nusantara I/S (h. 103 dan 104) sebagai berikut: “Lawan mangkana Sunda i Bhumi Jawa Kul-wan nityagah dumadi wyawahara pantara ning rajaraja C/riwijaya, Jawa, Cina, Cola mwang akweh manih rajya lenya. I sedeng raja haneng Bhumi Jawa Kul-wan yatiku rajya Sunda lawan rajya Ghaluh tan ahyun ri sewaka ring sira kabeh, tan angga dumadi mandalika nira” {Dengan demikian Sunda di Bumi Jawa Barat selalu menjadi rebutan di antara raja-raja Sriwijaya, Jawa, Cina, Cola serta negara-negara lain; sedangkan raja di bumi Jawa Barat, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh tidak mau tunduk kepada mereka semuanya, tidak ingin menjadi raja bawahan mereka).


Saat Sri Jayabupati masih sebagai Putera Mahkota, permusuhan dengan Sriwijaya yang merupakan negeri asal ibunya dan juga mertuanya (Dharmawangsa) semakin tajam. Munculah kekacauan akibat desas desus mengenai Raja Wurawuri yang berniat menyerang Dharmawangsa untuk membalas dendam atas serangan Dharmawangsa di masa lalu. Namun Kerajaan Sunda dituntut untuk bersikap netral sehingga Sri Jayabhupati tak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikan permusuhan.


Pecahlah peristiwa penyerangan terhadap Dharmawangsa yang terjadi saat pernikahan Airlangga dengan putri Dharmawangsa di Watan, iibukota Kerajaan Medang (Maospati, Magetan-Jawa Timur sekarang). Ketika pesta digelar, pasukan Wurawuri dengan koalisinya dari Sriwijaya mengobrak-abrik pesta dan membunuh Dharmawangsa. Menurut De Casparis peristiwa ini tercatat dalam Prasasti Calcutta dengan istilah Pralaya yang terjadi pada tahun 926 saka atau 1016 m.


Peristiwa itu menimbulkan dilema dan kegalauan bagi Sri Jayabhupati, apapun yang dilakukan akan serba salah karena kedua pihak adalah keluarga. Kondisi ini juga dilukiskan dalam Pustaka Nusantara sebagai berikut: ‘Mangkana ta hana pakadangan pantara raja Criwijaya, raja Sunda, raja Wurawari, raja Jawa Dharmawangsa Tguh mwang raja Bali. Dadyeka yudha nira kawalya rumebut yacawiryya mwang ahyun pinuja’. (Ada pertalian kekerabatan antara raja Sriwijaya, raja Sunda, raja Wurawari, raja Dharmawangsa Teguh dan raja Bali. Jadi, peperangan di antara mereka itulah hanyalah memperebutkan kemashuran dan ingin dipuja).


5. Pengaruh Jawa Timur


Corak Jawa Timur yang ditampilkan oleh prasasti Jayabhupati di Cibadak dari segi huruf, bahasa dan gelar, pada awalnya dpersepsikan secara negatif terutama oleh peneliti awal naskah Sunda, di antaranya Cornelis Marinus (C.M.) Pleyte, Louis-Charles Damais, dan Johannes Gijsbertus (J.G.) de Casparis bahwa wilayah ini merupakan taklukan Kerajaan Jawa atau setidaknya sang Raja adalah dari Jawa Timur yang lari ke tanah Sunda dan menjadi raja.


Sementara peneliti kenamaan lain, Nicholaas Johannes (N.J.) Krom berpendirian lebih moderat bahwa gaya tersebut hanya mencontoh budaya Jawa Timur-an yang mungkin saat itu sedang kuat berkembang. Jika ditelaah memang pengaruh Jawa Timur sangat kuat. Sebagai contoh, sumpah Sri Jayabhupati yang tertera pada prasasti yang ditemukan di Pangcalikan, isinya menyeru agar semua kekuatan gaib di dunia dan di surga untuk menghukum para pelanggar dengan secara mengerikan.


