Buya Hamka dan Mr. M. Yamin
Ketidakharmonisan hubungan Buya Hamka dengan Mr. M. Yamin sepertinya bermula pada waktu sidang Konstituante. Pada waktu itu Buya Hamka menyampaikan pendapat beliau mengenai Dasar Negara. Mungkin pendapat Buya Hamka terlalu keras dinilai oleh Mr. M. Yamin. Mereka berdua memang berada pada partai yang berlawanan. Irfan Hamka menceritakan lengkapnya di buku "Ayah, Kisah Buya Hamka".
Sejak kejadian tersebut Mr. M. Yamin bersikap dingin terhadap Buya Hamka, ketika mereka bertemu di berbagai tempat baik acara resmi, seminar kebudayaan, atau pada sidang-sidang Konstituante.
Pada suatu kali Buya K.H Isa Ansani seorang ulama yang bermukim di Bandung berkunjung ke rumah Buya Hamka. Pada kesempatan tersebut KH. Isa bertanya kepada Buya Hamka, apakah masih bersitegang dengan Buya Hamka. Buya Hamka menjawab dengan ringan rupanya sudah sampai ke hatinya dia membenci saya.
Pada tahun 1962 Mr. M. Yamin menderita sakit berat. Beliau dirawat di RSPAD. Suatu hari pak Chairul Saleh menelpon Buya Hamka. Chairul Saleh waktu itu menteri, kemudian menjadi Wakil Perdana Menteri III. Pak Chairul Saleh menyampaikan maksudnya mau berkunjung ke rumah Buya Hamka. Ada pesan dari pak M. Yamin. Mungkin pesan terakhir. Beliau minta saya menjemput Buya Hamka untuk saya ajak ke rumah sakit. Setelah ditanya Buya Hamka, pak Chairul Saleh menjelaskan bahwa pak Yamin ingin Buya Hamka yang menemani beliau menjelang ajalnya. Beliau juga berharap Buya mengantarkan jenazah beliau untuk
dimakamkan di kampung halaman beliau di Talawi, Sumatra Barat. Beliau sudah lama tidak pulang. Waktu peristiwa PRRI beliau ikut menyesalinya. Jadi beliau takut ditolak orang di kampungnya. Mendengar penjelasan pak Chairul tersebut, ayam terdiam sejenak, lalu minta segera dijemput untuk dibawa ke rumah sakit.
Sesampai Buya Hamka di rumah sakit, M. Yamin segera mengenalinya dan mengisyaratkan agar Buya Hamka mendekat. Terima kasih sudah datang, bisik M. Yamin. Buya Hamka lalu menyalami M. Yamin sambil mencium keningnya. Dampingi saya bisik M. Yamin. Buya Hamka lalu membimbing M. Yamin membaca al-fatihah dan bacaan2 lainnya, sambil tetap menggenggam tangan M. Yamin. Sampai kemudian genggaman M. Yamin mengendur. Kemudian dokter datang dan menyatakan bahwa Mr. M. Yamin sudah tidak ada lagi.
Keesokan harinya Buya Hamka mengantar jenazah M. Yamin ke Talawi Sumatra Barat. Pemakaman dilaksanakan secara kenegaraan, dengan inspektur upacara Menter Chairul Saleh. Sorenya Buya Hamka kembali lagi ke Jakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Dengan Sopan dan santun