Syair Suku Seribu Suara
(dari naskah dongeng Negarakartunama)
Dulu, tersebutlah satu masa,
Masa yang menjadi kenangan pahit nan nyata,
Bukti bahwa kehidupan di dunia fana
Tak seindah bait puisi di naskah dongeng mulia.
Pada masa indah itu, berdirilah sebuah pulau permai,
Dihuni oleh Suku Seribu Suara yang merdu nyanyiannya,
Kini mereka dikenali sebagai Suku Jawir,
Namanya tinggal gema di tepi samudra.
Namun, datanglah kapal besar bertanda VOC,
Berlayar dari kerajaan kecil entah di mana,
Hanya berapa ratus orang jumlahnya,
Tapi dengan licik dan besi api di tangan,
Menaklukkan kerajaan dongeng
Yang konon katanya menguasai seluruh Asia Sengsara.
Mereka pun mengangkat panglima bernama Gajahlapar,
Yang diagungkan karena berjaya mengumpulkan
Segala kotoran dan taik yang ada di Asia Sengsara,
Lalu menjadikannya lambang kejayaan mereka.
Suku Seribu Suara yang berjuta jumlahnya itu,
Dijadikan budak, diangkut jauh dari tanahnya,
Menjadi tangan dan kaki bagi tuan-tuan asing,
Menukar emas mereka dengan rantai di leher sendiri.
Dan kini—lihatlah warisannya,
Dulu diikat di geladak kapal VOC,
Sekarang mengemis sejengkal tanah,
Meminta jadi bagian program transmigrasi,
Di media sosial, mereka tampil
Bagaikan pahlawan tanpa gelar,
Berteriak lantang di layar kaca
Namun di bumi nyata, segenggam tanah pun tiada,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Dengan Sopan dan santun