Isi prasasti penuh dengan manggala (doa) dan supata (kutukan) yang ditutup dengan kalimat: “I wruhhanta kamung hyang kabeh” (Ketahuilah olehmu para hyang semua). Cara-cara ini bukanlah tradisi raja-raja Sunda yang sebagai masyarakat bertradisi berladang, tetapi kebiasaan penganut Tantrayana, kepercayaan yang banyak dianut raja-raja Jawa Timur. Kemudian dalam keempat prasasti ini tertulis jelas istilah “raja Sunda” sebanyak 6 kali dengan rincian 3 kali dalam kata “Prahajyan Sunda” dan 3 kali dalam kata “Paduka Haji i Sunda”. Penulisan “raja Sunda” sebanyak itu bukanlah kelaziman raja Sunda tetapi kebiasaan di luar Sunda seperti Portugis dan Majapahit.


Dalam perkembangannya, dugaan Sri Jayabhupati “orang asing”/bukan orang Sunda, terbantahkan dari keterangan Naskah Wangsakerta yang menyebutkan bahwa antara Jayabhupati dan Airlangga memang ada ikatan kekeluargaan melalui ikatan perkawinan. Salah satu faktanya adalah gelar panjang yang dimiliki Sri jayabhupati, yaitu Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurtti Samarawijaya Sakalabhuwanamandaleswaranindita Harogowardhana Wikaramottunggadewa merupakan hadiah pernikahan dari mertuanya, Sri Dharmawangsa Teguh yang juga mertua Raja Airlangga.


Hadiah gelar semacam itu diterima juga oleh Prabu Airlangga dengan gelar Abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Maka, Airlangga dan Sri Jayabhupati sama-sama menantu Dharmawangsa Teguh. Jadi, Sri Jayabhupati merupakan saudara ipar Raja Airlangga. Itulah salah satu logika sejarah mengapa pengaruh Jawa Timur kental dalam tetilas peninggalan Maharaja Sri Jayabhupati. 


BAB III PRASASTI PENINGGALAN SRI JAYABHUPATI


Prasasti peninggalan Sri Jayabhupati ditemukan di daerah Cibadak Sukabumi, sehingga kemudian prsasti ini dikenal dengan nama Prsasati jayabhupati atau Prasasti Cibadak.

Prasasti ini terdiri dari 40 baris sehingga memerlukan 4 buah batu untuk menulisnya. Prasasti ini ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa kuno, yang sekarang disimpan di museum pusat, dengan code D73 (dari Cicatih), D96, D97, D98


Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte):


D73

//0// Swasti shakawarsatita 952 Karttikamasatithi dwadashi shuklapa –ksa.ha.ka.ra. wara Tambir. Iri ka diwasha nira prahajyan Sunda maharaja Shri Jayabhupati Jayamana-hen wisnu murtti samarawijaya shaka labhuw anamandales waranindita harogowardhana wikra mottunggadewa, ma-


D96

Gaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway denira shri jayabhupati prahajyan Sunda. Mwang tan hanani baryya baryya shila. Irikang iwah tan pangalapa ikan sesini iwah. Makahiyang sanghyang tapak wates kapujan I hulu, I sor makahingan ia sanghyang tapak wates kapujan I wungkalogong kalih matangyan pinagawayaje n pra sasti pagepageh. Mangmang sapatha.


D 97:

Sumpah denira prahajyan sunda. Iwirnya nihan. 

  

Terjemahan:

Selamat, dalam tahun saka 952 bulan kartika tanggal 12 bagian terang, hari hariang, kaliwon, ahad, wuku tambir. Inilah saat raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwana mandaleswara nindita haro gonawardhana wikramottung gadewa, membuat tanda disebelah timur sanghiyang tapak. Dibuat oleh Srijayabhupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Disungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan sanghiyang tapak di sebelah hulu. Disebelah hilir dalam batas daerah pemujaan sanghiyang tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan sumpah)


Sumpah yang diucapkan oleh raja Sunda lengkapnya tertera pada prasasti ke-4 (D 98). Terdiri dari 20 baris, yang intinya menyeru semua kekuatan gaib didunia dan di surga agar ikut melindungi keputusabn raja.. Siapapun yang menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakan ususnya dan membelah dadanya. Sumauh itu ditutup dengan kalimat seruan, ” I wruhhanta kamunghyang kabeh” ( Ketahuilah olehmu parahiyang semuanya).


Tanggal pembuatan Prasasti Jayabupati ini bertepatan dengan 111 Oktober 1030 M, Isi prasasti ini dalam segala hal menunjukan corak jawa timur, tidak hanya huruf, bahasa dan gaya , melainkan juga gelar raja di lingkungan raja di keraton Dharmawangsa, karena ia sendiri merupakan menantu dari Dharmawangsa.


Kutukan Mengerikan Raja Sunda Sri Jayabupati ke Penangkap Ikan di Sungai

_____________________________________________

SUMPAH atau kutukan pernah terucap oleh Sri Jayabupati yang menjadi raja Sunda. Sumpah itu menandai bagaimana sepak terjang Kerajaan Sunda yang menjadi salah satu kerajaan besar yang disegani di Pulau Jawa bagian barat.

Nama Sunda sebagai kerajaan ditemukan secara tersurat dalam prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi. Prasasti ini terdiri atas 40 baris sehingga memerlukan empat buah batu untuk menuliskannya.


Saleh Danasasmita pada bukunya "Menemukan Kerajaan Sunda", keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran Cicatih di daerah Cibadak. Tiga ditemukan dekat Kampung Bantar Muncang, sebuah ditemukan dekat Kampung Pangcalikan. Keunikan prasasti ini ialah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. 


Di mana, prasasti itu berisikan aturan yang disampaikan Raja Sri Jayabhupati yang memerintah di tanah Sunda. Raja yang bergelar Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa ini membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Jayabupati raja Sunda meminta jangan ada yang melanggar ketentuan itu. Di sungai jangan ada yang menangkap ikan di sebelah sungai yang berbatasan dengan pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu.


Di sebelah hilir dalan batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan sumpah. Sumpah yang diucapkan oleh Raja Sunda begitu lengkapnya.

Kutukan sumpah itu digoreskan pada batu prasasti keempat sebanyak 20 baris yang intinya menyerukan semua kekuatan gaib di dunia dan di surga agar ikut melindungi keputusan raja. Siapapun yang berani menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan mengisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya dan membelah dadanya. Sumpah itu ditutup dengan kalimat seruan, "I wruhhanta kamung hyang kabeh" (Ketahuilah olehmu para hiyang semuanya).


Kehadiran Prasasti Jayabupati di daerah Cibadak sempat membangkitkan dugaan bahwa Ibukota Kerajaan Sunda terletak di daerah itu. Dugaan tersebut tidak terdukung oleh bukti-bukti kesejarahan yang lain. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan pada bagian sungai (Cicatih) yang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Sama halnya dengan kehadiran batu bertulis Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidak menunjukkan letak Ibukota Tarumanagara, maka kehadiran Prasasti Sri Jayabupati di Cibadak tidaklah berarti Ibukota Kerajaan Sunda berada di situ. Tanggal pembuatan prasasti itu bertepatan dengan 11 Oktober 1030.


Menurut Pustaka Nusantara parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun antara tahun 952 - 964 saka atau tahun 1030 - 1042 M. Isi prasasti tersebut dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dan gayanya, melainkan juga gelar raja yang sangat mirip dengan gelar dari lingkungan Keraton Darmawangsa. Tokoh Sri Jayabhupati disebut dengan nama lain dalam Carita Parahiyangan, yaitu Prebu Detya Maharaja. Ia adalah raja Sunda yang ke-20 setelah Maharaja Tarusbawa memerintah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Sopan dan santun